kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kinerja reksadana saham jadi yang terburuk di industri reksadana 2019


Senin, 13 Januari 2020 / 07:15 WIB
Kinerja reksadana saham jadi yang terburuk di industri reksadana 2019
ILUSTRASI. Infovesta Utama

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Anna Suci

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seperti yang sudah diprediksi, kinerja reksadana saham menjadi yang paling buruk di tahun lalu. Kinerja reksadana saham yang kurang mumpuni terjadi di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh 1,70% di sepanjang tahun lalu. 

Berdasarkan data Infovesta Utama, rata-rata kinerja reksadana saham yang tercermin pada Infovesta Equity Fund Index 90 anjlok 8,41%. Ini jadi kinerja terburuk pada industri reksadana dalam negeri.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, di tahun lalu beberapa reksadana disinyalir berkinerja anomali dan turun lebih dari 50%. Alhasil kinerja reksadana saham jauh berada di bawah IHSG dan menyeret rata-rata kinerja reksadana saham secara keseluruhan.

Tak heran di tahun lalu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya menyemprit beberapa manajer investasi yang tidak bisa mengelola produk reksadana secara profesional. Wawan mengatakan, aksi bersih-bersih OJK ini akan membawa sentimen positif bagi pertumbuhan rata-rata kinerja reksadana saham di tahun ini. 

Baca Juga: Reksadana pendapatan tetap jadi reksadana paling untung di 2019

Wawan memproyeksi, IHSG di akhir tahun 2020 bisa naik 9% ke level 6.800. Sentimen positif yang mendorong berasal dari suku bunga turun yang bisa meningkatkan pertumbuhan kredit dan membawa pertumbuhan ekonomi di atas 5%. 

Selain itu, membaiknya harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) karena merespon penggunaan B20 dan B30 di dalam negeri dan Malaysia bisa mendorong perusahaan agrikultur untuk berkinerja lebih tinggi. 

Namun, tidak menutup mata, pasar modal dalam negeri masih bergantung pada porsi investor asing yang juga rawan terpengaruh kondisi geopolitik. Bila kondisi geopolitik global masih memanas, Wawan memperkirkan, IHSG bergerak sideways dan mentok tumbuh 3% hingga akhir tahun. 

Baca Juga: Lesu di 2019, reksadana saham berpeluang bangkit tahun ini

Sementara, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi memperkirakan, IHSG bisa tumbuh 5% dari posisi saat ini. Reza pun optimistis produk reksadana HPAM Smart Beta Ekuitas bisa memberikan alpha 3% hingga 5% terhadap IHSG. 

Infovesta mencatat, reksadana HPAM Smart Beta Ekuitas tumbuh 17,39% melebihi rata-rata kinerja rekadana saham dan IHSG. 

Di tengah kondisi yang belum pasti, Wawan menyarankan, investor condong bersikap konservatif. Alokasi portofolio yang disarankan adalah 50% di reksadana pendapatan tetap, 30% di reksadana pasar uang dan 20% di reksadana saham. 




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×