Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja yang mengesankan sepanjang tahun 2025, dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan meskipun menghadapi tekanan dari sisi operasional.
Berdasarkan laporan keuangan, INCO membukukan pendapatan sebesar US$ 990,19 juta pada 2025, meningkat 4,18% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan US$ 950,38 juta pada periode sebelumnya. Seiring dengan kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi US$ 879,34 juta dari sebelumnya US$ 842,16 juta.
Dari sisi operasional, beban usaha meningkat cukup tajam menjadi US$ 52,18 juta dari US$ 38,25 juta. Beban lainnya turut naik menjadi US$ 12,71 juta dari sebelumnya US$ 9,87 juta, sementara pendapatan lainnya tercatat naik tipis menjadi US$ 3,92 juta dari US$ 3,72 juta.
Kondisi ini menyebabkan laba usaha INCO turun menjadi US$ 41,43 juta dari sebelumnya US$ 63,82 juta. Penurunan ini mencerminkan tekanan operasional yang cukup besar sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Berpotensi Sideways di Tengah Tekanan Global
Namun demikian, kinerja laba bersih tetap menunjukkan peningkatan kuat. Hal ini didukung oleh sejumlah pos non-operasional, seperti keuntungan dari pengakuan nilai wajar aset derivatif yang berbalik positif menjadi US$ 16,57 juta dari sebelumnya rugi US$ 19,94 juta. Selain itu, pendapatan keuangan juga meningkat menjadi US$ 37,26 juta dari US$ 36,2 juta.
INCO juga mencatat keuntungan dari nilai wajar investasi saham sebesar US$ 6,68 juta serta kontribusi laba dari entitas asosiasi sebesar US$ 607 ribu. Dengan dukungan faktor-faktor tersebut, laba sebelum pajak meningkat menjadi US$ 94,53 juta dari US$ 74,06 juta.
Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar US$ 18,47 juta, laba tahun berjalan alias laba bersih INCO mencapai US$ 76,06 juta, melonjak 31,68% dari US$ 57,76 juta pada tahun sebelumnya.
Kinerja Operasional dan Produksi Nikel 2025
Presiden Direktur INCO, Bernardus Irmanto, menyampaikan bahwa kinerja operasional perusahaan tetap solid sepanjang tahun lalu.
Produksi nikel matte tercatat mencapai 72.027 metrik ton pada 2025, meningkat dari 71.311 ton pada 2024. Secara triwulanan, produksi pada kuartal IV-2025 mencapai 17.052 ton, turun sekitar 12% dibandingkan kuartal III-2025 sebesar 19.391 ton.
Penurunan ini disebabkan oleh pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November 2025 dan ditargetkan rampung pada Mei 2026. Meski demikian, secara tahunan produksi tetap lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
"Hasil ini mencerminkan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga keandalan operasional dan mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun," kata Bernardus dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).
Selain itu, penjualan bijih nikel saprolit juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, penjualan mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan kontribusi terbesar berasal dari Blok Bahodopi.
Baca Juga: Rekomendasi Saham Pasca Libur Lebaran: Simak Prospek BBTN, AMRT, dan EXCL
Pengiriman nikel matte turut meningkat menjadi 73.093 ton dari 72.625 ton pada 2024, menopang EBITDA perusahaan yang tetap solid di level US$ 228,2 juta.
Namun, harga realisasi rata-rata nikel matte turun 7% menjadi US$ 12.157 per ton dari US$ 13.086 per ton pada tahun sebelumnya. Meski harga melemah, peningkatan volume pengiriman dan payability sejak Juli 2025 membantu menjaga pertumbuhan pendapatan.
Secara triwulanan, pendapatan mencapai US$ 284,8 juta, naik 2% dibandingkan kuartal sebelumnya seiring pemulihan moderat harga nikel.
"Hal ini menegaskan komitmen kuat perusahaan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang serta keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri,” ucap Bernardus.
Efisiensi Biaya dan Belanja Modal Meningkat
Dari sisi biaya, INCO berhasil menjaga efisiensi meskipun melakukan pemeliharaan besar. Unit biaya kas penjualan tercatat sebesar US$ 9.339 per ton pada 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada tahun sebelumnya.
Capaian ini menjadi level biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun signifikan dari sekitar US$ 11.201 per ton pada 2022.
Untuk bisnis bijih nikel, unit biaya kas tetap stabil di kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, mencerminkan efisiensi operasional yang konsisten.
Sepanjang 2025, INCO mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 485,9 juta, meningkat 46% dibandingkan US$ 332,1 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama digunakan untuk proyek pengembangan dan kebutuhan sustaining capital.
Prospek INCO 2026: Fokus Hilirisasi dan Ekspansi
Memasuki 2026, INCO semakin memperkuat strategi pengembangan proyek hilirisasi, termasuk di Pomalaa yang telah mencapai progres sekitar 60%.
Selain itu, proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) juga menunjukkan kemajuan signifikan dengan tingkat konstruksi sekitar 50% dan target penyelesaian mekanis pertama pada kuartal III-2026.
"Seluruh inisiatif strategis tersebut terus dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen yang teguh terhadap keberlanjutan jangka panjang," tutupnya.
Baca Juga: Jadwal Libur Bursa Maret 2026: Ada Nyepi dan Lebaran, Kapan BEI Buka?
Pandangan Analis: Prospek Positif, Namun Waspadai Koreksi
Equity Analyst MNC Sekuritas, Raka Junico, menilai penjualan bijih nikel menjadi faktor penopang kinerja INCO di tengah penurunan harga global.
“Strategi ini efektif dalam menjaga pertumbuhan pendapatan perusahaan,” tulis Raka dalam risetnya, Selasa (17/3/2026).
Ia juga menilai INCO berhasil menjaga efisiensi biaya meskipun tengah melakukan perbaikan fasilitas utama. Ke depan, proyek besar di Pomalaa dan Sorowako diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat pada 2029.
Sementara itu, Senior Teknikal Analis Sucor Sekuritas, Reyhan Pratama, melihat saham INCO masih berada dalam tren naik secara teknikal, meskipun saat ini memasuki fase koreksi jangka pendek.
“Koreksi diperkirakan masih berlanjut dengan potensi penurunan menuju area support di kisaran Rp4.800–Rp5.000 per saham,” ujar Reyhan.
Ia merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see hingga tekanan koreksi mereda atau harga mendekati area support tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- INCO
- PT Vale Indonesia Tbk
- MNC Sekuritas
- nickel matte
- hilirisasi nikel
- Sucor Sekuritas
- HPAL
- Nikel Matte
- Bernardus Irmanto
- Bijih Nikel Saprolit
- harga saham INCO
- kinerja INCO
- Laba Bersih INCO 2025
- Pendapatan INCO
- Produksi Nikel INCO
- EBITDA INCO
- Belanja Modal INCO
- Proyek Pomalaa
- Proyek HPAL
- Analisis Saham INCO
- Rekomendasi INCO
- Beban Operasional INCO
- Dividen INCO
- Strategi INCO













