Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT PT Petrosea Tbk (PTRO) pada 2026 dinilai masih menarik seiring langkah ekspansi perusahaan ke sektor tambang emas di Papua Nugini melalui investasi di Tolu Minerals Limited.
PTRO diketahui telah menuntaskan proses penawaran mengikat (binding offer) dengan Tolu Minerals Limited pada 20 April 2026.
Dalam transaksi tersebut, Petrosea mengantongi convertible note senilai AUS$ 23,75 juta. Investasi ini sekaligus membuka peluang kerja sama operasional di sektor tambang emas.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, ekspansi tersebut berpotensi memperkuat diversifikasi bisnis PTRO yang selama ini dikenal sebagai pemain utama di sektor jasa pertambangan batubara.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (13/5): Turun Rp 20.000 Jadi Rp 2.839.000 Per Gram
“Prospek 2026 cukup menarik. Profitabilitas bisa optimal kalau proyek-proyek baru sudah mulai berkontribusi,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Meski demikian, ia menilai investasi PTRO di Tolu Minerals belum akan memberikan kontribusi pendapatan langsung dalam jangka pendek.
Pasalnya, investasi tersebut masih berbentuk instrumen finansial yang berpotensi dikonversi menjadi ekuitas maupun kontrak jasa pertambangan di masa mendatang.
Menurut Wafi, katalis utama kinerja PTRO saat ini tetap berasal dari backlog kontrak jangka panjang yang solid. Hal tersebut dinilai memberikan visibilitas pendapatan yang kuat bagi perseroan untuk beberapa tahun ke depan.
Selain itu, sentimen harga emas global yang masih tinggi di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut menjadi faktor positif bagi narasi diversifikasi emas PTRO.
“Harga emas global yang tinggi menguntungkan narasi diversifikasi emas PTRO meski revenue dari Tolu belum masuk dalam waktu dekat,” katanya.
Di sisi lain, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, juga mencermati kinerja PTRO akan ditopang sejumlah katalis positif.
Pertama, monetisasi backlog yang berasal dari kontrak jangka panjang bersama Freeport Indonesia dan Bara Prima Mandiri.
Kedua, akselerasi segmen engineering, procurement, construction, and installation (EPCI) melalui integrasi Hafar dan Scan-Bilt, yang tercermin dari raihan kontrak Petronas senilai US$ 9,5 juta.
Selain itu, perusahaan juga memperluas ekspansi internasional ke Pakistan melalui proyek engineering, procurement, and construction (EPC) bersama Reko Diq Mining Company.
Meski demikian, perusahaan masih menghadapi sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Perubahan regulasi di sektor pertambangan domestik dinilai menjadi tantangan utama, terutama terkait potensi pemangkasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) serta kenaikan pajak yang dapat mengurangi minat investasi pada proyek tambang baru.
Baca Juga: Bursa Asia Goyah di Pagi Ini (13/5), Indeks Taiex Turun Paling Dalam
Wafi juga mengingatkan sejumlah risiko, antara lain tingginya beban bunga dan risiko operasional di wilayah baru seperti Papua Nugini.
Untuk rekomendasi investasi, Wafi memberikan rekomendasi saham buy terhadap saham PTRO dengan target harga Rp 8.000 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













