Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten-emiten Grup Pertamina terlihat bervariasi pada kuartal I-2026. Namun, mereka tetap memperlihatkan posisi bottom line yang solid dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Dalam catatan Kontan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan kenaikan pendapatan 14,83% year on year (yoy) menjadi US$ 116,56 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PGEO juga meningkat 40,01% yoy menjadi US$ 31,37 juta.
Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mengalami penurunan pendapatan 3,83% yoy menjadi US$ 929,56 juta pada kuartal I-2026. Kendati demikian, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PGAS melonjak 45,84% yoy menjadi US$ 90,45 juta.
Baca Juga: Telkom (TLKM) Siapkan Rp 1 Triliun Untuk Buyback Saham
PT Elnusa Tbk (ELSA) juga mengalami penurunan pendapatan 2,95% yoy menjadi Rp 3,62 triliun pada kuartal I-2026. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ELSA menanjak 1,56% yoy menjadi Rp 189,56 miliar.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, ketidakpastian geopolitik internasional mendorong repricing risiko Indonesia secara luas dan memengaruhi sentimen investor terhadap pasar domestik. Meski demikian, emiten Grup Pertamina dianggap tetap mampu mempertahankan performa yang relatif kuat berkat fundamental operasional yang konsisten, posisi sektor energi yang defensif, serta prospek jangka panjang yang didukung kebutuhan energi nasional.
Dia juga menegaskan bahwa dinamika pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi tekanan eksternal dibandingkan kondisi bisnis inti perusahaan. “Emiten Pertamina Group tetap menunjukkan kekuatan bisnis yang resilien, dengan kinerja operasional yang solid serta peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional,” ujar dia dalam keterangan resmi, Sabtu (2/5).
Dalam menghadapi dinamika geopolitik global, lanjut Baron, Grup Pertamina terus menjalankan strategi dual growth dengan menjaga stabilitas bisnis utama sekaligus mempercepat pengembangan energi rendah karbon guna memperkuat daya saing perusahaan dan menciptakan nilai berkelanjutan untuk masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Siap Terbitkan Obligasi Rp 1,84 Triliun
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, perbedaan kinerja PGEO, PGAS, dan ELSA sangat dipengaruhi oleh karakter bisnis masing-masing.
PGEO mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih karena produksi listrik panas bumi yang relatif stabil dan bersifat kontrak jangka panjang (take or pay), ditambah adanya peningkatan kapasitas produksi serta efisiensi biaya operasional.
“Margin PGEO juga cenderung lebih tebal karena tidak terlalu terpapar volatilitas harga energi global seperti minyak,” kata dia, Jumat (1/5/2026).
Sebaliknya, penurunan pendapatan PGAS disebabkan tekanan volume distribusi gas dan penyesuaian harga jual, terutama karena kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang membatasi harga ke sektor industri. Walau begitu, laba bersih emiten ini tetap naik karena efisiensi beban dan potensi keuntungan kurs.
Adapun penyebab penurunan pendapatan ELSA yakni lantaran aktivitas jasa migas cenderung masih fluktuatif pada awal tahun. Namun, perbaikan margin, efisiensi proyek, dan kontribusi bisnis dengan nilai tambah lebih tinggi mampu mengangkat laba bersih mereka.
Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, kinerja bottom line PGAS dan ELSA masih kuat berkat efisiensi biaya, perbaikan margin, dan beberapa keuntungan dari kegiatan non-operasi.
Potensi peningkatan kinerja emiten-emiten Grup Pertamina masih sangat terbuka selepas kuartal I-2026. PGEO misalnya, mereka diuntungkan oleh serangkaian proyek pembangkit panas bumi yang mulai beroperasi, sehingga mempercepat potensi pertumbuhan. Di samping itu, ELSA diuntungkan oleh harga minyak tinggi dan kenaikan aktivitas jasa migas di pertengahan tahun.
“PGAS tampak lebih defensif tapi ruang kenaikan kinerjanya terbatas, karena ada HGBT dan fluktuasi harga LNG (Liquefied Natural Gas),” tutur dia, Kamis (30/4).
Baca Juga: Bakrie & BRothers (BNBR) Catat Pendapatan Rp 1,13 Triliun pada Kuartal I-2026
Hendra juga menyebut, katalis pertumbuhan kinerja emiten Grup Pertamina berbeda-beda. PGEO berpotensi melanjutkan pertumbuhan seiring bertambahnya proyek panas bumi yang mulai beroperasi (on stream), sehingga kapasitas terpasang meningkat dan memberikan tambahan recurring income yang stabil.
PGAS dihadapkan oleh tantangan struktural dari regulasi harga gas domestik dan fluktuasi harga LNG global, namun tetap memiliki peluang dari peningkatan permintaan gas jangka panjang dan ekspansi infrastruktur.
Di sisi lain, ELSA menjadi emiten yang paling sensitif terhadap siklus harga minyak. Ketika harga minyak global menguat, maka aktivitas eksplorasi dan produksi migas biasanya meningkat sehingga akan berdampak positif pada permintaan jasa ELSA.
“Artinya, jika tren harga minyak tetap tinggi, ELSA berpotensi mencatat pemulihan top line yang lebih signifikan pada kuartal berikutnya,” jelas dia.
Sementara menurut Wafi, PGEO berpeluang menjadi emiten Grup Pertamina dengan kinerja terbaik pada 2026 berkat narasi pertumbuhan yang kuat seiring ekspansinya di sektor panas bumi. ELSA juga berpeluang moncer jika harga minyak dunia bertahan di level yang tinggi. Kinerja PGAS diperkirakan cenderung stabil, namun potensi pertumbuhannya relatif terbatas.
“Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah dinamika harga energi, regulasi pemerintah, dan eksekusi proyek,” terang dia.
Wafi pun merekomendasikan beli saham PGEO dengan target harga di level Rp 1.600 per saham, serta hold saham ELSA dan PGAS dengan target harga masing-masing di level Rp 600 per saham dan Rp 1.600 per saham.
Di lain pihak, Hendra menyebut saham PGEO cocok untuk investor yang mengincar stabilitas, sedangkan ELSA tepat untuk mengincar momentum kenaikan harga komoditas dan PGAS dapat dijadikan peluang untuk trading berbasis sentimen.
Saham PGEO ditargetkan bergerak ke area Rp 920 per saham, sementara ELSA berpotensi melaju ke level Rp 825 per saham. Adapun saham PGAS berpeluang bergerak ke kisaran level Rp 2.050 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












