kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45689,61   -8,12   -1.16%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kesepakatan beli energi dari China belum tentu mengerek harga minyak


Jumat, 17 Januari 2020 / 19:56 WIB
Kesepakatan beli energi dari China belum tentu mengerek harga minyak
ILUSTRASI. Harga minyak dunia mencari arah baru pasca-penandatanganan kesepakatan AS–China.

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia mencari arah baru pasca-penandatanganan kesepakatan Amerika Serikat (AS)–China. Pada Jumat (17/1) pukul 18.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange menguat 0,48% ke level US$ 58,80 per barel.

Meski menguat, harga minyak berpotensi turun lagi dengan kekhawatiran sulitnya ekonomi China melesat setelah mencatat laju terburuk dalam 29 tahun terakhir. Analis PT Finex Berjangka Nanang Wahyudin menyebutkan, kesepakatan dagang AS–China justru bisa berdampak negatif terhadap harga minyak dunia.

Banyak pihak memprediksi permintaan produk energi seperti minyak dan gas alam cair akan meningkat. China diharuskan membeli produk energi tersebut selama dua tahun dari AS dengan nilai lebih dari US$ 50 miliar. “Namun sepertinya pihak China dinilai akan sedikit kesulitan memenuhi perjanjian tersebut. Dengan demikian harga minyak bisa saja tergelincir lagi,” terang Nanang kepada Kontan.co.id, Jumat (17/1).

Baca Juga: Harga minyak dibayangi sentimen sesaat

Nanang menambahkan, jika terjadi lonjakan pembelian produk energi dari AS dapat mengguncang aliran perdagangan minyak mentah global. Apalagi jika AS menekan saingannya keluar dari pasar impor minyak.

Sementara itu, analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menilai, sentimen negatif juga datang dari kondisi suplai minyak dunia yang ditengarai masih berlebih. Energy Information Administration (EIA) AS menyebut dalam dua pekan ini secara berturut-turut menyebut persediaan minyak AS mencapai 14 juta barel.

“Kebijakan OPEC untuk memangkas produksi minyak justru dimanfaatkan AS untuk masuk ke market share OPEC. Dengan pengambilalihan tersebut, maka yang terjadi adalah oversupply,” jelas Wahyu.

Baca Juga: Arab Saudi bayar tentara Amerika Serikat Rp 7 triliun di tahun lalu

Permintaan pasar pun sejauh ini masih tersendat akibat perang dagang antara AS–China. Wahyu menilai setiap terjadinya kenaikan harga akan diiringi dengan peluang koreksi. Sebab dari stochastic sudah terlihat oversold. Sehingga level US$ 50 per barel–US$ 60 per barel masih menjadi gravitational area.

Sedangkan Nanang melihat peluang naik masih terbatas. Indikator stochastic yang sudah golden cross dan menguji di level US$ 60,16. Namun penurunan jangka pendek juga masih berpotensi terjadi karena harga sudah di bawah moving average (MA)13 dan MA26. Dengan dukungan MACD di zona negatif dan RSI bergerak turun di 42.

Nanang memproyeksikan harga minyak cenderung bergerak dengan resistance US$ 60,16 dan US$ 60,94 per barel. Sedangkan untuk support berada di US$ 57,03 dan US$ 56,25.




TERBARU

Close [X]
×