kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.404.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.195
  • IDX 7.294   -26,58   -0,36%
  • KOMPAS100 1.142   -7,10   -0,62%
  • LQ45 920   -3,25   -0,35%
  • ISSI 218   -1,41   -0,64%
  • IDX30 460   -1,72   -0,37%
  • IDXHIDIV20 554   -0,98   -0,18%
  • IDX80 128   -0,53   -0,41%
  • IDXV30 130   0,41   0,32%
  • IDXQ30 155   -0,33   -0,21%

Kenaikan permintaan menyokong harga batubara


Minggu, 29 April 2018 / 14:22 WIB
Kenaikan permintaan menyokong harga batubara
ILUSTRASI. Bongkar muat batubara di Pelabuhan Tj Priok


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Batubara terus menunjukkan sinyal penguatan harga sejak awal pekan lalu. Tren positif minyak mentah dunia dan naiknya permintaan menjadi katalis positif yang berhasil mengangkat harga.

Mengutip Bloomberg, harga batubara kontrak pengiriman Juni 2018 di ICE Futures Exchange tercatat menguat 1,48% ke level US$ 96,30 per metrik ton pada Jumat (27/4) ketimbang hari sebelumnya. “Kenaikan harga batubara ini tak lepas dari kenaikan minyak,” ungkap Deddy Yusuf Siregar, Analis PT Asia Tradepoint Futures kepada Kontan.co.id akhir pekan lalu.

Walaupun pada penutupan perdagangan Jumat (27/4) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Juni 2018 terkoreksi 0,13% ke level US$ 68,10 per barel tetapi ini tetap tak mengubah tren harga. Kata Deddy selama minyak masih bertengger di atas level US$ 66 per barel itu tetap menjadi katalis positif bagi batubara.

Selain itu batubara juga masih ditopang tingginya permintaan dari kawasan Asia. Berkurangnya permintaan China akibat pembatasan impor justru menjadi katalis positif bagi India untuk meningkatkan impor batubara asal Australia.

Data pelacakan kapal dan pelabuhan menunjukkan bahwa India mengimpor 44,8 juta ton batubara selama kuartal I 2018. Namun jika dibandingkan rata-rata per bulannya, dalam tiga bulan awal ini masih lebih rendah dari tahun 2017.Tahun lalu tingkat rata-ratanya mencapai 15,3 juta ton dan tahun ini menjadi 14,9 juta ton.

“Permintaan cukup tinggi juga datang dari Jepang, Korea Selatan dan Taiwan,” kata Deddy.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis PT Central Capital Futures cenderung melihat kenaikan ini terjadi karena pembatasan impor China tak sepenuhnya berhasil. Meski laporan Bea Cukai Chiba menyebutkan terjadinya penurunan impor sekitar 28% menjadi 12,05 juta ton selama kuartal I 2018, impor di bulan Maret tetap melonjak.

Selama bulan lalu dilaporkan impor naik 38% menjadi 4,02 juta ton dari Februari sebanyak 2,91 juta ton. "Permintaan tetap tumbuh jadi wajar kalau harga naik," terangnya.

Padahal seharusnya pembatasan impor ini dapat menjadi katalis negatif bagi harga. Pasalnya beberapa pelabuhan di China mulai memberlakukan larangan bongkar muat seperti di pelabuhan Chuanshon, di pelabuhan Ningbo dan di pelabuhan Zhoushan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Pre-IPO : Explained Supply Chain Management on Efficient Transportation Modeling (SCMETM)

[X]
×