kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kenaikan Bunga Obligasi Korporasi Diprediksi Terbatas Pada Semester II-2023


Senin, 12 Juni 2023 / 19:17 WIB
Kenaikan Bunga Obligasi Korporasi Diprediksi Terbatas Pada Semester II-2023
ILUSTRASI. Kenaikan suku bunga acuan yang berlanjut di tahun 2023 turut mengerek tingkat bunga obligasi korporasi.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan yang berlanjut di tahun 2023 turut mengerek tingkat bunga obligasi korporasi. Hal ini terindikasi dari naiknya kupon yang dibayarkan oleh perusahaan penerbit surat utang.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat, kenaikan kupon obligasi korporasi tenor 3 tahun yang diterbitkan selama Januari-April 2023 berkisar 60 bps hingga 80 bps. Sementara itu, kenaikan kupon obligasi dengan tenor 1 tahun bisa di atas 100 bps.

Sebagai contoh, rata-rata kupon surat utang korporasi berperingkat AAA dengan tenor 1 tahun naik dari 4,0% menjadi 6,1%. Sementara itu, untuk peringkat BBB dengan tenor yang sama, persentasenya naik dari 6,7% menjadi 7,0%.

Kemudian, rata-rata kupon surat utang korporasi berperingkat AAA dengan tenor 3 tahun naik dari 6,2% menjadi 6,8%. Sementara itu, untuk peringkat BBB dengan tenor 3 tahun, persentase kuponnya naik dari 10,5% menjadi 11,3%.

Baca Juga: Imbal Hasil Produk Untilink Masih Stabil di Bulan Mei 2023

Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro mengatakan, kenaikan kupon obligasi korporasi sejalan dengan naiknya yield obligasi negara. Menurut Nico, yield obligasi negara juga cenderung naik untuk tenor 1-3 tahun.

Hal ini terjadi karena adanya prediksi bahwa Bank Indonesia melakukan kebijakan operation twist dengan menjual Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek dan membeli di tenor panjang.

"Hal ini dilakukan agar yield obligasi tenor pendek naik dan sanggup mendongkrak minat investor asing sehingga dapat mendorong pula stabilisasi rupiah jika asing berlanjut masuk," kata Nico saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (12/6).

Untuk ke depannya, Nico memprediksi kenaikan kupon obligasi korporasi akan lebih terbatas. Bahkan, dia melihat yield obligasi korporasi di semester kedua akan turun dibanding semester pertama 2023.

Baca Juga: Pemerintah akan Lelang SUN dengan Target Indikatif Rp 22,5 Triliun pada Selasa (13/6)

Pasalnya, risiko inflasi kemungkinan akan semakin mereda pada paruh kedua tahun ini. "Begitu pula dengan risiko kenaikan suku bunga, mengingat The Fed maupun BI dinilai sudah mencapai level puncak kenaikan suku bunganya," ucap Nico.

Jika ingin mendapatkan kupon yang lebih tinggi, investor bisa memilih berinvestasi di obligasi korporasi dibanding obligasi negara. Akan tetapi, perlu diingat bahwa risikonya juga biasanya lebih tinggi.

Menurut Nico, obligasi korporasi yang menarik adalah yang mempunyai peringkat minimal A+. Dengan catatan, industri sektoral dalam kondisi yang tangguh dan emiten tersebut memiliki fundamental yang bagus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×