Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih berada di bawah tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan ketidakpastian global.
Kondisi ini tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang naik ke kisaran 6,34% pada Kamis (22/1/2026), dari level 6,04% di awal tahun 2026.
Tekanan juga terlihat di pasar perdana. Pemerintah hanya menyerap dana sebesar Rp 36 triliun dari lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) pada 20 Januari 2026.
Baca Juga: Purbaya: Pertukaran Pejabat Tak Ganggu Independensi BI
Total penawaran yang masuk tercatat Rp 82,90 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya pada 6 Januari 2026 yang mencapai Rp 90,96 triliun.
Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menilai, tekanan di pasar SBN saat ini merupakan akumulasi sentimen negatif global yang merembet ke pasar domestik.
Dari sisi eksternal, gejolak di pasar obligasi Jepang menjadi salah satu pemicu utama. Lonjakan yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun, menyusul rencana stimulus fiskal besar-besaran oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan beban utang global.
Selain itu, ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Eropa terkait ketegangan Greenland serta menguatnya sentimen “Sell America” turut memperburuk kinerja pasar obligasi negara maju.
Baca Juga: Independensi BI
Kondisi tersebut pada akhirnya menekan minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, Ahmad menyoroti pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Juda Agung sebagai sentimen negatif tambahan.
Menurutnya, langkah tersebut dipersepsikan pasar sebagai kemunduran independensi BI dan mengandung muatan politik yang lebih kuat dibandingkan pencalonan sebelumnya.
Adapun penurunan permintaan lelang SUN dinilai tidak semata-mata mencerminkan lemahnya minat investor. Ahmad menjelaskan, sebagian investor melakukan rotasi aset ke pasar ekuitas maupun obligasi korporasi yang dinilai menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.
“Selain itu, saya menilai adanya arus keluar modal asing yang signifikan, mencapai Rp 8,15 triliun pada pertengahan Januari 2026 akibat kenaikan tensi geopolitik, menjadi faktor utama yang menekan permintaan di pasar perdana,” ujar Ahmad kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: Ekonom Asing Prediksi BI Bakal Tahan Suku Bunga, Isu Independensi Mengemuka
Meski demikian, Ahmad mengingatkan, penawaran masuk yang rendah belum tentu akibat rendahnya partisipasi. Ia mencatat, bid-to-cover ratio lelang SUN sepanjang Januari 2026 masih berada di level 2,6 kali.
“Artinya, jumlah penawaran yang masuk masih 2,6 kali dari jumlah yang dimenangkan. Ini menunjukkan partisipasi investor sebenarnya masih cukup solid,” ujarnya.
Lebih dalam tekanan terhadap pasar SBN juga diperparah oleh volatilitas nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 17.000 per dolar AS pada pekan kemarin.
Ahmad menilai, fluktuasi rupiah merupakan faktor risiko signifikan yang memengaruhi perilaku investor asing.
Dalam jangka pendek, pelemahan rupiah mendorong investor meminta premi risiko lebih tinggi, yang tercermin dari kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke kisaran 6,3%.
Ia menambahkan, volatilitas kurs berpotensi meningkatkan biaya dana pemerintah. Saat ini, beban bunga telah mencapai sekitar 14,51% dari total pendapatan negara.
Oleh karena itu, ketidakstabilan nilai tukar dapat membatasi efektivitas kebijakan moneter akomodatif Bank Indonesia dalam menekan imbal hasil obligasi, meskipun inflasi masih terkendali.
Baca Juga: RUU P2SK Bisa Gerogoti Independensi BI, Indef Beri Saran Ini
Ke depan, Ahmad menilai minat investor terhadap SUN akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan tensi geopolitik global serta keberlanjutan siklus pelonggaran moneter di Amerika Serikat.
Dari sisi domestik, arah kebijakan fiskal dan suku bunga menjadi faktor kunci, termasuk komitmen BI menjaga spread suku bunga yang kompetitif terhadap US Treasury.
Ia juga menekankan pentingnya disiplin fiskal pemerintah dalam menjaga rasio utang di level sekitar 40,48%, serta langkah-langkah proaktif seperti debt swap dan buyback sebagai faktor pendukung kepercayaan investor asing.
Untuk kuartal I 2026, Ahmad memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun bergerak di kisaran 6,10% hingga 6,30%. Meski masih berfluktuasi dalam jangka pendek, ia optimistis tren jangka panjang hingga akhir 2026 akan menurun menuju level 5,8%.
Selanjutnya: 18 Januari: Hari Agama Sedunia, Ketahui Makna dan Sejarah Dibalik Peringatan Tersebut
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Bank Indonesia
- nilai tukar rupiah
- Obligasi Pemerintah
- rupiah
- Thomas Djiwandono
- kurs rupiah
- Donald Trump
- pasar obligasi
- lelang SUN
- surat utang negara
- SBN
- Arus modal asing
- kebijakan moneter
- geopolitik
- Ahmad Nasrudin
- Surat Berharga Negara
- BI
- Risiko Fiskal
- Yield SBN
- Disiplin Fiskal
- Investasi SBN
- pasar perdana SBN
- proyeksi SBN













