Reporter: Ahmad Febrian, Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan menghadapi tahun yang sulit pada tahun 2025 akibat sejumlah faktor. James Stanley Widjadja, Analis Henan Putihrai Sekuritas dalam riset pada 5 Januari 2026 mengatakan, tahun 2025 merupakan tahun yang sulit bagi sektor perbankan Indonesia.
Daya beli yang lemah menyebabkan penurunan kualitas aset di segmen usaha kecil dan menengah (UKM) dan segmen konsumer. Secara keseluruhan, pertumbuhan pinjaman yang lemah, kompresi net interest margin (NIM), dan biaya penyisihan yang lebih tinggi menyebabkan tekanan laba per saham atau earnings per share (EPS) untuk sektor perbankan.
James melihat data Oktober dan November 2025 terlihat kondisi likuiditas untuk bank-bank besar membaik. Ia percaya kondisi ini akan memicu pemulihan laba per saham (EPS) dalam beberapa kuartal mendatang. Meskipun masih ada beberapa tantangan terkait imbal hasil aset dan kualitas aset.
Pemulihan itu terlihat di Bank Central Asia, Budi Rustanto, Kepala Riset OCBC Sekuritas mencatat, berdasarkan laporan keuangan bulanan, emiten berkode saham BBCA itu mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan terbesar pada sepuluh bulan di 2025 sebesar 4,4%. Sementara bank-bank besar lainnya mengalami kontraksi.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham ADRO, BBCA, ESSA dan MAPI untuk Perdagangan Jumat (23/1)
Kebijakan makroekonomi menjadi katalis yang memengaruhi lanskap perbankan di tahun 2026. Nah, di awal 2026, saham BBCA kembali menarik perhatian setelah pergerakannya sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Meski demikian, analis menilai tekanan jual terhadap saham BBCA mulai berkurang jelang laporan keuangan full year 2025.
Pada perdagangan Jumat (23/1/2026), harga saham BBCA sempat menyentuh Rp7.550, level terendah sejak 17 Oktober 2025. Sebelum ditutup pada level Rp 7.650. Volume perdagangan mencapai 2,03 juta lot dengan nilai transaksi Rp1,55 triliun.
Analis Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan menilai, pelemahan harga saham BBCA sejalan dengan pelemahan yang terjadi secara sektoral. Menurutnya, secara historis harga saham BBCA sudah relatif murah dan berpeluang untuk rebound.
“Potensi penurunan saham ini sudah lebih kecil dibandingkan potensi kenaikannya, karena valuasi yang sudah relatif diskon sedangkan fundamental perusahaan masih solid," ujar Jonathan, dalam keterangannya, Minggu (25/1).
Dia melihat pelaku pasar saat ini sedang menantikan laporan keuangan full year 2025. Bila hasilnya sesuai ekspektasi, maka akan menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga saham. "Hingga November 2025, BBCA menjadi satu-satunya bank KBMI 4 yang mencatatkan kenaikan laba bersih,” ujarnya.
Baca Juga: Mulai Bangkit Awal 2026, Sudah Waktunya Koleksi Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI?
Pada November 2024, laba BCA tercatat mencapai Rp 50,47 triliun. Pertumbuhan laba bank swasta ini terdorong oleh pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) yang tercatat 4,1% yoy menjadi Rp 73,03 triliun per November 2025.
Jonathan mengatakan, sentimen positif berikutnya adalah pertumbuhan kinerja BBCA pada 2026 yang diprediksi lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor-faktor seperti menjaga pangsa pasar dana murah atau CASA, kontribusi pendapatan berbasis fee, serta efisiensi biaya operasional menjadi elemen penting yang akan mempengaruhi kinerja keuangan perseroan.
"BBCA melakukan konsolidasi dengan menjaga pertumbuhan kredit secara prudent pada 2025 serta memperbesar pencadangan untuk antisipasi risiko. Tahun 2026 bila produk domestik bruto meningkat, maka BBCA akan tumbuh lebih tinggi lagi," ujarnya.
Terakhir, kata Jonathan, sentimen dividen tetap menjadi bagian dari pertimbangan investor, selain kinerja operasional. Selama ini, BBCA dikenal memiliki histori pembayaran dividen yang relatif stabil dan menarik. Dalam 3 tahun terakhir dividend payout ratio minimal di 65%
Baca Juga: BBCA dan BMRI Teratas, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir
"Ekspektasi pasar terhadap pembagian dividen di 2026 menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh pemegang saham jangka panjang," ujarnya.
Budi menyematkan buy BBCA dengan target harga 11.000. David Kurniawan, Analis Indo Premier Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy di target harga Rp 10.000
Sementara konsensus analis di Bloomberg yang memberikan rekomendasi buy sebanyak 92%, dan hold 8%. Dalam hal ini, tidak ada analis yang memberikan rekomendasi sell. Rata-rata target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan pada harga Rp10.800.
Selanjutnya: Yen Jepang Menguat Senin (26/1), Pasar Waspadai Potensi Intervensi
Menarik Dibaca: Makan Berdua Jadi Super Hemat, Cek Promo Gokana & Ramen Ya! Sekarang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













