kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45906,49   -0,12   -0.01%
  • EMAS927.000 -0,43%
  • RD.SAHAM -0.33%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Jalankan proyek migrasi jaringan, Link Net (LINK) siapkan capex Rp 3 triliun


Minggu, 24 Januari 2021 / 20:12 WIB
Jalankan proyek migrasi jaringan, Link Net (LINK) siapkan capex Rp 3 triliun
ILUSTRASI. Link Net (LINK) menyiapkan belanja modal Rp 3 triliun untuk menjalankan proyek migrasi jaringan.

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyedia layanan televisi kabel dan internet dengan brand First Media, PT Link Net Tbk (LINK) akan melanjutkan proyek migrasi jaringan dari tiang listrik ICON+ milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) ke tiang milik sendiri. Saat ini, sekitar 47% jaringan Link Net masih menggunakan tiang listrik ICON+ dari sebelumnya sekitar 80%.

Sepanjang tahun 2020, Link Net telah memigrasi jaringan di 65.100 tiang ICON+. Pada 2021, Link Net menargetkan bisa memigrasi 200.000 tiang, lalu 100.000 tiang pada Januari-Mei 2022.

Presiden Direktur PT Link Net Tbk Marlo Budiman berharap 100% jaringan Link Net sudah pindah ke tiang milik perusahaan per Mei 2022 nanti. Menurut dia, migrasi jaringan ini sangat penting dilakukan demi meningkatkan kemandirian infrastruktur Link Net dan memberikan kepastian yang lebih besar bagi pemegang saham.

"Kami perlu mencapai independency supaya tidak tergantung dengan pihak ketiga," kata Marlo saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (24/1).

Baca Juga: Ada FOMC meeting di pekan depan, bagaimana efeknya ke IHSG?

Terlebih lagi, tarif sewa tiang ICON+ milik PLN naik dari 1,8% bersih menjadi 3,6% bersih. Tarif sewa tersebut dihitung dari pendapatan Link Net untuk jangka waktu lima tahun.

Khusus untuk proyek migrasi ini, Link Net mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 3 triliun. Sumber dananya berasal dari arus kas perusahaan dan fasilitas kredit. "Saat ini kami memiliki pinjaman bank Rp 1,5 triliun dan akan ditingkatkan jadi Rp 2,5 triliun untuk mendanai proyek ini," ungkap Marlo.

Menurut Marlo, Link Net tidak memiliki kendala untuk menambah pinjaman demi melancarkan proyek migrasi ini. Pasalnya, leverage ratio Link Net juga masih sangat rendah.

Marlo menyampaikan, rasio debt to EBIDTA Link Net saat ini berada di level 0,7 kali, sedangkan debt to EBITDA yang ideal bagi Link Net adalah 2 kali-3 kali. Bahkan, ia mengklaim, sejumlah bank besar nasional bisa memberikan pinjaman hingga debt to EBITDA mencapai 3 kali-4 kali.

Sayangnya, dengan adanya proyek migrasi jaringan yang memerlukan dana besar ini, jumlah buyback saham dan rasio pembayaran dividen Link Net ke depannya berpotensi lebih rendah. Meskipun begitu, keputusan final ini akan diambil setelah audit laporan keuangan untuk tahun 2020 selesai.

Sebagai gambaran, keseluruhan buyback saham Link Net selama 2016-2020 mencapai 261 juta unit saham dengan nilai total Rp 1,2 triliun dan harga rata-rata buyback Rp 4.206 per saham. Sementara itu, rasio pembayaran dividen Link Net untuk tahun buku 2017 adalah sebesar 50%, lalu 60% untuk tahun buku 2018, dan 55% untuk tahun buku 2019.

 

Selanjutnya: Pekan lalu merosot, bagaimana prospek IHSG sepekan ke depan?

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
(VIRTUAL) NEGOTIATION FOR EVERYONE Batch 2 Panduan Cepat Analisa Laporan Keuangan

[X]
×