Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.175
  • EMAS709.000 -0,56%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Jalan terjal emiten perkebunan tahun depan

Kamis, 30 November 2017 / 13:00 WIB

Jalan terjal emiten perkebunan tahun depan

Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik kelapa sawit PT Bakrie Sumatera Plantations (BSP) Kota Kisaran, Kabupaten Batu bara Sumatera Utara. Kapasitas terpasang pabrik kelapa sawit ini mencapai 45 ton TBS per jam. Pabrik ini mengolah buah sawit dari kebun BSP serbangan sei, Balai tanah raja, Gurah batu, Kuala Piasa. Selain mendapat pasokan sawit dari kebun sendiri BSP juga menyerap sawit hasil produksi dari petani diekitar pabrik BSP. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/04/12/2014


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor perkebunan menjadi salah satu penekan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2017 ini. Saham sektor ini sudah turun 9,07% sejak awal tahun.

Padahal sektor perkebunan mulai diuntungkan dengan meredanya efek El Nino. Tahun lalu, siklus alam ini membuat pendapatan emiten perkebunan banyak tertekan.

Beberapa emiten pun mulai menyusun strategi bisnis. Misalnya, PT Austindo Nusantara Jaya (ANJT), mulai fokus mengail pendapatan dari bisnis, selain sawit. Salah satunya dengan memperbesar pasar produk edamame.

Belum lama ini, ANJT memang mengganti bisnis penjualan tembakau menjadi bisnis edamame. "Kami akan fokuskan bisnis edamame pada pasar ekspor, terutama Jepang," kata Istini Tatiek Siddharta, Direktur Utama ANJT, di Jakarta, Rabu (29/11). Di sisi lain, ANJT akan tetap mengandalkan pendapatan utama dari bisnis sawit.

 

Prospek tahun depan

Thennesia Debora, Analis BNI Sekuritas, mengatakan, kinerja sektor perkebunan sejatinya masih akan positif tahun ini dan tahun depan. "Namun memang secara sektoral kami lebih memberikan outlook netral. Karena kami lihat masih ada beberapa tantangan," ujar dia.

Ia menyebutkan, harga crude palm oil (CPO) masih akan cenderung tertekan karena rilis data ekspor Malaysia yang menunjukkan penurunan. Secara historis, penjualan ekspor Malaysia sendiri cenderung turun. "Tahun 2018, akan ada lonjakan produksi. Sehingga dengan turunnya ekspor dari Malaysia ini makin menguatkan isu oversupply," imbuh Thennesia.

Berkurangnya efek El Nino juga membuat produksi cenderung meningkat. Sehingga, harga CPO di 2018 bisa lebih tertekan. "Perlu juga cermati kebijakan dari negara importir CPO. Misalnya India yang merupakan negara importir terbesar," kata dia.

Menurut analisa Thennesia, harga CPO tahun ini dan tahun depan masih cenderung berada di kisaran RM 2.700 per metrik ton. Meski dirundung isu oversupply, masih ada beberapa sentimen lain yang bisa menjadi sentimen positif bagi industri CPO.

Misalnya saja, rencana kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi memperkuat dollar Amerika Serikat. "Ekspektasi ada peningkatan suku bunga The Federal Reserve akan positif untuk harga CPO. Karena hal ini akan mengakibatkan penguatan dollar AS terhadap ringgit Malaysia," jelas Thennesia.

Selain itu, kebutuhan biodiesel dari dalam negeri meningkat. Sehingga akan mempengaruhi permintaan CPO domestik.

Frederick Daniel Tanggela, Analis Indo Premier Sekuritas, menyatakan, tahun 2018 bisa menjadi tahun yang lebih baik bagi industri sawit. Hal ini ditandai dengan munculnya potensi La Nina dengan presipitasi atau curah hujan tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Kondisi ini bagus untuk produksi kelapa sawit. "Potensi terjadinya La Nina meningkat, seiring suhu permukaan laut di daerah khatulistiwa di Samudra Pasifik, menurun," ujar Frederick dalam riset 1 November 2017.

Di antara beberapa emiten perkebunan, Thennesia merekomendasikan buy untuk saham PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 1.920 per saham dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 19.100 per saham.

Lalu, Frederick merekomendasikan buy bagi saham AALI dengan target harga sebesar Rp 19.000 per saham. Dia memprediksi, pendapatan AALI pada akhir 2017 mencapai Rp 16,33 triliun. Sedangkan pendapatannya pada 2018 mendatang bisa mencapai Rp 17,03 triliun.

 


Reporter: Dede Suprayitno
Editor: Sanny Cicilia
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0687 || diagnostic_web = 0.4011

Close [X]
×