kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.911   41,00   0,23%
  • IDX 5.672   -148,76   -2,56%
  • KOMPAS100 733   -19,19   -2,55%
  • LQ45 559   -13,70   -2,39%
  • ISSI 197   -4,60   -2,28%
  • IDX30 318   -7,29   -2,24%
  • IDXHIDIV20 392   -8,84   -2,21%
  • IDX80 83   -2,19   -2,56%
  • IDXV30 107   -1,62   -1,50%
  • IDXQ30 102   -2,38   -2,27%

Investor SUN diprediksi semakin agresif


Kamis, 22 Januari 2015 / 17:30 WIB
ILUSTRASI. Berapa Jumlah Kalori Nasi Goreng? Cek Juga Kandungan Gizi yang Ada


Reporter: Noor Muhammad Falih | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pasar Surat Utang Pemerintah (SUN) mulai bergairah. Gabungan sentimen global dan domestik membuat investor memasang strategi agresif di pasar SUN. Keagresifan pasar SUN bisa terlihat dari total permintaan (incoming bids) yang masuk pada lelang SUN pada Selasa (20/1) lalu senilai Rp 54,78 triliun.

Fixed Income Analyst Bank Internasional Indonesia, Anup Kumar mengatakan total incoming bids tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Di peringkat ke dua yakni pada lelang SUN 26 Januari 2012 yang sebesar Rp 50,13 triliun.

Menurut Kumar, salah satu faktor tingginya minat investor ini adalah adanya peralihan dana dari India pasca Bank Sentral India menurunkan tingkat suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 7,75% pada Rabu (14/1).

Analis obligasi Sucorinvest Central Gani, Ariawan mengatakan hal serupa. Penurunan tingkat suku bunga Bank Sentral India jadi salah satu faktor tingginya minat investor pada lelang SUN kemarin. “Sekarang posisi suku bunga Bank Sentral India dan Bank Indonesia sama di 7,75%. Tapi investor memandang ada sentimen domestik Indonesia yang positif sehinggga lebih menarik ketimbang di India,” ujar Ariawan.

Ia menjabarkan faktor domestik pada harapan pembangunan infrastruktur oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo masih jadi pertimbangan utama harapan kinerja pasar modal akan naik cukup tinggi. Terlebih, lanjut Ariawan, dana program ini berasal dari pemotongan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sudah jadi perhatian investor global sejak dulu.

Ariawan menambahkan, sentimen global juga didukung oleh situmulus Bank Sentral Eropa. Lanjutnya, aliran dana ini akan membanjiri emerging market termasuk Indonesia. “Ini juga sudah terlihat sejak penawaran global bond kemarin. Porsi penyerapan investor Eropa terhadap global bond kemarin lebih tinggi dibanding global bond tahun 2014,” ungkap Ariawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×