Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli
Menurut Guntur, investor mulai mencari diversifikasi geografis dan mata uang melalui instrumen berdenominasi dolar AS maupun mata uang asing lainnya sebagai upaya mengurangi risiko yang berasal dari pelemahan rupiah dan ketidakpastian domestik.
Selain itu, minat terhadap strategi investasi global equity juga meningkat karena memberikan akses ke sektor dan perusahaan global yang tidak tersedia di pasar Indonesia.
"Bagi investor dengan horizon investasi yang lebih panjang, diversifikasi ke aset global dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi konsentrasi risiko pada satu negara atau satu mata uang," kata Guntur.
Baca Juga: Ada Volatilitas Global, Reksadana Dolar AS Bisa Menjadi Opsi Diversifikasi
Guntur juga melihat meningkatnya ketertarikan nasabah high-net-worth dan emerging affluent terhadap layanan Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) atau discretionary fund management yang memiliki mandat investasi multi-asset dan multi-currency.
Menurut Guntur, kondisi pasar yang semakin kompleks membuat sebagian investor menilai pengelolaan portofolio secara profesional dan fleksibel menjadi semakin penting untuk mengoptimalkan peluang sekaligus mengelola risiko.
"Secara umum, kami melihat tema utama yang berkembang saat ini adalah diversifikasi, baik diversifikasi aset, sektor, maupun mata uang," tutup Guntur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













