Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) meroket berkat kabar investasi jumbo dari investor asing. Namun analis rekomendasi agar investor ritel tak buru-buru untuk masuk ke saham TOBA.
Harga saham TOBA pada perdagangan Kamis 22 Oktober 2026 ditutup di Rp 416 naik 82 poin atau 24,55%. Ini merupakan batas kenaikan tertinggi hingga saham TOBA terkena auto rejection atas (ARA).
Kenaikan ini menghentikan tren pelemahan yang berlangsung sejak beberapa pekan sebelumnya. Tercatat sejak awal tahun 2026, harga saham TOBA terakumulasi melemah 45,26%.
Lonjakan harga saham TOBA setelah perusahaan memperoleh komitmen investasi hingga S$ 555 juta dari HPS Investment Partners untuk mengembangkan bisnis pengelolaan limbah di Asia. Investasi ini berpotensi memperkuat pendanaan ekspansi sekaligus mendukung transformasi bisnis TOBA menuju infrastruktur berkelanjutan.
Meski demikian, dampaknya terhadap kinerja keuangan dan harga saham TOBA masih bergantung pada realisasi investasi, keberhasilan ekspansi, serta kemampuan perseroan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Berdasarkan pengumuman perseroan, investasi HPS akan disalurkan melalui SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH), perusahaan induk platform pengelolaan limbah TOBA. Pendanaan dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen baru SBTH dan instrumen lainnya. Transaksi ini masih memerlukan persetujuan pemegang saham TOBA melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).
Baca Juga: Harga Saham Blue Chip Ini Bangkit Usai Turun Ke Titik Terendah, Analis: Akumulasi
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, masuknya HPS menjadi katalis positif bagi prospek bisnis pengelolaan limbah TOBA. Dukungan investor institusi global berpotensi memperluas kapasitas operasional, meningkatkan efisiensi, dan membuka peluang ekspansi melalui akuisisi.
Investasi tersebut juga dinilai dapat mendukung upaya TOBA mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara, seiring meningkatnya peran bisnis nonbatu bara dalam portofolio perseroan.
“Komitmen tersebut juga mencerminkan kepercayaan investor institusi global terhadap potensi pertumbuhan industri pengelolaan limbah di Asia,” ujar Nafan.
Namun, Nafan mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tetap ditentukan oleh kemampuan TOBA mengalokasikan modal secara produktif, mengintegrasikan bisnis hasil akuisisi, serta menghasilkan arus kas yang berkelanjutan.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,12%, Simak Proyeksi untuk Perdagangan Jumat (23/10)
Prospek bisnis limbah TOBA pada 2026–2027
Bisnis pengelolaan limbah berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan pendapatan dan laba TOBA pada 2026–2027. Prospek tersebut didukung oleh platform pengelolaan limbah perseroan yang mencakup Cora Environment di Singapura, Asia Medical Enviro Services, dan PT Arah Environmental Indonesia.
Ketiga perusahaan tersebut bergerak di bidang pengelolaan limbah dengan cakupan layanan yang meliputi limbah rumah tangga, industri, medis, daur ulang, hingga energi dari limbah. Secara kolektif, ketiganya mengumpulkan sekitar 760.000 ton limbah selama enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Pertumbuhan volume limbah yang dikelola, peningkatan utilisasi fasilitas, efisiensi biaya operasional, serta kontribusi akuisisi berpotensi mendorong pendapatan dan profitabilitas bisnis tersebut.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga menilai investasi HPS dapat memperkuat pendanaan dan mempercepat ekspansi bisnis limbah TOBA. Kendati demikian, kontribusinya terhadap kinerja keuangan tetap bergantung pada realisasi investasi dan pengembangan usaha.
“Bisnis limbah berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru pada 2026–2027, tetapi kontribusi pendapatan dan laba masih bergantung pada realisasi ekspansi dan margin usaha,” ujarnya.
Menurut Elandry, peluang ekspansi di Indonesia dan Asia masih terbuka, baik melalui pertumbuhan organik maupun akuisisi. Namun, investor perlu mencermati kemampuan perseroan menjalankan ekspansi dan mempertahankan profitabilitas agar pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan nilai tambah.
Untuk mengukur efektivitas transformasi bisnis TOBA, investor perlu memantau pertumbuhan pendapatan, EBITDA, margin laba, dan arus kas dari segmen pengelolaan limbah.
Tonton: Digugat ke MK soal 26 Anggota, Ini Jawaban Wantimpres!
Struktur investasi HPS perlu dicermati
Selain prospek bisnis, struktur investasi juga menjadi perhatian investor. Pendanaan melalui penerbitan saham preferen di tingkat SBTH berpotensi membatasi dilusi kepemilikan saham pada tingkat induk TOBA. Namun, struktur tersebut tidak serta-merta menghilangkan potensi berkurangnya bagian manfaat ekonomi yang diterima perseroan.
Nafan menjelaskan, dampak investasi terhadap keuntungan yang menjadi hak TOBA akan bergantung pada persyaratan final transaksi. Aspek yang perlu dicermati meliputi hak preferensi, mekanisme imbal hasil, ketentuan penebusan, dan pembagian keuntungan.
Karena itu, investor perlu menelaah ketentuan hak ekonomi HPS dan porsi keuntungan yang tetap menjadi hak TOBA sebelum menyimpulkan besarnya manfaat transaksi bagi pemegang saham.
Katalis positif saham TOBA meliputi realisasi investasi, ekspansi bisnis pengelolaan limbah, serta peningkatan kontribusi bisnis nonbatu bara terhadap kinerja perusahaan. Sebaliknya, risiko eksekusi ekspansi, integrasi akuisisi, kebutuhan belanja modal, dan struktur pembagian manfaat ekonomi masih perlu diperhatikan.
Baca Juga: Danantara Masuk Pasar, Ini Rekomendasi Saham BMRI BBRI BBNI TLKM ANTM
Rekomendasi saham TOBA: wait and see
Terkait prospek saham, Nafan dan Elandry cenderung menyarankan investor bersikap *wait and see* atau menunggu perkembangan lebih lanjut.
Nafan menilai pengumuman investasi HPS merupakan katalis fundamental positif untuk jangka menengah hingga panjang. Namun, komitmen pendanaan tersebut belum otomatis menjamin kenaikan harga saham TOBA dalam waktu dekat.
Sementara itu, Elandry belum menyarankan pembelian secara agresif hanya berdasarkan pengumuman investasi. Investor disarankan menunggu kejelasan transaksi serta bukti kontribusi bisnis pengelolaan limbah terhadap laba perseroan.
Pembelian secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah valuasi saham dan prospek fundamental TOBA terkonfirmasi.
Dengan demikian, komitmen investasi HPS memberikan peluang bagi TOBA untuk mempercepat ekspansi bisnis pengelolaan limbah dan memperkuat transformasi menuju infrastruktur berkelanjutan. Namun, keberhasilan strategi tersebut tetap perlu diukur dari realisasi investasi, pertumbuhan laba, dan arus kas, bukan semata-mata besarnya nilai pendanaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













