Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja investasi Indonesia masih menunjukkan tren positif hingga paruh pertama 2026. Namun, laju pertumbuhan tersebut diperkirakan mulai kehilangan momentum pada semester II-2026 seiring meningkatnya tekanan dari faktor eksternal maupun domestik.
Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memperkirakan arus investasi akan mengalami normalisasi setelah mencatat pertumbuhan kuat pada kuartal II-2026. Salah satu penyebab utamanya adalah potensi perlambatan aktivitas manufaktur global yang dapat menekan minat investasi, terutama pada sektor-sektor yang berorientasi ekspor.
Seperti diketahui, Indonesia mencatat peningkatan persetujuan foreign direct investment (FDI) tidak termasuk jasa keuangan dan minyak & gas sebesar 27,4% secara year on year (yoy) pada kuartal II-2026 menjadi Rp 257,7 triliun (USD14,3 miliar).
Baca Juga: Rupiah Melaju ke Rp 17.942 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini, Paling Perkasa di Asia
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mencatat FDI semester I-2026 mencapai Rp 432,6 triliun, tumbuh 17,3% yoy, berasal dari basis yang rendah mengingat pertumbuhan tahunan yang hampir stagnan tahun lalu hanya sebesar 0,1%. Angka-angka terbaru memperkuat prospek jangka menengah untuk pertumbuhan yang didorong investasi dan sebagian mengimbangi kekhawatiran yang muncul dari ekspor yang lebih lemah dan arus modal global yang lebih fluktuatif.
“Namun, kami melihat beberapa hambatan eksternal di masa mendatang,” ujar Harry Su dalam risetnya pada Jumat (17/7/2026).
Samuel Sekuritas mencatat hambatan eksternal yang dimaksud antara lain suku bunga global yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama akan membebani arus modal dan meningkatkan biaya pembiayaan untuk proyek-proyek industri skala besar. Aktivitas manufaktur global yang lemah akan meredam permintaan asing untuk ekspor Indonesia.
Lalu, pertumbuhan luar biasa sebesar 27,4% yoy pada kuartal kedua tahun 2026 tidak berkelanjutan dan diperkirakan akan turun pada semester kedua tahun 2026 dan seterusnya.
Di sisi domestik, Samuel Sekuritas melihat beberapa ancaman-ancaman. Antara lain, perubahan kebijakan yang tiba-tiba dan revisi yang tidak terduga terhadap aturan hilir dapat menakutkan investor jangka Panjang. Birokrasi dan eksekusi administrasi yang lambat menunda realisasi FDI yang sebenarnya. Serta gangguan besar dan biaya tersembunyi dalam berbisnis di Indonesia dari preman dan kelompok massa/agama radikal.
Meskipun demikian, realisasi investasi yang solid secara umum konsisten dengan pandangan SSI tentang prospek jangka panjang Indonesia.
Baca Juga: Astra International (ASII) Siap Beli Saham Usai Raih Restu Buyback Saham Rp 8 Triliun
“Kami memperkirakan momentum investasi Indonesia akan melambat pada semester kedua tahun 2026, sejalan dengan normalisasi pertumbuhan triwulanan setelah kinerja kuartal kedua yang luar biasa kuat,” ucap Harry Su.
Namun, Samuel Sekuritas melihat beberapa faktor seharusnya mendukung prospek investasi. Termasuk industrialisasi hilir yang sedang berlangsung, peningkatan konektivitas infrastruktur, kondisi ekonomi makro yang relatif stabil, dan posisi strategis Indonesia dalam upaya diversifikasi rantai pasokan global.
Meskipun demikian, investor akan terus memantau beberapa risiko penurunan. Hal ini termasuk ketegangan geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah, suku bunga global yang lebih tinggi dan bertahan lama, serta aktivitas manufaktur global yang lebih lambat, yang semuanya dapat menunda keputusan investasi di sektor-sektor berorientasi ekspor.
“Di dalam negeri, menjaga konsistensi regulasi, mempercepat reformasi perizinan, dan meningkatkan kepastian hukum akan tetap penting untuk mempertahankan kepercayaan investor,” jelas Harry Su.
Seperti diketahui, sektor logam dasar menjadi penerima FDI terbesar pada kuartal II-2026. Ini mencerminkan minat yang berkelanjutan pada pengolahan mineral hilir Indonesia dan perannya dalam rantai pasokan EV global.
Arus masuk ke pertambangan dan jasa lainnya lebih lanjut menunjukkan status sumber daya Indonesia, meskipun hal ini menyisakan paparan terhadap penurunan harga komoditas global secara tiba-tiba. Berdasarkan negara, Singapura mempertahankan posisinya sebagai sumber investasi terbesar, diikuti oleh Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
