kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Rupiah Masih Berpotensi Bergejolak di Semester II 2026, Ini Faktor Penentunya


Jumat, 12 Juni 2026 / 15:44 WIB
Rupiah Masih Berpotensi Bergejolak di Semester II 2026, Ini Faktor Penentunya
ILUSTRASI. Rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang semester II 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. ?(TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang semester II 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Sejumlah faktor mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat (AS), harga minyak dunia, hingga arus modal asing akan menjadi penentu utama pergerakan mata uang Garuda.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan dalam skenario dasar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.400 per dolar AS pada paruh kedua tahun ini.

Menurut Josua, rupiah berpotensi kembali menguat ke area Rp 17.000-an apabila sejumlah sentimen positif muncul secara bersamaan. Faktor-faktor tersebut antara lain penurunan harga minyak dunia, arah kebijakan suku bunga AS yang semakin jelas, kembalinya aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham, cadangan devisa yang tetap stabil, serta disiplin fiskal pemerintah yang lebih kuat.

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Reksadana USD Masih Menarik untuk Diversifikasi

Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat apabila harga minyak kembali naik, arus modal asing keluar berlanjut, cadangan devisa mengalami penurunan signifikan, atau muncul kekhawatiran baru terkait kondisi APBN dan arah kebijakan ekonomi nasional.

"Rupiah dapat kembali melemah ke atas Rp 18.500 per dolar AS apabila risiko-risiko tersebut meningkat," ujar Josua kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Di tengah prospek nilai tukar yang masih bergejolak, Josua menyarankan investor untuk tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset. Menurutnya, strategi yang lebih tepat adalah membangun portofolio yang mampu bertahan menghadapi berbagai skenario pasar.

Josua memperkirakan Dolar AS masih relevan sebagai instrumen lindung nilai, terutama bagi investor yang memiliki kebutuhan pendidikan, impor, cicilan, atau pengeluaran dalam mata uang asing. Sementara itu, emas tetap dapat digunakan untuk menjaga daya beli saat inflasi dan ketidakpastian meningkat.

Namun, Josua mengingatkan pembelian emas sebaiknya dilakukan secara bertahap mengingat harga logam mulia saat ini sudah berada pada level tinggi dan berpotensi mengalami koreksi ketika pasar membutuhkan likuiditas.

Di sisi lain, instrumen pasar uang rupiah dinilai tetap menarik karena menawarkan likuiditas yang tinggi, risiko harga yang relatif rendah, serta imbal hasil yang lebih kompetitif setelah kenaikan suku bunga Bank Indonesia.

Baca Juga: Revisi UU P2SK Disahkan, Industri Kripto Menanti Kejelasan Aturan

Secara historis, instrumen yang cenderung lebih tahan terhadap tekanan rupiah antara lain deposito di bank besar, reksa dana pasar uang, SBN tenor pendek, dolar AS, dan emas.

Untuk investor moderat yang berorientasi menjaga nilai aset dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan, Josua menilai komposisi portofolio dapat mempertimbangkan alokasi 40% pada instrumen pasar uang rupiah, 20% pada dolar AS atau instrumen berbasis dolar AS, 15% pada emas, 15% pada SBN tenor pendek hingga menengah, serta 10% pada kas atau saham defensif.

Sementara bagi investor konservatif, porsi instrumen pasar uang dan kas dapat ditingkatkan menjadi 55%-60%, sedangkan porsi saham sebaiknya tetap terbatas.

Josua menilai kondisi saat ini lebih tepat dimanfaatkan untuk menjaga likuiditas sambil melakukan akumulasi aset secara bertahap dibandingkan masuk agresif ke aset berisiko.

"Ketidakpastian nilai tukar, suku bunga, dan arus modal masih cukup tinggi. Namun seluruh dana juga tidak perlu hanya ditempatkan di kas karena volatilitas sering membuka peluang membeli aset berkualitas pada harga yang lebih menarik," kata Josua.

Baca Juga: Idea Indonesia (IDEA) Percepat Ekspansi Penempatan Kerja ke Luar Negeri pada 2026

Kemudian, Josua mengingatkan investor untuk mencermati sejumlah indikator utama sebelum menentukan strategi investasi. Dari sisi global, investor perlu memantau arah suku bunga AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, indeks dolar AS, harga minyak, harga emas, serta perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sementara dari dalam negeri, indikator yang perlu diperhatikan antara lain aliran dana asing di pasar SBN, saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), posisi cadangan devisa, neraca dagang, defisit transaksi berjalan, imbal hasil SBN tenor 10 tahun, inflasi inti, inflasi pangan, serta arah kebijakan BI Rate.

Selain itu, perkembangan APBN, kebijakan subsidi energi, penerbitan utang pemerintah, kebijakan devisa hasil ekspor, serta kepastian regulasi bagi dunia usaha juga dinilai akan mempengaruhi persepsi investor terhadap prospek rupiah ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×