Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten properti kawasan industri berpeluang mencatatkan pertumbuhan kinerja seiring ambisi pemerintah mendorong investasi nasional hingga Rp 2.900 triliun pada 2027. Meski demikian, prospek sektor ini akan bergantung pada realisasi investasi dan kemampuan pengelola kawasan mengonversi permintaan lahan menjadi pendapatan.
Pemerintah mengandalkan peningkatan investasi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027. Adapun realisasi investasi Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan atau year on year (YoY).
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie mengatakan, target investasi pemerintah tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja emiten properti kawasan industri.
Menurut dia, kinerja emiten kawasan industri tercermin dari prapenjualan lahan yang umumnya mendahului realisasi investasi. Pertumbuhan realisasi investasi pada semester I-2026 juga menunjukkan bahwa minat investor masih terjaga.
“Sehingga, target investasi sebesar Rp 2.900 triliun pada 2027 mengindikasikan pipeline pembelian lahan baru yang berpotensi mengalir ke emiten kawasan industri,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Baca Juga: IKK September 2026 Turun Tipis, Ini Dampaknya bagi Emiten Konsumer
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menilai target investasi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor properti kawasan industri.
Potensi dampaknya akan semakin besar apabila pertumbuhan investasi diikuti realisasi pembangunan pabrik, ekspansi kapasitas produksi, serta masuknya investasi baru di sektor manufaktur, kendaraan listrik (EV), baterai, pusat data atau data center, dan industri hilirisasi.
Namun, dampak positif tersebut diperkirakan tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh emiten.
“Perusahaan yang memiliki cadangan lahan siap jual, lokasi strategis, infrastruktur memadai, serta akses langsung terhadap kawasan industri yang menjadi tujuan investor berpeluang lebih cepat mengonversi pertumbuhan investasi menjadi penjualan lahan dan pendapatan berulang,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/10).
Capaian investasi pada semester I-2026 menjadi salah satu indikasi positif bagi prospek sektor ini. Kendati demikian, pencapaian target investasi pada 2027 tetap bergantung pada realisasi proyek, bukan hanya komitmen atau pengumuman investasi.
Karena itu, investor perlu mencermati sejumlah indikator kinerja emiten kawasan industri, mulai dari pertumbuhan prapenjualan lahan industri, tingkat penyerapan lahan (land absorption), harga jual rata-rata lahan, hingga perkembangan proyek infrastruktur di sekitar kawasan.
Kebijakan Sewa Lahan Jadi Sentimen Tambahan
Selain target investasi nasional, sentimen positif bagi sektor properti kawasan industri juga datang dari rencana pemerintah melalui Danantara untuk menghapus biaya sewa lahan di kawasan industri milik negara mulai 2027 guna menarik investor asing.
Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi. Namun, di sisi lain, langkah ini juga dapat memperbesar persaingan bagi pengelola kawasan industri swasta.
“Dampak akhirnya akan bergantung pada apakah pertambahan investasi cukup besar untuk memperluas permintaan lahan secara keseluruhan,” paparnya.
Hingga 2027, prospek emiten properti kawasan industri dinilai masih moderat. Adrian berpandangan, salah satu pendorong utama kinerja sektor ini adalah relokasi pabrik dari negara lain yang mencari basis produksi di kawasan ASEAN.
Selain itu, pembangunan infrastruktur penunjang seperti jalan tol dan pelabuhan, serta permintaan lahan dari sektor hilirisasi dan pusat data, berpotensi mendukung pertumbuhan bisnis pengelola kawasan industri.
Meski begitu, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Ketidakpastian tarif dan perdagangan global dapat mendorong investor menunda keputusan ekspansi. Pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya impor mesin dan bahan baku, sementara kondisi makroekonomi global dapat memengaruhi keputusan investasi perusahaan.
Sementara itu, Nafan melihat realisasi investasi manufaktur, ekspansi industri kendaraan listrik dan baterai, kebutuhan lahan untuk pusat data, serta relokasi fasilitas produksi ke Indonesia sebagai katalis utama sektor ini hingga 2027.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Fluktuatif Pekan Depan, Cermati Harga Minyak dan Inflasi AS
“Pembangunan infrastruktur dan konektivitas di kawasan industri baru dapat meningkatkan daya saing lokasi serta memperbesar peluang penjualan lahan,” katanya.
Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global, suku bunga yang masih relatif tinggi, pelemahan rupiah, biaya pembangunan infrastruktur, serta risiko penundaan realisasi investasi menjadi sejumlah sentimen pemberat bagi sektor tersebut.
Emiten kawasan industri juga perlu mengantisipasi perbedaan waktu antara pembelian lahan oleh investor dan pengakuan pendapatan dalam laporan keuangan. Kondisi ini membuat pertumbuhan penjualan lahan tidak selalu langsung tercermin dalam kinerja keuangan pada periode yang sama.
“Penilaian terhadap prospek sektor ini sebaiknya tidak hanya didasarkan pada target investasi pemerintah, tetapi juga pada kontrak penjualan lahan yang sudah terealisasi, kemampuan menghasilkan arus kas, dan struktur utang masing-masing emiten,” paparnya.
Rekomendasi Saham SSIA
Di tengah prospek dan risiko tersebut, saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menjadi salah satu pilihan yang direkomendasikan oleh analis.
Adrian merekomendasikan trading buy untuk SSIA dengan target harga Rp 1.775 per saham. Sementara itu, Nafan merekomendasikan akumulasi beli SSIA dengan target harga Rp 2.010 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














