kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 17.901   -32,00   -0,18%
  • IDX 6.053   21,23   0,35%
  • KOMPAS100 781   5,63   0,73%
  • LQ45 599   5,13   0,86%
  • ISSI 211   -0,33   -0,16%
  • IDX30 333   2,93   0,89%
  • IDXHIDIV20 426   3,87   0,92%
  • IDX80 89   0,60   0,68%
  • IDXV30 116   0,61   0,53%
  • IDXQ30 109   1,08   1,00%

The Fed Masih Dibayangi Inflasi, Bagaimana Prospek Pasar Kripto?


Jumat, 09 Oktober 2026 / 11:27 WIB
The Fed Masih Dibayangi Inflasi, Bagaimana Prospek Pasar Kripto?
ILUSTRASI. Realisasi penerimaan pajak kripto hingga Agustus 2026 (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar kripto masih menghadapi ketidakpastian seiring arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, yang bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi.

Risiko inflasi masih menjadi perhatian para pembuat kebijakan. Dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis pada 7 Oktober 2026, mayoritas pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan sebelum akhir tahun.

Dalam rapat pada 15–16 September 2026, The Fed memutuskan menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%–4,00%.

Baca Juga: Nusatama (NTBK) Pacu Efisiensi Operasional Armada lewat EV Truck, Gandeng Tri Mandiri

Meski demikian, keputusan kebijakan berikutnya tetap akan mempertimbangkan perkembangan data ekonomi, dinamika geopolitik, serta keseimbangan risiko.

Chief Marketing Officer INDODAX Aloysia Dian mengatakan, investor perlu mencermati kebijakan moneter AS dalam konteks yang lebih luas. Menurut dia, pergerakan aset kripto tidak hanya ditentukan oleh satu indikator ekonomi.

“Catatan rapat FOMC menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian The Fed. Namun, pergerakan aset kripto dipengaruhi banyak faktor, mulai dari likuiditas global, kondisi ekonomi, regulasi, hingga dinamika masing-masing aset,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/10/2026).

Menjelang rapat FOMC berikutnya pada 27–28 Oktober 2026, pelaku pasar akan mencermati perkembangan ekonomi AS dan perubahan ekspektasi suku bunga.

Perubahan arah kebijakan moneter berpotensi memengaruhi likuiditas global serta minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Di tengah ketidakpastian global, aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia justru meningkat pada Agustus 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital dan kripto mencapai 23,21 juta, tumbuh 1,23% dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Apa Itu Pengagunan Saham? Ini Kaitan Transaksi Haji Isam atas Gadai PGUN dan JARR

Nilai transaksi aset kripto pada periode yang sama mencapai Rp 23,16 triliun, naik 12,87% secara bulanan.

Sementara itu, volume transaksi di INDODAX tercatat sebesar Rp 9 triliun, meningkat sekitar 20% dibandingkan Juli 2026.

Aloysia menilai pertumbuhan jumlah konsumen dan nilai transaksi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan kripto domestik masih berlangsung di tengah dinamika pasar global.

Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas perdagangan perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap karakteristik aset kripto dan penerapan manajemen risiko.

Investor juga diimbau melakukan riset mandiri serta tidak hanya berorientasi pada pergerakan harga dalam jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×