kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.701   20,00   0,11%
  • IDX 6.480   -54,82   -0,84%
  • KOMPAS100 859   -7,38   -0,85%
  • LQ45 654   -5,50   -0,84%
  • ISSI 224   -1,34   -0,59%
  • IDX30 363   -3,25   -0,89%
  • IDXHIDIV20 453   -5,00   -1,09%
  • IDX80 98   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,28   -1,01%
  • IDXQ30 117   -0,87   -0,74%

Intip Prospek dan Rekomendasi Saham ICBP di Tengah Tantangan Bahan Baku


Selasa, 15 September 2026 / 14:51 WIB
Intip Prospek dan Rekomendasi Saham ICBP di Tengah Tantangan Bahan Baku
ILUSTRASI. Produk mi instan produksi Indofood dipajang di Pasar Ritel Modern (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku dan volatilitas nilai tukar di tengah upaya memperkuat ekspansi pasar internasional. Manajemen perseroan berupaya menjaga kinerja operasional guna memitigasi ketidakpastian makroekonomi pada semester kedua 2026.

Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati menilai kinerja operasional ICBP pada semester pertama 2026 tetap solid dengan realisasi pendapatan mencapai Rp 41,86 triliun atau tumbuh 11% secara tahunan (year on year/YoY).

Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan volume penjualan yang merata di seluruh segmen bisnis perseroan. Segmen nutrisi dan makanan khusus mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 16% YoY menjadi Rp 750 miliar.

Baca Juga: Minim Katalis Positif, Bitcoin dan Ether Berpotensi Lanjut Melemah

Disusul kemudian oleh segmen produk olahan susu (dairy) yang tumbuh 15% YoY menjadi Rp 5,64 triliun. Sementara itu, segmen mi instan naik 11% YoY menjadi Rp 31,17 triliun berkat dorongan kuat dari pasar domestik maupun ekspor.

Kenaikan juga dicatatkan pada segmen makanan ringan sebesar 9% YoY menjadi Rp 2,55 triliun serta penyedap makanan yang tumbuh 6% YoY menjadi Rp 2,56 triliun. Adapun segmen minuman mencatatkan kenaikan tipis menjadi Rp 743 miliar pada semester I-2026. 

Meski penjualan bertumbuh positif, laba bersih ICBP pada semester I-2026 terkoreksi 33% YoY menjadi Rp 3,70 triliun akibat lonjakan beban keuangan. Vinna menjelaskan bahwa kenaikan beban keuangan hingga 216% YoY menjadi Rp 4,09 triliun dipicu oleh kerugian selisih kurs yang belum terealisasi atas obligasi global perseroan.

Rugi kurs tersebut melonjak secara signifikan mencapai Rp 2,95 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 227,29 miliar. Hal ini terjadi seiring dengan diterbitkannya obligasi berdenominasi dolar AS oleh ICBP senilai USD 2,75 miliar.

Tekanan valuta asing tersebut secara langsung menekan marjin laba bersih perseroan menjadi 8,8% dari sebelumnya 14,72%. 

"Depresiasi rupiah yang terus berlanjut sepanjang tahun 2026, ditambah dengan revisi prospek peringkat kredit negara Indonesia menjadi 'Negatif' oleh Moody's dan Fitch, dapat terus membebani profitabilitas ICBP," kata Vinna dalam risetnya, (10/8/2026). 

Di tengah dinamika tersebut, Vinna mencatat manajemen perseroan memproyeksikan pertumbuhan penjualan berkisar 5% hingga 7% YoY sepanjang tahun 2026. Perseroan juga menargetkan margin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT margin) berada di kisaran 20% hingga 22%. 

Di sisi lain, tantangan bisnis juga datang dari pergerakan harga komoditas bahan baku utama perseroan.

Analis OCBC Sekuritas Jessica Leonardy menyoroti potensi tekanan biaya produksi akibat dinamika cuaca global yang merugikan. Biaya bahan baku, khususnya minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), diperkirakan tetap tinggi seiring meningkatnya risiko cuaca.

Probabilitas terjadinya fenomena El Niño diperkirakan mencapai sekitar 80% pada semester kedua 2026 dan berpotensi melampaui 90% hingga Oktober 2026 dengan tingkat keparahan sedang hingga kuat.

Kondisi cuaca ekstrem ini berisiko mengganggu pasokan CPO global serta memicu kenaikan harga secara signifikan.  Untuk bahan baku lain seperti gula dan gandum, dampaknya dinilai relatif lebih terbatas karena basis produksi yang terdiversifikasi secara geografis di belahan bumi utara dan selatan.

ICBP menjaga diversifikasi pasokan gandum dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Argentina guna memitigasi risiko gagal panen. Dari sisi penetapan harga jual, manajemen menerapkan pendekatan terukur dan prudent.

Perseroan hanya menyesuaikan harga jual produk jika tekanan biaya input dan kurs bersifat struktural serta berkelanjutan. Strategi ini mengedepankan daya saing jangka panjang dibandingkan dengan sekadar mempertahankan marjin jangka pendek. 

Dari segmen pasar, pasar internasional diperkirakan terus meningkatkan kontribusinya dalam jangka panjang sehingga memberikan diversifikasi pada aliran pendapatan ICBP. Pada semester I-2026, kawasan Asia dan Afrika mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 20,7% YoY yang ditopang oleh tingginya volume penjualan mi instan.

Volume penjualan mi instan di pasar luar negeri naik 13% YoY pada semester I-2026 dan melaju 20% YoY pada kuartal II-2026, melampaui pertumbuhan volume domestik.

Jessica memproyeksikan pasar Asia dan Afrika tumbuh 8,8% YoY pada 2026 dan meningkatkan kontribusinya menjadi sekitar 29% terhadap total pendapatan.

Ekspansi internasional menjadi kunci pendorong pertumbuhan struktural saat konsumsi domestik tertahan oleh melandainya daya beli. 

Perseroan juga mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 5,5 triliun pada 2026 untuk ekspansi kapasitas produksi, termasuk modernisasi pabrik mi instan.

Fasilitas pabrik baru di Bogor diperkirakan menambah kapasitas sebesar 1,5 miliar bungkus mi instan, di samping penambahan lini produksi baru pada jaringan distribusi internasional.

Penambahan kapasitas ini disiapkan untuk menopang pertumbuhan permintaan jangka panjang di pasar domestik maupun ekspor. 

"Menurut pandangan kami, valuasi saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan ketahanan bisnis inti ICBP, kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, serta kontribusi yang terus meningkat dari pasar luar negeri," kata Jessica dalam risetnya, (14/8/2026). 

Oleh karena itu, Vinna mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ICBP dengan target harga sebesar Rp 11.150 per saham.

Sementara itu, Jessica merekomendasikan buy untuk ICBP dengan target harga sebesar Rp 10.000 per saham.

Baca Juga: BEI Kembali Berlakukan Short Selling, Analis Ingatkan Risiko Sentimen Negatif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×