kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Intip Nasib Emiten Danantara di Pusaran Gejolak Pasar dan Ketidakpastian Kebijakan


Minggu, 18 Oktober 2026 / 19:06 WIB
Intip Nasib Emiten Danantara di Pusaran Gejolak Pasar dan Ketidakpastian Kebijakan
ILUSTRASI. Simak prospek dan pergerakan saham emiten Danantara di tengah tekanan pasar dan ketidapastian kebijakan di pasar saham domestik (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten milik BPI Danantara masih belum akan ke mana-mana di tengah gejolak pasar dan ketidakpastian kebijakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57% dan parkir ke level 5.185,10 pada akhir perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada  Jumat (16/10/2026). 

Ini merupakan imbas pengumuman MSCI yang meluncurkan konsultasi atas usulan reklasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan keputusan akhir paling lambat akhir Juni 2027.

Sejak awal tahun, IHSG sudah mengakumulasi penurunan sebesar 40,04% year to date (YTD). Sementara, kinerja IDX BUMN20 turun 31,98% YTD.

Baca Juga: Denda OJK Rp 2,1 Triliun, Asing Masih Kabur dari Pasar Saham

Di tengah situasi tersebut, BPI Danantara justru melihat penurunan IHSG bisa menjadi momentum untuk masuk berinvestasi di emiten BUMN kala valuasi sahamnya rendah saat ini.

“Kami melihatnya ini adalah suatu opportunity ke depannya. Sebagai Danantara, selalu melihat investasi itu sebagai long-term investment, bukan sebagai investor in and out yang anytime bisa masuk,” ujar CEO Danantara Rosan Roeslani dalam konferensi pers di BEI, Jumat (16/10/2026).

Rosan bilang, pihaknya meyakini dan menganalisa bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan BUMN sangat baik.

Namun, misalnya emiten BUMN sektor perbankan, valuasinya masih di bawah rerata peers. Sektor industri lain juga baik, seperti sektor infrastruktur dan telekomunikasi.

“Kami melihat dan sekarang sangat meyakini perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa kita ini akan meningkat ke depannya, kami sangat meyakini,” katanya.

Optimisme Danantara akan kinerja emiten pelat merah dan pasar saham Indonesia juga tercermin dari rencana initial public offering (IPO) perusahaan BUMN di tahun 2027.

Danantara menargetkan, IPO beberapa perusahaan BUMN di 2027, dengan sektor berasal dari finansial, infrastruktur, dan pertambangan. 

Baca Juga: Rupiah Masih Dibayangi Sentimen MSCI, Ini Proyeksi untuk Senin (19/10)

Tak cukup sampai di situ, dalam rangka restrukturisasi, BUMN dan anak usahanya dapat insentif pajak 0% untuk transaksi tertentu. Ini berdasarkan lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-12/PJ/2026.

Chief Economist dan Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, saham BUMN masih memiliki peluang investasi, tetapi pendekatannya harus jauh lebih selektif. 

Investor tidak bisa menyamaratakan seluruh BUMN lantaran kondisi keuangan, kualitas aset, kemampuan menghasilkan arus kas, dan eksposur terhadap kebijakan pemerintah berbeda-beda.

Insentif pajak untuk restrukturisasi tentu dapat membantu mengurangi biaya transaksi dan mempercepat konsolidasi BUMN. Namun, manfaatnya terhadap pemegang saham baru akan terlihat apabila restrukturisasi tersebut benar-benar meningkatkan efisiensi, profitabilitas, dan kualitas neraca perusahaan. 

“Perlu diperhatikan pula bahwa ketentuan teknis tarif PPh final 0% masih dalam proses penyusunan,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (18/10/2026).

Di sisi lain, persoalan MSCI menjadi tantangan yang cukup besar. Investor global saat ini bukan hanya mempertimbangkan valuasi, tetapi juga transparansi, tata kelola, dan aksesibilitas pasar. 

“Karena itu, valuasi yang terlihat murah belum tentu langsung menarik apabila premi risiko Indonesia masih meningkat,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal, Edwin Sebayang melihat, dukungan pemerintah terhadap emiten BUMN harus mampu meningkatkan laba, arus kas, efisiensi modal, dan nilai pemegang saham minoritas dalam dua tahun ke depan.

Insentif pajak untuk restrukturisasi harus bisa memperbaiki efisiensi transaksi korporasi, kehadiran Danantara berpotensi memperbaiki alokasi modal dan tata kelola, sedangkan rencana IPO BUMN seharusnya dapat memperluas pilihan investasi di pasar modal. 

Baca Juga: Perkumpulan Analis Dukung Penuh Agenda Reformasi OJK-SRO, Ini Catatan Pentingnya

Namun, sentimen MSCI, perubahan struktur kepemilikan saham, dan rencana demutualisasi Bursa memiliki implikasi yang berbeda terhadap likuiditas, valuasi, dan fundamental perusahaan.

“Sehingga melihat saham BUMN harus secara selektif dan berbasis fundamental, bukan sebagai satu kelompok investasi yang otomatis menarik hanya karena berada di bawah kepemilikan negara,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (18/10/2026).

Kinerja emiten BUMN hingga tahun 2027 akan semakin berbeda antarperusahaan.

Rully berpandangan, BUMN dengan neraca sehat, arus kas kuat, dan model bisnis yang relatif independen dari penugasan pemerintah memiliki peluang lebih baik dibandingkan perusahaan dengan leverage tinggi dan kebutuhan pendanaan besar.

Dari sisi positif, konsolidasi melalui Danantara dapat membuka peluang efisiensi, optimalisasi aset, dan perbaikan tata kelola. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada eksekusi. 

“Restrukturisasi tidak otomatis menciptakan nilai tambah apabila tidak diikuti perbaikan operasional dan disiplin alokasi modal,” tuturnya.

Di sisi lain, keterlibatan Danantara dalam pross demutualisasi Bursa tidak dianggap Rully sebagai faktor yang secara langsung memperburuk kinerja operasional emiten BUMN. 

Sebab, dampaknya lebih terkait tata kelola dan struktur pengawasan pasar modal. Jika dilaksanakan dengan baik, demutualisasi justru berpotensi memperkuat independensi Bursa dan meningkatkan kepercayaan investor.

“Namun, dampak positif tersebut tetap bergantung pada implementasi dan efektivitas pengawasannya,” ungkapnya.

Baca Juga: Ini Hasil Laporan Pertemuan OJK dengan Pelaku Pasar Soal MSCI

Edwin mengatakan, IPO BUMN di tahun 2027 juga cenderung menarik lantaran bisnisnya dikenal investor, transparansi meningkat, dan terbukanya akses pendanaan baru.

“Namun, IPO BUMN di tahun depan bisa sepi peminat jika kondisi pasar belum kondusif, harga terlalu mahal, kualitas free float dan likuiditas, persaingan penggunaan modal, serta ketidakpastian tata kelola,” paparnya.

Di tengah kondisi saat ini, investor perlu membedakan antara penurunan harga saham akibat sentimen pasar dan memburuknya fundamental perusahaan.

Rully bilang, ada beberapa indikator yang penting diperhatikan. Terutama, kemampuan menghasilkan arus kas, tingkat utang, kualitas aset, kebutuhan belanja modal, serta potensi perubahan kebijakan dividen dan alokasi modal di bawah Danantara.

“Khusus dalam situasi MSCI saat ini, struktur kepemilikan investor juga menjadi pertimbangan,” ungkapnya.

Saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi dan bobot besar dalam indeks global juga berpotensi menghadapi tekanan jual lebih besar apabila investor internasional mengurangi eksposurnya terhadap Indonesia.

Bagi investor yang sudah memiliki saham BUMN berkualitas baik, tidak disarankan melakukan penjualan secara agresif hanya karena koreksi pasar. Namun, Rully juga belum menyarankan pembelian kembali secara besar-besaran. 

Baca Juga: Saham Tambang Logam Punya Katalis Berbeda, Cek Rekomendasi INCO hingga BRMS

“Kami lebih memilih strategi gradual re-entry secara selektif, terutama pada saham dengan fundamental kuat dan eksposur relatif lebih rendah terhadap tekanan jual investor asing, sambil tetap mempertahankan likuiditas portofolio,” tuturnya.

Edwin mengatakan, investor yang sudah memegang saham BUMN sebaiknya tidak mengambil keputusan seragam hanya berdasarkan penurunan IHSG. 

“Respons yang tepat bergantung pada harga beli, bobot portofolio, horizon investasi, kebutuhan likuiditas, dan kualitas perusahaan yang dimiliki,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×