Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham sektor pertambangan logam atau metal mining masih ditopang oleh peluang peningkatan produksi dan optimalisasi fasilitas pengolahan.
Namun, investor perlu mencermati sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan kuota produksi dan pasokan emas hingga kelancaran penjualan serta pengelolaan utang.
Sejumlah analis pun mencermati saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Berikut ulasan lengkap rekomendasi sahamnya:
1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
INCO mendanai ekspansi fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) senilai sekitar US$ 7,2 miliar dengan mengandalkan neraca keuangan mitra, terutama melalui kepemilikan saham minoritas dalam usaha patungan (joint venture/JV).
Kepemilikan tersebut mencakup 5,78% saham PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI)/Pomalaa dan 26,52% saham PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI)/Bahodopi. INCO juga memiliki hak untuk meningkatkan kepemilikannya di KNI/HNI hingga 30%. Penyelesaian tahap awal ditargetkan berlangsung pada kuartal III-2026 untuk proyek Pomalaa dan kuartal IV-2026 untuk proyek Bahodopi.
Sorowako, aset inti INCO yang menghasilkan arus kas, memiliki masa berlaku IUPK hingga 2035 dan telah memperoleh kuota RKAB 2026 secara penuh. Sebaliknya, proyek Pomalaa dan Bahodopi hanya memperoleh sekitar 30% dari kuota yang diajukan, sementara revisi RKAB masih menunggu keputusan. Kondisi ini membuat risiko volume produksi dalam periode tersebut lebih terkonsentrasi pada proyek-proyek pertumbuhan, bukan pada basis produksi yang menjadi sumber utama laba perusahaan.
- Rekomendasi: Buy
- Target harga: Rp 5.375
Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas, Dennis Tay
2. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Produksi emas dari tambang milik sendiri hanya sekitar 24.000 ons per tahun, sedangkan penjualan emas mencapai 1,2 juta-1,4 juta ons. Pembelian logam mulia menyumbang 72% dari pendapatan ANTM pada 2025. Dengan demikian, laba perusahaan bergantung pada selisih antara premi emas batangan Antam dan harga pembelian, jumlah pasokan emas yang diizinkan untuk diperoleh perusahaan, serta arah pergerakan harga emas ketika perusahaan masih menyimpan persediaan.
Penjualan emas ANTM turun dari 500.000 ons pada kuartal II-2025 menjadi 103.000 ons pada kuartal IV-2025. Penurunan ini terjadi karena prioritas pasokan dialihkan ke sumber domestik, sementara impor melalui ABC Refinery di Australia dibatasi. Nilai impor dari jalur tersebut turun menjadi Rp 8,7 triliun pada 2025, dari Rp 14,6 triliun pada tahun sebelumnya.
Manajemen menargetkan penjualan emas sebesar 1,4 juta ons pada 2026. Namun, target tersebut dinilai sulit tercapai. Proyeksi kami sebesar 1,2 juta ons mengasumsikan penjualan pada semester II-2026 rata-rata 103.000 ons per bulan, setara dengan tingkat penjualan pada kuartal II-2026.
- Rekomendasi: Buy
- Target harga: Rp 4.840
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi
3. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
AMMN mengoperasikan fasilitas terintegrasi yang mencakup pertambangan hingga pengolahan logam di Batu Hijau. Fase 8 mulai beroperasi pada Mei 2025 dan kini memasuki tahun kedua. Pada tahun pertama, aktivitas penambangan lebih banyak difokuskan pada pengupasan lapisan penutup (waste removal) serta penambangan di area terluar tambang yang memiliki kadar bijih lebih rendah.
Fasilitas smelter tembaga dan precious metals refinery (PMR) AMMN telah beroperasi penuh sejak Juli 2026. Kedua fasilitas tersebut diperkirakan dapat meningkatkan utilisasi secara bertahap menuju kapasitas optimal. Kami memperkirakan penjualan katoda tembaga meningkat 63% secara tahunan (YoY) menjadi 124 ribu ton pada FY26F. Sementara itu, penjualan emas olahan diperkirakan naik 113% YoY menjadi 243 ribu ons pada FY26F.
Dengan periode belanja modal (capex) yang besar kini telah berlalu dan smelter yang sudah beroperasi penuh, AMMN saat ini berfokus pada penurunan tingkat utang (deleveraging). Setelah itu, AMMN berpotensi kembali melakukan investasi mulai sekitar 2030F, menjelang target dimulainya operasi Tambang Elang pada 2032/2033.
- Rekomendasi: Add
- Target harga: Rp 7.000
Analis CGS International Sekuritas, Joanne Ong
4. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Prospek BRMS berpotensi membaik pada paruh kedua 2026 setelah perseroan merampungkan operasi pushback di Poboya pada Juli 2026. Selain itu, produksi emas pada paruh kedua 2026 seharusnya menunjukkan pemulihan volume yang signifikan dengan margin per ons yang tetap kuat. Namun, masih terdapat persoalan terkait penumpukan persediaan barang jadi emas yang mencerminkan adanya bottleneck pada sisi offtake.
Dengan demikian, pemulihan produksi belum otomatis berarti pemulihan arus kas apabila penyerapan atau penjualan emas belum berjalan lancar. Sementara itu, rencana penambangan bijih high-grade melalui tambang bawah tanah CPM Palu dan ekspansi kapasitas pabrik emas menjadi 2.000 ton per hari dinilai dapat membawa perubahan lebih besar terhadap ekonomi bisnis BRMS mulai 2027.
Di luar bisnis emas, ekspansi tembaga melalui PT Gorontalo Minerals juga menjadi opsi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang bagi BRMS. Eksplorasi tersebut menarik, tetapi masih berada pada tahap awal. Adapun BRMS melalui Gorontalo Minerals saat ini mengoperasikan empat unit alat pengeboran di prospek Cabang Kiri East dan berencana menambah jumlahnya menjadi tujuh unit tahun depan. Perusahaan menargetkan pemutakhiran rincian sumber daya mineral tembaga pada semester I 2027.
- Rekomendasi: Buy
- Target harga: Rp 700
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














