kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Ini strategi Solusi Bangun Indonesia (SMCB) meraup laba Rp 134 di kuartal III 2019


Minggu, 03 November 2019 / 19:17 WIB
Ini strategi Solusi Bangun Indonesia (SMCB) meraup laba Rp 134 di kuartal III 2019
ILUSTRASI. Pabrik Semen PT. Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), dahulu bernama semen cibinong lalu semen holcim.

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatat konsumsi semen domestik pada kuartal III 2019 turun 2,2% dari tahun sebelumnya.

Meski demikian, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk mampu mencatatkan kinerja yang ciamik pada kuartal III 2019. Pada kuartal III 2019, emiten dengan kode saham SMCB ini berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 134,12 miliar.

Baca Juga: SMCB bukukan laba bersih Rp 134 miliar di kuartal-III tahun ini

Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya SMCB masih menanggung rugi sebesar Rp 630 miliar.

Pendapatan SMCB pun tercatat naik tipis 2,2%, sehingga SMCB mengantongi pendapatan Rp 7,74 triliun pada kuartal III 2019.

Direktur Solusi Bangun Indonesia Agung Wiharto mengaku puas dengan pencapaian ini. Sebab, tahun ini manajemen SMCB menargetkan untuk bisa keluar dari jerat kerugian.

“Target kami tahun ini tidak boleh rugi, tidak boleh minus, dan sekarang kami berada di jalur yang telah kami rancang,” tutur Agung kepada Kontan.co.id, Minggu (3/11).

Lebih lanjut, pencapaian apik ini tidak lepas dari adanya sinergi dengan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Agung bilang, sinergi ini memberikan keuntungan bagi SMCB salah satunya adalah bargaining position (posisi tawar) yang lebih baik.

“Kami jadi mendapatkan barang yang lebih baik, kualitas yang lebih baik, dengan harga yang lebih murah,” lanjutnya.

Baca Juga: Penjualan Semen Masih Lesu, Ini Rekomendasi Analis untuk Saham INTP, SMGR, dan SMBR

Selain itu, sinergi dengan SMGR juga dilakukan dari sisi supply chain dan sisi produksi. SMCB juga melakukan sinergi ke internal berupa penguatan daya saing dan efisiensi manajemen internal.

“Efisiensi manajemen juga turut membantu. Tadinya dalam SMCB ada sembilan orang direksi sekarang hanya ada tiga,” sambungnya

Terkait lesunya permintaan semen pada kuartal III 2019, Agung mengaku hal ini sudah diprediksi sebelumnya. Sejak awal tahun terdapat beberapa faktor yang menyebabkan konsumsi semen domestik melemah.

Musim penghujan dan momentum Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi salah satu penyebab konsumsi semen domestik menjadi turun. Selain itu, momentum puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri juga turut mempengaruhi permintaan semen.

“Jadi pelemahan tersebut bisa kami prediksi sehingga pertumbuhan konsumsi semen yang mencapai -2% masih sesuatu yang wajar meskipun itu di bawah ekspektasi kami,” ujarnya.

Baca Juga: Sebulan terakhir net sell asing di bursa mencapai Rp 3,88 triliun, ini penyebabnya

Ia pun optimis penjualan semen akan meningkat dan kinerja SMCB akan tetap ciamik hingga akhir 2019.

Untuk diketahui, saat ini SMCB tengah ) getol mempromosikan merek baru pengganti Holcim, yakni Dynamix.

Penggantian merek ini tidak lepas dari akuisisi SMCB oleh SMGR. Sehingga nama Holcim atau Lafarge sebagai merek global yang masih dimiliki oleh Lafarge Holcim Group sudah tidak bisa digunakan lagi oleh Semen Indonesia Group.

Promosi secara internal dilakukan dengan memperkenalkan merek Dynamix kepada seluruh pegawai SMCB. Promosi ini juga menyangkut sosialisasi alasan dan latar belakang mengapa merek Holcim diubah menjadi Dynamix.

Baca Juga: Asing jual bersih, IHSG melorot 1,07% ke 6.228 pada penutupan perdagangan Oktober

Sementara promosi ke pihak eksternal dilakukan dengan menggelar roadshow ke kota besar. Roadshow ini dilakukan dengan mengundang ratusan pemiliki toko dan pedagang ritel.

Selain itu, SMCB juga turun langsung untuk menyosialisasikan semen Dynamix kepada distributor dan kontraktor.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×