kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ini kata analis soal sejumlah emiten yang berpotensi delisting


Rabu, 22 Januari 2020 / 20:35 WIB
Ini kata analis soal sejumlah emiten yang berpotensi delisting
ILUSTRASI. Karyawan melintas di depan papan pancatatan saham di Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (13/1). Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melanjutkan bersih-bersih terhadap emiten yang bermasalah./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/13/01/2020

Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melanjutkan bersih-bersih terhadap emiten yang bermasalah. Pada awal tahun ini, BEI telah menghapus pencatatan saham PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) tepatnya pada Senin (20/1).

BORN menjadi saham pertama yang dihapus pencatatannya dari bursa pada 2020. Sebelumnya, BEI telah mengumumkan potensi delisting emiten yang bergerak di bidang pertambangan terintegrasi ini pada 6 Desember 2019 lalu.

Baca Juga: MD Pictures (FILM) fokus produksi hingga 12 judul film tahun ini

Selanjutnya, BEI bakal menghapus pencatatan saham PT Leo Investments Tbk (ITTG) pada Kamis (23/1). BEI delisting paksa saham ITTG lantaran saham ini sudah lebih dari dua tahun disuspensi.

Saham ITTG terakhir ditransaksikan di pasar reguler pada 30 April 2016 dengan harga Rp 82 per saham. Saat penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada November 2001, harga perdana saham ITTG sebesar Rp 150 per saham.

Adapun, perdagangan saham ITTG di pasar negosiasi masih dibuka hingga hari ini. Per 31 Desember 2019, jumlah saham publik ITTG sebanyak 338,59 juta saham atau setara 24,55%.

PT Evergreen Invesco Tbk (GREN) juga masuk daftar emiten yang berpotensi di-delisting dari bursa. Jumlah saham milik masyarakat sebesar 1,90 miliar saham atau 40,52%. Terakhir ditransaksikan, harga saham GREN sebesar 328 per saham. Saham GREN telah disuspensi perdagangannya sejak 19 Juni 2017 silam.

Baca Juga: Kresna Graha Investama (KREN) berencana bentuk joint venture dengan perusahaan China

Kemudian, PT Cakra Mineral Tbk (CKRA) pun memiliki potensi untuk didepak dari bursa efek Indonesia. Saat ini jumlah kepemilikan publik sebanyak 415,52 juta atau setara 8,114%. BEI telah menghentikan perdagangan saham CKRA dari 5 Juni 2018.

Terakhir, PT Polaris Investama Tbk (PLAS) turut bergabung dalam daftar saham yang berpotensi di-delisting. Jumlah kepemilikan publik atas perusahaan ini sebesar 84,44% atau setara dengan 999,94 juta saham.

Sementara itu, sepanjang tahun lalu BEI telah menghapus pencatatan saham dari 6 emiten atau lebih banyak dari 2018 dengan jumlah 4 emiten. Analis menilai penghapusan saham dari pencatatan bursa merupakan salah satu risiko di pasar modal.

Baca Juga: Tarif BPJS naik, Itama Ranoraya (IRRA) belum merevisi target pendapatan




TERBARU

Close [X]
×