kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45995,22   -1,54   -0.15%
  • EMAS977.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Ini Faktor yang Mesti Dicermati Saat Mengoleksi Saham Emiten Konstruksi


Kamis, 27 Januari 2022 / 18:26 WIB
Ini Faktor yang Mesti Dicermati Saat Mengoleksi Saham Emiten Konstruksi
ILUSTRASI. Sektor konstruksi diproyeksi mendapat angin segar dari rencana IKN Baru


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur diyakini bakal mendorong industri konstruksi. Proyek IKN baru itu berpotensi mendongkrak kontrak sejumlah emiten di sektor ini, terutama bagi perusahaan plat merah.

Analis UOB KayHian Selvi Ocktaviani dalam risetnya memperkirakan, akan ada kenaikan kontrak baru sekitar 20%-40% secara Year on Year (YoY) di tahun 2022. Selain ekspektasi segera dimulainya proyek IKN baru, adanya pergeseran tender sejumlah proyek dari 2021 ke 2022 menjadi sumber optimisme pertumbuhan kontrak baru.

"Dengan proyek ibu kota baru yang diharapkan akan segera dimulai dan berlanjutnya proyek infrastruktur, sektor ini diperkirakan akan mengalami peningkatan 20%-40% dalam kontrak baru di tahun 2022," tulisnya dalam riset yang dikutip Kontan.co.id.

Sedangkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael dalam riset yang dirilis Senin (24/1) melihat, ada beberapa faktor yang bisa membawa sentimen positif bagi sektor konstruksi, terutama pada periode semester I-2022.

Sejumlah hal yang disoroti Joshua antara lain adanya inisiatif pemerintah untuk meningkatkan kinerja keuangan kontraktor BUMN, termasuk dengan investasi infrastruktur yang berasal dari Indonesia Investment Authority (INA). Selain itu, faktor pembangunan IKN baru dan masuknya arus investasi diyakini bakal membawa sentimen positif.

Baca Juga: Tahun Ini, Hutama Karya (HK) Bidik Perolehan Kontrak Baru Sebesar Rp 35,39 Triliun

Kendati begitu, sejumlah angin segar di sektor konstruksi tampak belum memberikan dampak signifikan bagi pergerakan saham, termasuk pada emiten plat merah. Sebut saja PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) yang mencatatkan penurunan harga saham 9,50% secara year to date (YTD) hingga penutupan perdagangan hari ini.

Selanjutnya ada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) yang sahamnya telah merosot 8,60% secara YTD. Lalu PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) yang berada di zona merah dengan penurunan YTD sebanyak 10,24%. Kemudian PT PP (Persero) Tbk (PTPP) juga terlihat turun 8.08%.

Equity Analyst PT Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora menilai faktor meningkatnya kasus Covid-19 dan penyebaran varian Omicron di Indonesia masih salah satu penyebab pelemahan emiten konstruksi. Menurut Andhika, investor masih memilih wait and see terhadap sektor ini.

"Karena apabila kasus Omicron kembali naik maka proyek-proyek emiten konstruksi berpeluang terganggu pengerjaannya. Sebaliknya, apabila dapat teratasi, maka proyek-proyek konstruksi akan berjalan lancar," kata Andhika saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (27/1).

 

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×