Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar obligasi global maupun domestik menunjukkan dinamika yang menarik pada perdagangan Selasa (13/10/2026).
Melemahnya bursa saham Wall Street dan penurunan harga minyak mentah global turut memengaruhi arah pergerakan imbal hasil (yield) obligasi di berbagai negara, sementara lelang Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia mencatatkan lonjakan permintaan yang signifikan.
Di Amerika Serikat, yield US Treasury bergerak turun di seluruh tenor menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan September.
Baca Juga: Rupiah Dibayangi Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS, Cek Proyeksi Rabu (15/10)
Yield untuk tenor 10 tahun menyusut -2.4 basis poin (bps) menjadi 5.22%, tenor 2 tahun turun ke 4.79% (-1.0 bps), dan tenor 30 tahun berada di level 5.56% (-3.6 bps).
Penurunan harga minyak dunia memberikan sedikit angin segar bagi prospek inflasi, meskipun kekhawatiran terhadap tekanan harga yang persisten masih membayangi.
Di sisi lain, bursa saham Wall Street ditutup melemah pada Selasa, di mana indeks Dow Jones turun 0,35%, Nasdaq Composite terkoreksi 0,15%, dan S&P 500 tergelincir tipis 0,02%.
Pelemahan saham semikonduktor dan kehati-hatian investor terhadap sektor teknologi menekan laju bursa, meski ada dukungan dari rilis pendapatan perusahaan.
Dari kawasan Eropa, inflasi umum (headline inflation) Jerman dilaporkan naik menjadi +3,3% secara tahunan (YoY) pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan +2,9% pada bulan sebelumnya.
Angka ini menandai level tertinggi sejak Desember 2023. Sementara itu, pasar obligasi di berbagai negara utama mencatatkan kinerja yang bervariasi.
Yield UK 10Y Gilt naik +0.7 bps ke 5,44%, berbanding terbalik dengan yield 10Y Bund Jerman yang turun -0.8 bps ke 3,46% dan yield 10Y JGB Jepang yang menyusut -0.6 bps ke 3,01%.
Beralih ke pasar domestik, lelang SUN pada Selasa (13/10/2026) dibanjiri peminat. Total penawaran yang masuk melonjak drastis menjadi Rp 64,8 triliun dari sebelumnya Rp 42,8 triliun.
Baca Juga: Pendapatan Emiten Konsumer Diprediksi Tumbuh, Cek Rekomendasi Saham dari Analis
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan akhirnya memperoleh dana sebesar Rp 35,0 triliun, melampaui target awal yang dipatok sebesar Rp 30 triliun.
Imbal hasil yang dimenangkan bergerak sedikit lebih rendah, mengindikasikan kondisi permintaan yang membaik dari para investor.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menjelaskan bahwa seri FR0110 mendominasi minat investor dalam lelang kali ini dengan total penawaran mencapai Rp 21,1 triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp 10,9 triliun pada level yield 7,07%.
"Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB bertenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,10-7,25% untuk hari ini," sebut Ridwan dalam risetnya, Rabu (14/10/2026).
Perdagangan seri secara langsung (outright trading) di pasar sekunder juga dipimpin oleh seri FR0110 dengan nilai transaksi menembus Rp 8,56 triliun, disusul oleh FR0111 sebesar Rp 5,75 triliun dan FR0107 senilai Rp 2,68 triliun. Frekuensi transaksi tertinggi diraih oleh seri FR0111, PBS030, FR0102, FR0110, dan FR0107.
Adapun untuk pergerakan nilai tukar, rupiah menunjukkan pemulihan tipis pada perdagangan Selasa. USD/IDR ditutup melemah 0,04% ke level 17.896 setelah sebelumnya sempat dibuka melemah.
Melemahnya dolar AS dan turunnya harga minyak turut memberikan dorongan positif bagi rupiah, di tengah kondisi eksternal yang masih menantang.
Baca Juga: HRTA Rencanakan Private Placement Maksimal 10%, Tunggu Restu Pemegang Saham
Menyikapi sentimen yang ada, Ridwan merekomendasikan sejumlah seri Surat Berharga Negara (SBN) dalam mata uang rupiah (Indo-GB) yang menarik untuk diperdagangkan hari ini, di antaranya adalah FR0064, FR0104, FR0087, FR0096, dan FR0100.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














