Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan terperosok hampir 2% pada perdagangan sesi I Kamis (11/6/2026), seiring memburuknya sentimen pasar global akibat lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) dan memanasnya kembali konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data RTI hingga pukul 12.00 WIB, IHSG anjlok 1,91% atau 112,98 poin ke level 5.789,397. Tekanan jual terjadi hampir merata di pasar, tercermin dari 500 saham yang melemah, sementara hanya 185 saham menguat dan 128 saham bergerak stagnan.
Baca Juga: Emiten Terafiliasi Aguan, PANI dan CBDK Bagi dividen Rp 5 per Saham dari Laba 2025
Aktivitas perdagangan terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 22,2 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 12,7 triliun.
Pelemahan IHSG dipicu oleh penurunan seluruh indeks sektoral. Sektor bahan baku (IDX Basic) memimpin koreksi dengan penurunan 6,27%, diikuti sektor energi (IDX Energy) yang merosot 3,17% dan sektor transportasi (IDX Trans) yang melemah 2,94%.
Saham top losers LQ45:
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 14,18% ke Rp 1.785
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 11,64% ke Rp 645
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 9,66% ke Rp 1.590
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (11/6): Anjlok Rp 24.000 Jadi Rp 2.689.000 Per Gram
Saham top gainers LQ45:
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 3,56% ke Rp 2.910
- PT Indosat Tbk (ISAT) naik 1,93% ke Rp 1.850
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 1,67% ke Rp 1.215
Baca Juga: Gelar RUPST, Aneka Tambang (ANTM) Bagi Dividen Tunai Hingga Rombak Jajaran Pengurus
Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa Asia. Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1%, sementara bursa Taiwan dan Jepang masing-masing melemah 1,5%.
Sentimen negatif berasal dari Wall Street yang terkoreksi tajam setelah data menunjukkan inflasi AS pada Mei meningkat pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Selain itu, investor juga mencermati meningkatnya risiko geopolitik setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan meningkatkan serangan jika kesepakatan damai dengan Teheran tidak segera tercapai.
Baca Juga: IHSG Menghijau Awal Perdagangan Kamis (11/6) Pagi di Tengah Kekhawatiran Geopolitik
Situasi semakin memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi global.
Langkah tersebut mendorong harga minyak mentah Brent melonjak 1,6% ke level US$ 94,55 per barel pada perdagangan Asia.
Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













