Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (8/10/2026), setelah sehari sebelumnya terkoreksi akibat sentimen eksternal.
Kenaikan harga minyak dunia, imbal hasil US Treasury, dan penguatan dolar AS menjadi sejumlah faktor yang membatasi ruang penguatan indeks.
Pada perdagangan Rabu (7/10), IHSG ditutup turun 0,75% ke level 6.146,72. Pelemahan terjadi sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang tertekan kenaikan harga minyak mentah dunia setelah serangan Houthi mengganggu jalur distribusi energi di Timur Tengah.
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi energi. Pada saat yang sama, penguatan indeks dolar AS (DXY) turut menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.
Baca Juga: IHSG Anjlok 6,96% di September 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
"Tekanan eksternal masih menjadi risiko utama IHSG," kata Herditya.
Menurut dia, pelaku pasar pada Kamis akan mencermati pergerakan harga energi dunia serta risalah rapat The Federal Reserve (FOMC minutes) untuk melihat arah kebijakan suku bunga AS selanjutnya.
Herditya memperkirakan IHSG rawan melanjutkan pelemahan dengan support di 6.134 dan resistance di 6.156.
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai IHSG masih memiliki peluang rebound teknikal.
Namun, momentum penguatan belum sepenuhnya terkonfirmasi karena kenaikan yield US Treasury dan indikator MACD yang belum menunjukkan sinyal bullish secara penuh.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap IHSG juga datang dari saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang terlibat dalam transaksi di pasar negosiasi.
Di sisi lain, pasar mendapat sentimen positif dari keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market.
Baca Juga: IHSG Rawan Koreksi, Berikut 6 Rekomendasi dari BNI Sekuritas (2/10)
Cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di US$ 146,3 miliar pada September 2026, meski turun tipis dari US$ 146,5 miliar pada Agustus, juga menjadi penopang sentimen.
Reza memperkirakan area support IHSG berada di 6.100-6.120, sedangkan resistance sekaligus area gap berada di 6.200-6.240.
Untuk strategi trading, Herditya menyarankan investor mencermati saham DEWA pada rentang Rp 380-Rp 396 per saham, HRTA di Rp 2.250-Rp 2.300, dan TLKM di Rp 2.400-Rp 2.460 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














