kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Simak Arah IHSG Pekan Ini (26-30 Januari), Bakal Melemah atau Menguat?


Senin, 26 Januari 2026 / 05:15 WIB
Simak Arah IHSG Pekan Ini (26-30 Januari), Bakal Melemah atau Menguat?
ILUSTRASI. IHSG berpeluang fluktuatif akibat rebalancing LQ45 dan aturan MSCI. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar saham domestik pada pekan ini diproyeksikan dipengaruhi sejumlah katalis utama, mulai dari agenda rebalancing indeks LQ45 hingga rencana pengumuman pembaruan metodologi penghitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan melakukan kocok ulang indeks saham unggulan LQ45 pada Februari mendatang. Di sisi lain, MSCI akan mengumumkan pembaruan aturan terkait metodologi free float pada 30 Januari 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai, dalam jangka pendek pergerakan IHSG masih berpeluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring respons pasar terutama terhadap keputusan MSCI serta arah aliran dana asing.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound pada Senin (26/1/2026), Cek Rekomendasi Saham Pilihannya

Menurut Reza, pelaku pasar akan mencermati potensi perubahan metodologi MSCI terkait free float yang berisiko memicu arus keluar dana asing.

"Kekhawatiran tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur dan bersikap defensif sambil menunggu kepastian keputusan," kata Reza dalam risetnya, Minggu (25/1/2026).

Reza menilai tren IHSG secara teknikal masih berada dalam fase bullish. Indeks mampu rebound dari area support di kisaran 8.825–8.880. Apabila rebound berlanjut, IHSG berpeluang menguat menuju area resistance di rentang 9.030–9.132.

Namun, pada skenario bearish, jika IHSG belum mampu menembus resistance di level 8.980, indeks berisiko melanjutkan pelemahan dengan target support berikutnya di sekitar 8.850.

Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee menilai IHSG mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir, meski bursa global dan regional cenderung menguat. 

Kondisi tersebut terjadi seiring sikap pelaku pasar yang masih menunggu hasil evaluasi serta pembaruan metodologi perhitungan free float saham Indonesia oleh MSCI.

"IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 8.837 sampai level 8.715 dan resistance di level 9.107 sampai level 9.174," ucap Hans kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Dikoleksi Asing Sepekan Terakhir di Tengah Koreksi IHSG

Volatilitas Jangka Pendek

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menyampaikan, dalam jangka pendek pergerakan IHSG berpotensi mengalami volatilitas seiring mendekatnya jadwal rebalancing indeks LQ45. 

Hal ini sejalan dengan karakter saham-saham LQ45 yang memiliki tingkat likuiditas tinggi, sehingga setiap perubahan komposisi indeks kerap memicu fluktuasi pasar.

"Rebalancing LQ45 juga kerap menjadi katalis masuknya dana asing maupun investor institusi," terang Nafan kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Bagi investor, strategi yang dapat dicermati adalah mengedepankan pendekatan teknikal, sambil tetap memperhatikan aspek valuasi, kinerja fundamental, serta arus kas emiten. Adapun saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, TLKM, BBNI, dan ADRO secara umum masih menjadi kelompok big caps yang dinilai layak untuk dicermati.

Disamping itu, Research Analyst Henan Sekuritas, James Stanley Widjaja, menilai saham-saham yang berpeluang masuk ke dalam LQ45 berpotensi mengalami dorongan pembelian bersifat forced buying. 

Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan masih cukup tinggi. Oleh karena itu, strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. James menekankan keputusan investasi sebaiknya tetap mengacu pada analisis teknikal, kondisi makroekonomi, serta kinerja fundamental emiten.

"Bagi investor jangka panjang, rebalancing dapat dimanfaatkan untuk evaluasi portofolio," kata James kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Baca Juga: Ini Penyebab IHSG Tumbang 1,37% Dalam Sepekan

James juga menyebutkan beberapa saham yang layak dipantau investor saat ini. Salah satunya ASII yang saat ini masih menjalani strategic review atas portofolio bisnisnya, dengan target penyelesaian pada paruh pertama 2026. 

Mengacu pada pengalaman Hongkong Land Holdings dan Dairy Farm Group, dua anak usaha Jardine, proses strategic review yang disertai pelepasan aset berpotensi meningkatkan kemampuan perusahaan dalam membagikan dividen. 

Dengan begitu, James menilai dividend yield ASII berpeluang meningkat pasca selesainya strategic review, dari estimasi saat ini sekitar 6,7% dengan asumsi dividend payout ratio sebesar 50%.

Sementara itu, pilihan lainnya yang layak dicermati ialah INCO. Emiten yang bergerak di bidang pertambangan ini telah memperoleh sekitar 30% kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari total rencana produksi yang diajukan. Ini sejalan dengan kebijakan Kementerian ESDM yang menurunkan target produksi nikel nasional menjadi 250–260 juta ton pada 2026 guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global serta menopang harga nikel. 

Meski kuota yang diperoleh lebih rendah dari perkiraan awal, kebijakan tersebut dinilai berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan harga nikel dunia.

James menyarankan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.435-Rp 7.450 dan stop loss Rp 6.325-Rp 6.350, serta buy saham INCO di target harga Rp 6.975-Rp 7.000 dan

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyampaikan saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 berpeluang rebound dan mencatatkan kinerja yang lebih solid pada 2026. Prospek tersebut didukung oleh potensi rotasi aliran dana yang kembali mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar.

Meski performa LQ45 tertekan sepanjang 2025, valuasi yang dinilai relatif atraktif membuka peluang sektor perbankan dan konsumsi defensif menjadi motor pemulihan. Namun demikian, ketidakpastian global dan domestik masih berpotensi membayangi pergerakan pasar sepanjang 2026.

"Setelah tertinggal dua tahun berturut-turut, LQ45 berpeluang mengalami re-rating karena valuasinya dinilai sudah atraktif dibanding IHSG," ujar Harry Su kepada Kontan, Minggu (25/1/2026).

Sentimen pendukung pergerakan LQ45 ialah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan The Fed. Ini diperkirakan akan mendorong minat investor terhadap saham-saham blue chip yang likuid, khususnya di sektor perbankan seperti BBCA dan BMRI, serta sektor telekomunikasi.

Di sisi lain, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai pelaku pasar. Mulai dari tekanan harga komoditas, tingginya biaya dana, volatilitas pasar, hingga ketegangan geopolitik global berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pergerakan indeks LQ45 ke depan.

James menyarankan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.435-Rp 7.450 dan stop loss Rp 6.325-Rp 6.350, serta buy saham INCO di target harga Rp 6.975-Rp 7.000 dan stop loss Rp 5.900-Rp 5.925 per saham

Selanjutnya: Aksi Jenderal Xi Jinping: Teman Masa Kecil Pun Dicopot, Ada Apa di Militer China?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×