kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

IHSG masih berpotensi melemah pada Rabu (18/9), ini sebabnya


Rabu, 18 September 2019 / 08:40 WIB
IHSG masih berpotensi melemah pada Rabu (18/9), ini sebabnya
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia

Reporter: Yasmine Maghfira | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 17,26 poin atau naik 0,28% ke level 6.236,7 pada perdagangan Selasa (17/9). Sektor industri perkebunan, infrastruktur, dan konsumsi menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Sementara, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 585 miliar.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, salah satu faktor penguatan kemarin bermula dari pernyataan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi. Ia mengatakan Presiden AS Donald Trump harus melakukan sesuatu untuk menantang praktik perdagangan China. Pelosi meyakini jalan yang dipilih Trump ada yang benar, tetapi cara yang dilakukannya salah. Menurut Pelosi, apa yang dilakukan Trump tidak seharusnya dapat berdampak juga pada masyarakat AS, khususnya konsumen dan pebisnis di sana.

Pernyataan Pelosi ini merujuk komentar Trump terakhir yang mengatakan mungkin ada kesepakatan bersama dengan China dalam waktu dekat atau mungkin bisa sebelum pemilu AS pada November 2020, atau bahkan sehari setelah pemilihan usai. 

Baca Juga: Simak rekomendasi ERAA, TKIM, dan empat saham lain dari Profindo Sekuritas untuk Rabu

Kekhawatiran Pelosi juga didukung oleh survei terbaru bulan September yang dilakukan oleh Merril Lynch Bank of America yang memperkirakan sekitar 38% fund manager asset management mengatakan akan terjadi resesi pada tahun depan. Angka tersebut naik dari sebelumnya di bulan Agustus yang sebesar 34%.

Persentase 38% merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2011. Namun, para Fund Manager itu juga melihat bahwa ada tiga hal yang mendorong potensi bullish untuk aset yang berisiko, yaitu adanya stimulus fiskal dari Jerman, pemotongan tingkat suku bunga 50 bps dari The Fed, dan belanja infrastruktur dari China. 

Nico menilai tiga hal itu tidak hanya memperkuat pasar global dan IHSG kemarin tapi juga menjadi booster selama enam bulan ke depan guna menjaga minat para pelaku pasar dan investor untuk tetap berinvestasi di aset berisiko. Sementara, risiko yang dikhawatirkan pelaku pasar adalah 40% dari perang dagang yang masih berlangsung. Selain itu, ada impotensi kebijakan moneter dan bubble di pasar obligasi. 

Baca Juga: Wall Street menanjak setelah Saudi menyatakan produksi minyak pulih akhir September

Selain itu, faktor yang mendorong penguatan kemarin adalah ekspektasi pasar terhadap kemungkinan The Fed memangkas suku bunga 25 bps di pekan ini. Namun, Nico menilai tampaknya para pelaku pasar masih akan menginginkan pemotongan bunga The Fed sebesar 25 bps kembali di bulan Desember. 

Dari sisi domestik, neraca keuangan cenderung bergerak terbatas. Hal itu menggambarkan adanya antisipasi terhadap stabilitas perekonomian dalam negeri. Defisit neraca berjalan yang melebar kini menjadi fokus dan antisipasi bagi para pelaku pasar di tengah tekanan dari eksternal. Hal itu terbukti dari penjualan bersih investor asing yang mencatatkan sebesar US$ 213 juta selama satu bulan terakhir. 

Oleh karenanya, meski saham IHSG kemarin mengalami penguatan, Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksi secara teknikal IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas. Saham IHSG dapat diperdagangkan pada level 6.200-6.260.



Video Pilihan

TERBARU

×