Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini.
IHSG melemah tipis 1,62 poin atau 0,03% ke level 6.234,49 pada akhir perdagangan Senin (3/8/2026).
Sebanyak 292 saham naik, 348 saham turun, dan 150 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 38,35 miliar saham, dengan total nilai transaksi sebesar Rp 14,19 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pelemahan IHSG terjadi setelah bergerak volatil sepanjang sesi pasca-rilis data makroekonomi Indonesia.
"Hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan deflasi secara bulanan dan perbaikan dari sisi neraca perdagangan," ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Baca Juga: IHSG Melemah Menjadi 6.234, Simak Rekomendasi Saham PGEO, BBCA, dan DSSA Selasa (4/8)
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, melihat pergerakan IHSG hari ini mencerminkan sikap wait and see investor menjelang sejumlah rilis data ekonomi penting sepanjang pekan ini.
Dari domestik, pasar mencerna PMI Manufaktur Indonesia yang kembali ekspansif ke level 50,2, serta inflasi Juli yang tetap terkendali di 2,88% secara tahunan (year on year/YoY), yang menjadi sentimen positif.
Namun, sentimen tersebut diimbangi oleh defisit neraca perdagangan sebesar US$450 juta akibat lonjakan impor, sehingga membatasi ruang penguatan IHSG.
"Secara teknikal, IHSG juga masih bergerak di area supply kuat 6.200–6.400 sehingga penguatan cenderung terbatas sambil menunggu katalis baru untuk melanjutkan kenaikan," ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).
Dari eksternal, mayoritas bursa Asia masih bergerak terkoreksi. Sentimennya berasal dari ketidakpastian terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah, serta antisipasi investor terhadap rilis data ekonomi penting dari China, Amerika Serikat, dan Indonesia sepanjang pekan ini.
"Ini membuat pergerakan IHSG cenderung terbatas meski fundamental domestik masih cukup solid," paparnya.
Herditya memperkirakan IHSG pada perdagangan Selasa (4/8/2026) masih bergerak volatil dengan kecenderungan terkoreksi, dengan level support di 6.144 dan resistance di 6.306.
"Secara sentimen, investor akan mencermati nilai tukar rupiah dan juga data ketenagakerjaan AS," ungkapnya.
Herditya pun menyarankan investor mencermati saham AMMN dengan target harga Rp 4.620–Rp 4.900 per saham, ARCI Rp 1.120–Rp 1.170 per saham, dan HRUM Rp 925–Rp 970 per saham.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi pada Januari – Juli 2026 Anjlok 16,23% YoY
Reza memproyeksikan IHSG pada perdagangan Selasa akan bergerak terbatas dengan support di 6.186–6.130 dan resistance pada 6.268–6.300.
Pergerakan pasar masih akan dipengaruhi oleh rilis laporan keuangan semester I 2026 sebagai katalis utama domestik.
Dari eksternal, investor mencermati perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan harapan deeskalasi konflik di Timur Tengah, sehingga berpotensi meredakan tekanan terhadap harga minyak.
"Meski demikian, pasar tetap mewaspadai risiko perlambatan ekonomi global, termasuk meningkatnya tekanan ekonomi di Inggris akibat gangguan jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz," tuturnya.
Reza pun merekomendasikan beli untuk TINS, EMTK, dan JELI dengan target harga masing-masing Rp 3.890–Rp 4.020 per saham, Rp 540–Rp 560 per saham, dan Rp 800–Rp 860 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
