Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar saham diprediksi bakal bergerak positif sepanjang 2026. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dari dalam maupun luar negeri.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan, pasar modal Indonesia masih cukup prospektif. Salah satunya didorong oleh pertumbuhan investor seiring adanya program literasi dan inklusi pasar modal yang mana jumlah investor di Indonesia sudah mencapai 19,19 juta Single Investor Identification (SID).
Selain itu, peningkatan jumlah Initial Public Offering (IPO) turut menjadi modal berharga bagi pertumbuhan pasar saham dalam negeri.
"Kami melihat dengan kondisi makro ekonomi, tensi global, hingga suku bunga bank sentral akan mendorong optimisme untuk penyerapan dana melalui publik," ujar dia, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: IHSG Melesat 1,17% ke 8.748 pada Perdagangan Perdana Tahun Ini, Jumat (2/1/2026)
Permintaan domestik yang kuat juga menjadi katalis positif bagi pasar. Hal ini terbukti dengan terjadinya pergeseran kepemilikan aset oleh lokal menjadi 60,9% per Oktober 2025, sehingga menjadi pertanda bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan peningkatan kepercayaan domestik meski asing cenderung menurun.
Audi melanjutkan, ada beberapa faktor penggerak IHSG sepanjang 2026. Pertama, pelonggaran suku bunga acuan, termasuk oleh Bank Indonesia (BI) yang akan memberikan ruang penurunan cost of fund sehingga demand kredit dan ekspansi kembali bergairah.
Dari The Fed, wacana penggantian ketua The Fed oleh Donald Trump yang lebih pro-pasar akan menjadi angin segar. Pasalnya, berdasarkan Economic Projection, hanya akan terjadi pemangkasan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak satu kali pada tahun 2026.
Kedua, potensi penguatan IHSG juga ditopang oleh stabilitas ekonomi makro dalam negeri dan nilai rupiah.
Ketiga, kebijakan pengurangan defisit AS oleh Trump masih akan mempengaruhi pasar global, khususnya jika kebijakan tarif akan masih menjadi senjata.
Baca Juga: Belum Ngebut seperti IHSG, OJK Singgung Kinerja Indeks LQ45 Sepanjang 2025
"Secara umum, kami berpandangan penguatan IHSG akan ditopang oleh sustainability earnings dan konsistensi likuiditas global," tutur dia.
Audi juga menilai, inflow dana asing akan bergerak positif pada 2026 sejalan dengan kebijakan pelonggaran suku bunga acuan yang mendorong pelemahan yield obligasi.
Sebagai catatan, selama enam bulan terakhir, terjadi inflow dari investor asing sebanyak Rp 35 triliun yang diikuti oleh tren shifting ke saham-saham blue chip.
Tren seperti ini dipercaya masih akan berlanjut pada 2026, dengan catatan stabilitas ekonomi dalam negeri tetap terjaga. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mesti bisa tumbuh di atas 5% serta inflasi terjaga dan neraca yang solid.
Berkaca dari situ, Audi memprediksi emiten yang sensitif terhadap suku bunga acuan seperti keuangan, properti, dan teknologi layak dipertimbangkan oleh investor. Sektor lain yang bisa dipertimbangkan adalah energi terbarukan.
Audi memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 9.300-9.700 sebagai target optimistis tahun 2026. Hal ini dengan asumsi Earning per Share (EPS) tumbuh 13%-15%, tidak ada kejutan global, kurs rupiah stabil, dan ada dukungan likuiditas global.
Untuk target moderat, Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 8.400-8.800 pada 2026 dengan asumsi EPS tumbuh 9%-11%, likuiditas global netral, dan investor asing bersikap selektif.
Adapun untuk target pesimistis, Audi memprediksi IHSG bisa saja bergerak di level 7.300-7.900 pada tahun ini dengan asumsi EPS hanya tumbuh 7%-9%, terjadi outflow asing secara berkala, dan risk premium ikut naik.
Selanjutnya: Prakiraan Cuaca BMKG Sumatera Utara 4-12 Jan 2026: Info Cuaca dan Suhu Wilayah
Menarik Dibaca: 5 Film Korea Tersedih yang Bakal Bikin Nangis Penontonnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













