Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar saham domestik masih dibayangi ketidakpastian memasuki awal November 2026. Tekanan arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah, serta sejumlah agenda ekonomi global dan domestik berpotensi membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak fluktuatif.
Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG ditutup melemah 0,80% atau turun 41,01 poin ke level 5.057,05. Dengan demikian, indeks tercatat terkoreksi sebesar 7,03% sepanjang perdagangan sepekan.
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, tekanan jual masih membayangi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini. Salah satu faktor yang memengaruhi indeks adalah tekanan arus keluar dana asing (outflow) setelah pengumuman usulan MSCI.
Di sisi lain, pemangku kebijakan telah mengambil sejumlah langkah mitigasi. Selain itu, beberapa emiten juga melakukan aksi pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dengan kebijakan yang diperpanjang hingga 2027.
Baca Juga: Merdeka Battery (MBMA) Gelar Private Placement, Bakal Terbitkan 10,8 Miliar Saham
“Pasar juga menanti akan adanya kebijakan HSC yg akan berlaku 2 Nov-26, dimana akan dikeluarkan dari formulasi perhitungan IHSG. Lalu, rilis FFR yang masih berada pada level 3,75%-4% pada pekan ini, meskipun tidak menutup kemungkinan akan adanya kenaikan pada akhir 2026 dan awal 2027,” ujar Herditya kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Selain sentimen tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut memberikan tekanan terhadap IHSG. Saat ini, rupiah berada di level Rp 18.158 per dolar AS.
Untuk perdagangan pekan depan, Herditya memperkirakan IHSG masih berisiko melanjutkan koreksi. Ia memproyeksikan indeks bergerak pada level support 4.907 dan resistance 5.317.
Menurutnya, arah pergerakan IHSG akan dipengaruhi implementasi kebijakan HSC pada 2 November 2026, serta sejumlah rilis data ekonomi domestik. Data yang menjadi perhatian meliputi indeks manufaktur PMI, inflasi Indonesia yang diperkirakan masih meningkat, serta pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB).
Pelaku pasar juga akan mencermati pelaksanaan pemilihan paruh waktu (midterm election) di Amerika Serikat dan hasil tinjauan MSCI pada pekan berikutnya.
Dari sisi rekomendasi saham, Herditya menyarankan investor mencermati tiga saham, yakni PT XL Axiata Tbk (EXCL) pada rentang 1.765-1.990, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di kisaran 1.430-1.465, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) pada rentang 1.970-2.030.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan IHSG mengakhiri perdagangan Jumat (30/10/2026) di zona merah. Meski sempat tertekan hingga menyentuh level 4.979, indeks berhasil kembali ditutup di atas level psikologis 5.000.
Baca Juga: BEI Bakal Depak Saham HSC dari Indeks, Bagaimana Nasib Emiten?
Dari pasar global, Bank of Japan (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25% dalam pertemuan pada Jumat (30/10/2026). Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar setelah sebelumnya BOJ menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, yakni pada Juni dan September, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).
Memasuki pekan depan, investor akan mencermati pelaksanaan pemilu paruh waktu di Amerika Serikat pada 3 November 2026.
Sementara dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis meliputi indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, cadangan devisa, serta indeks harga rumah.
“Secara teknikal diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 4,900-5,000. Jika IHSG bertahan di atas level 5,000, maka IHSG berpeluang akan bergerak sideways pada kisaran 5,000-5,200 pada pekan depan,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














