Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini diperkirakan masih menghadapi tekanan jual. Pelaku pasar mencermati arus dana asing, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga kondisi geopolitik yang berpotensi membuat IHSG bergerak volatil pada perdagangan Senin (21/9/2026).
Pada perdagangan Jumat (18/9), IHSG ditutup turun 0,33% ke level 6.441,16. Pelemahan tersebut terjadi di tengah mayoritas bursa Asia yang justru mencatat penguatan.
Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG tidak sepenuhnya berasal dari sentimen eksternal. Arus dana asing yang sepanjang pekan mencatat net sell sekitar Rp2,9 triliun turut menjadi faktor yang membebani pergerakan indeks.
“IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Penutupan Jumat di level 6.441 setelah kembali melemah 0,33%, di saat mayoritas bursa Asia justru menguat, menunjukkan bahwa persoalan IHSG saat ini bukan semata-mata berasal dari sentimen eksternal,” ujar Hendra.
Menurut Hendra, peluang IHSG untuk mengalami technical rebound masih terbuka. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menjadi indikasi perubahan menuju tren bullish yang solid.
Baca Juga: Cek Prospek dan Rekomendasi Saham Petrosea (PTRO) Setelah Raih Lonjakan Kinerja
Senada, pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project William Hartanto memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin masih akan bergerak sideways. Ia memproyeksikan indeks berada dalam rentang 6.400 hingga 6.512.
Level support dan resistance IHSG
Dari perspektif teknikal, Hendra melihat level 6.400 sebagai support awal IHSG. Sementara itu, area 6.350 dinilai sebagai support penting yang perlu dipertahankan.
Di sisi atas, level 6.500 menjadi area yang perlu ditembus IHSG untuk membuka peluang penguatan menuju kisaran 6.550-6.600.
“Selama mampu bertahan di atas 6.350, peluang technical rebound masih terbuka, sedangkan penembusan 6.600 akan menjadi sinyal yang lebih positif bagi perubahan momentum,” ujarnya.
Hendra menambahkan, sentimen global masih menjadi salah satu faktor yang akan menentukan arah pergerakan IHSG. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya perkembangan inflasi.
Di sisi lain, penurunan harga minyak memberikan ruang bagi pasar untuk bernapas. Harga Brent berada di sekitar US$102,68 per barel, sedangkan WTI sekitar US$100,08 per barel.
Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Kendati demikian, risiko yang berasal dari konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Baca Juga: HPM Nikel Direvisi, Begini Dampaknya terhadap Saham MBMA, NCKL, INCO dan ANTM
Rupiah dan isu MSCI jadi perhatian
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah di sekitar Rp17.758 per dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor. Selain nilai tukar, arus dana asing, perkembangan kebijakan suku bunga, serta isu terkait MSCI berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham domestik.
William turut mencermati sejumlah saham dari sektor pertambangan dan kelompok emiten konglomerasi, khususnya yang berkaitan dengan sosok Haji Isam.
Beberapa saham yang disebut antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU).
Sementara itu, Hendra mencermati beberapa saham lain, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL).
Hendra menyebut target harga untuk INCO berada di level 5.200, MAPI sebesar 1.650, MBMA sebesar 580, dan MTEL sebesar 550.
Dengan berbagai faktor tersebut, IHSG diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi pada awal pekan. Pergerakan indeks selanjutnya akan dipengaruhi kemampuan IHSG menjaga level support, perkembangan arus dana asing, serta dinamika sentimen global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














