kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.713   -78,00   -0,46%
  • IDX 8.321   -659,01   -7,34%
  • KOMPAS100 1.150   -89,31   -7,20%
  • LQ45 817   -59,35   -6,77%
  • ISSI 304   -26,91   -8,14%
  • IDX30 420   -24,08   -5,42%
  • IDXHIDIV20 495   -23,91   -4,60%
  • IDX80 127   -10,17   -7,39%
  • IDXV30 138   -6,33   -4,40%
  • IDXQ30 135   -7,39   -5,18%

IHSG Anjlok Usai MSCI Bekukan Perubahan Indeks, Rupiah Justru Menguat


Rabu, 28 Januari 2026 / 10:38 WIB
IHSG Anjlok Usai MSCI Bekukan Perubahan Indeks, Rupiah Justru Menguat
ILUSTRASI. Indeks Saham Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia terpukul pada Rabu (28/1/2026) setelah penyedia indeks global MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan terkait saham Indonesia dalam indeksnya. 

Kebijakan ini memicu aksi jual di pasar, meski di sisi lain nilai tukar rupiah justru menguat mengikuti tren mata uang Asia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga 5,6% pada perdagangan siang hari, setelah sempat merosot sampai 7% di awal sesi. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam hampir 10 bulan terakhir, mencerminkan tekanan kuat terhadap sentimen investor.

MSCI menyatakan akan menghentikan sementara masuknya saham Indonesia baru maupun peningkatan bobot saham yang sudah ada di dalam indeksnya. 

Baca Juga: IHSG Anjlok: Waspada, Investor Asing Catat Net Sell Rp1,9 Triliun!

Langkah ini berlaku hingga otoritas terkait menuntaskan sejumlah kekhawatiran investor, terutama soal transparansi data, struktur kepemilikan tersembunyi, serta dugaan perdagangan terkoordinasi yang berpotensi mendistorsi harga saham.

Menanggapi keputusan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian tengah berdiskusi dengan MSCI. 

Fokus pembahasan diarahkan pada perbaikan transparansi data dan penguatan tata kelola pasar.

Manajer investasi SGMC Capital yang berbasis di Singapura, Mohit Mirpuri, menilai Indonesia saat ini berada dalam masa “uji kelayakan” hingga Mei mendatang. Kondisi tersebut membuat sentimen pasar cenderung negatif dalam jangka pendek. 

Meski begitu, ia menegaskan tidak ada tekanan penjualan paksa dari investor global akibat kebijakan MSCI ini.

Baca Juga: IHSG Anjlok ke Bawah 9.000, Net Sell Asing Mencapai Rp 1,33 Triliun Hari Ini (22/1)

Di tengah tekanan pasar saham, rupiah justru menguat sekitar 0,2%. Penguatan ini sejalan dengan tren positif mata uang Asia lainnya, yang terus mendapat dorongan dari melemahnya dolar Amerika Serikat.

Indeks mata uang negara berkembang versi MSCI naik 0,5% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, melanjutkan reli selama lima sesi beruntun. Ringgit Malaysia bahkan melonjak 0,7% ke level tertinggi sejak Mei 2018.

Sementara itu, indeks dolar bertahan di kisaran 96,131 setelah sebelumnya jatuh lebih dari 1% dan menyentuh level terendah dalam empat tahun. 

Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan nilai dolar masih sangat baik, pernyataan yang justru memperkuat aksi jual mata uang tersebut di pasar global.

Baca Juga: IHSG Anjlok 1,37% di Pekan Ini: Cek Sektor yang Paling Terpukul!

Pergerakan bursa saham dan mata uang Asia pada hari yang sama berlangsung bervariasi, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika global sekaligus isu spesifik di masing-masing negara.

Selanjutnya: Likuiditas Longgar, OK Bank Proyeksi DPK Tumbuh 10% di Tahun 2026

Menarik Dibaca: Darurat Virus Nipah di India, Waspadai Gejala & Bahaya Kematian yang Mengintai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×