Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam sepanjang Juni 2026 dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, IHSG terkoreksi 7,90% secara bulanan (month on month/MoM) menjadi 5.643,19 pada akhir Juni, dari posisi 6.127,38 pada akhir Mei. Sejak awal tahun (year to date/YtD), IHSG bahkan telah melemah 34,74%.
Meski demikian, IHSG berhasil mencatatkan rebound pada perdagangan Rabu (1/7). Indeks ditutup menguat 51,92 poin atau 0,92% ke level 5.695,11.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, koreksi IHSG sepanjang Juni lebih dipengaruhi faktor sentimen dibandingkan pelemahan fundamental emiten.
Baca Juga: Harga Kripto Terkoreksi pada Bulan Juni, Rotasi Dana ke Saham AI dan IPO Jadi Pemicu
Menurut dia, terdapat tiga faktor utama yang membebani pasar saham domestik, yakni penurunan penilaian Information Flow oleh MSCI yang disertai ancaman penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, kenaikan BI-Rate menjadi 5,75%, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belum stabil.
"Koreksi ini lebih bersifat sentiment-driven dibandingkan fundamental, karena sekitar 80% emiten yang melantai di bursa pada kuartal I masih mencatat laba, rata-rata pertumbuhan laba emiten LQ45 mendekati 30%, serta mayoritas indikator penilaian MSCI masih tetap solid," ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (1/7).
Wafi memproyeksikan prospek IHSG pada paruh kedua 2026 masih positif, meskipun ruang penguatannya diperkirakan terbatas selama ketidakpastian terkait MSCI belum mereda, terutama menjelang evaluasi MSCI pada November mendatang.
Dalam skenario dasar, ia memperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran 6.000 hingga 6.500 pada akhir tahun dengan asumsi reformasi pasar modal berjalan kredibel dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga.
Menurut Wafi, koreksi tajam yang terjadi belakangan justru membuka peluang akumulasi pada saham-saham blue chip yang memiliki fundamental kuat namun ikut terkoreksi akibat aksi jual secara menyeluruh (indiscriminate selling).
"Ini bisa menjadi entry window yang menarik untuk saham-saham berfundamental solid. Namun, belum menjadi momentum untuk all-in di seluruh pasar. Investor tetap perlu selektif dan menghindari saham yang memiliki kekhawatiran tinggi terkait potensi eksklusi MSCI," kata Wafi.
Untuk menghadapi volatilitas pasar, Wafi menyarankan investor ritel mencermati sejumlah indikator utama, antara lain pergerakan nilai tukar rupiah, arus dana asing (foreign flow), perkembangan reformasi OJK, BEI, dan KSEI menjelang tinjauan MSCI pada November, musim rilis kinerja keuangan kuartal II serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) dan pergerakan indeks dolar AS (DXY).
Baca Juga: Indocement (INTP) Masih Dibayangi Kelebihan Pasokan Semen, Begini Prospek Sahamnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














