kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Harga Kripto Terkoreksi pada Bulan Juni, Rotasi Dana ke Saham AI dan IPO Jadi Pemicu


Rabu, 01 Juli 2026 / 16:50 WIB
Harga Kripto Terkoreksi pada Bulan Juni, Rotasi Dana ke Saham AI dan IPO Jadi Pemicu
ILUSTRASI. Altcoin crypto (Jakub Porzycki/NurPhoto via REUTERS)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto kompak melemah sepanjang Juni 2026. Koreksi tersebut dipicu oleh rotasi dana investor ke saham sektor kecerdasan buatan (AI) dan penawaran umum perdana (IPO) berskala jumbo, di tengah tekanan arus keluar dana dari ETF kripto serta sentimen makroekonomi global yang masih membayangi.

Berdasarkan data Bloomberg, harga Bitcoin terkoreksi 20,68% sepanjang Juni menjadi US$ 58.327 dari sebelumnya US$ 73.536. Secara year to date (YtD), Bitcoin telah melemah 34,04%.

Sementara itu, Ethereum turun lebih dalam. Harga aset kripto terbesar kedua tersebut terkoreksi 21,69% sepanjang Juni menjadi US$ 1.563 dari US$ 1.997. Secara YtD, Ethereum telah merosot 47,36%.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Terkoreksi 20% di Juni 2026, Ini Penyebabnya

Mengacu laman CoinMarketCap pada Rabu (1/7) pukul 16.40 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 58.796 atau turun 0,79% dibanding sehari sebelumnya. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan di level US$ 1.578, melemah 0,24% secara harian.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, pelemahan pasar kripto kali ini lebih banyak dipicu oleh perpindahan modal institusi ke pasar saham, terutama saham bertema AI dan IPO besar di Amerika Serikat yang dinilai menawarkan prospek imbal hasil lebih menarik.

"Di tengah reli saham AI dan euforia IPO besar di Wall Street, investor institusi mulai mengalihkan likuiditas dari kripto ke aset yang dinilai memiliki narasi fundamental lebih kuat. Akibatnya, pasar kripto mengalami kekeringan likuiditas," ujar Fyqieh kepada Kontan, Rabu (1/7/2026).

Menurut Fyqieh, data on-chain CryptoQuant menunjukkan kapitalisasi terealisasi (realized cap) Bitcoin menyusut hingga puluhan miliar dolar AS dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu mengindikasikan pelemahan pasar bukan hanya disebabkan aksi jual investor ritel, tetapi juga minimnya permintaan baru dari investor besar.

Selain itu, tekanan juga datang dari arus keluar dana pada ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Sepanjang Juni, ETF Bitcoin Spot mencatat net outflow sekitar US$ 6,4 miliar, menjadi salah satu arus keluar bulanan terbesar sejak produk tersebut diluncurkan.

Fyqieh menilai kondisi tersebut dipengaruhi aksi ambil untung dan rebalancing portofolio oleh investor institusi pada pertengahan tahun. Di sisi lain, turunnya Coinbase Premium Index ke wilayah negatif menunjukkan tekanan jual dari investor institusi di AS lebih besar dibandingkan investor ritel global.

"Ketika data harian menunjukkan arus keluar ETF terus berlanjut, investor ritel ikut khawatir bahwa institusi mulai keluar dari pasar. Sentimen negatif ini memperparah tekanan jual di pasar spot global," kata Fyqieh.

Dari sisi makro, ekspektasi bahwa bank sentral AS masih mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama juga membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Menurut Fyqieh, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas dan uang tunai. Di saat yang sama, ketidakpastian regulasi aset kripto di AS juga membuat minat investor institusi tertahan.

Adapun Ethereum mengalami koreksi lebih dalam dibandingkan Bitcoin akibat sejumlah sentimen spesifik. Salah satunya adalah penundaan pembaruan jaringan (upgrade) Glamsterdam ke paruh kedua 2026 yang mengecewakan pelaku pasar.

Selain itu, Ethereum menghadapi persaingan yang semakin ketat dari jaringan Layer-1 seperti Solana dalam aktivitas transaksi dan sektor decentralized finance (DeFi).

"Tekanan semakin besar ketika kapitalisasi pasar Ethereum untuk pertama kalinya tersalip oleh Tether (USDT). Kondisi ini menjadi sinyal bahwa investor lebih memilih menyimpan dana di aset stabil dibandingkan mengambil risiko pada ETH," ujar Fyqieh.

Meski demikian, ia menilai pasar kripto belum memasuki fase kapitulasi penuh. Saat ini pasar masih berada pada fase localized capitulation atau kapitulasi lokal, yang ditandai proses pembersihan posisi spekulatif dan leverage tinggi.

Selama tidak muncul sentimen negatif besar baru, Fyqieh menilai kondisi tersebut justru dapat menjadi awal fase akumulasi sebelum pasar kembali pulih.

Ia memproyeksikan prospek Bitcoin dan Ethereum pada semester II 2026 masih cukup positif. Secara historis, Juli kerap menjadi periode pemulihan, sementara momentum kenaikan yang lebih kuat biasanya terjadi pada kuartal IV.

"Dengan potensi membaiknya kondisi makro dan pola musiman yang lebih mendukung di akhir tahun, Bitcoin dan Ethereum berpeluang keluar dari fase pembersihan saat ini dan kembali menguji level resistensi utama sebelum menutup tahun 2026," kata Fyqieh.

Di tengah koreksi, Fyqieh menyarankan investor menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) pada aset kripto berkapitalisasi besar seperti Bitcoin dan Ethereum. 

Ia juga mengingatkan agar investor mengurangi penggunaan leverage tinggi serta tetap menyimpan sebagian dana dalam stablecoin untuk memanfaatkan peluang ketika harga kembali berbalik naik.

Baca Juga: Dividen Erajaya (ERAA) Berpotensi Beri Yield 6,79%, Ini Jadwal Siapa yang Berhak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×