Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026). Hingga pukul 15.22 WIB, IHSG berada di level 4.995 atau turun 3,65% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Sebelumnya, IHSG telah terkoreksi 14,91% sepanjang pekan lalu ke level 5.185. Tekanan pasar berlanjut pada awal pekan ini seiring kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI. Jika perubahan tersebut terealisasi, saham-saham Indonesia berisiko menghadapi tekanan jual dari investor yang mengikuti indeks global.
Dalam laporan Syailendra Weekly Update per 19 Oktober 2026, Tim Riset Syailendra Capital menyoroti potensi arus keluar dana asing sebagai salah satu risiko yang perlu dicermati apabila perubahan klasifikasi tersebut terealisasi.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Dekati US$ 110 per Barel, Ini Prospek Saham MEDC
“Risiko utama yang perlu dicermati adalah potensi arus keluar dana asing, terutama dari saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan dalam indeks MSCI Indonesia,” tulis Tim Riset Syailendra Capital dalam keterangannya, Senin (19/10/2026)..
MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi tersebut pada 15 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat. Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian mencakup transparansi kepemilikan saham, konsentrasi kepemilikan yang tinggi, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta penegakan aturan yang dinilai belum meyakinkan.
Proses konsultasi dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Tim Riset Syailendra Capital mencatat bahwa proses tersebut masih berada dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final.
“Proses konsultasi akan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027,” tulis Tim Riset Syailendra Capital.
Menurut catatan Syailendra Capital, sektor keuangan memiliki bobot 71,7% dalam MSCI Indonesia. Besarnya bobot sektor tersebut membuat pergerakan saham-saham keuangan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan apabila terjadi penyesuaian portofolio investor yang mengacu pada indeks MSCI.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Melemah 0,11% ke Rp 18.046 per Dolar AS pada Senin (19/10)
Tekanan di pasar saham juga terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Sepanjang pekan lalu, rupiah melemah 0,72% ke level Rp 18.053 per dolar AS, meskipun indeks dolar AS (DXY) turun ke 101,77.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level 7,36%. Namun, pasar obligasi domestik masih mencatat arus masuk dana asing sebesar Rp 3,7 triliun sepanjang pekan lalu.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke kisaran 5,08% pada akhir pekan. Penurunan imbal hasil tersebut terjadi di tengah aksi jual saham global dan meningkatnya minat investor terhadap aset yang dinilai lebih aman.
Dari Amerika Serikat, tekanan inflasi masih menjadi perhatian pasar. Inflasi konsumen pada September 2026 mencapai 3,7% secara tahunan (year on year/yoy), naik dari 3,4% pada bulan sebelumnya dan melampaui konsensus pasar sebesar 3,6%. Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6% yoy dari sebelumnya 2,4%.
Tekanan harga turut terlihat pada tingkat produsen. Indeks harga produsen atau producer price index (PPI) AS melonjak 1,3% secara bulanan (month on month/mom) pada September 2026, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,5%. Sementara itu, penjualan ritel tumbuh 0,8%, melampaui konsensus sebesar 0,3%.
Baca Juga: Medco (MEDC) Akuisisi 10% Blok Kutei, Fitch Proyeksi Leverage Naik 3 Kali
Perkembangan tersebut membuat ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve tetap menjadi perhatian investor global. Pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober, tetapi mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan 25 basis poin pada Desember.
Di dalam negeri, keputusan suku bunga Bank Indonesia pada 21 Oktober 2026 menjadi salah satu agenda penting yang dinantikan pelaku pasar. Kebijakan BI akan dicermati bersamaan dengan perkembangan nilai tukar rupiah dan sentimen terhadap pasar saham Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














