kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   4.000   0,16%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar


Jumat, 16 Oktober 2026 / 17:38 WIB
IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar
ILUSTRASI. Logo MSCI terlihat dalam foto ilustrasi tertanggal 20 Juni 2017 ini. REUTERS/Thomas White (REUTERS/Thomas White)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia tertekan hebat setelah penyedia indeks global MSCI mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market atau pasar mandiri.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG anjlok 11,4%, menjadi penurunan harian terdalam sejak Januari 1998. 

MSCI menilai kemajuan reformasi pasar modal Indonesia belum memadai, terutama dalam hal transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan.

Usulan perubahan klasifikasi ini menempatkan Indonesia pada posisi di bawah kategori frontier market atau pasar berkembang tingkat awal. 

MSCI sebelumnya membekukan perubahan tertentu pada indeks saham Indonesia sejak Januari 2026.

Baca Juga: IHSG Anjlok 2,59% di Tengah Rumor Pasar Terkait Sanksi Emiten

Kini, lembaga tersebut mengusulkan perubahan status yang berpotensi memicu arus keluar dana investor, terutama dari reksa dana dan produk investasi pasif yang mengikuti indeks MSCI. 

Juan Torres, pengelola bersama Neuberger Emerging Markets Equity Fund, menilai usulan tersebut cukup ekstrem.

"Kami terkejut dengan usulan MSCI untuk mengklasifikasikan ulang Indonesia sebagai pasar mandiri, kategori yang bahkan berada di bawah pasar frontier," ujarnya.

Menurut Torres, keputusan tersebut meningkatkan ketidakpastian dan membuat pasar berada dalam situasi tidak menentu untuk waktu yang panjang.

Ia menambahkan, kondisi makroekonomi Indonesia sejauh ini tidak menunjukkan tekanan yang berarti.

Tekanan di pasar saham juga diikuti pelemahan rupiah. Mata uang Indonesia turun 0,5% terhadap dollar AS pada Jumat, termasuk salah satu pelemahan terbesar di antara mata uang negara berkembang.

Dampak potensial terhadap arus modal pun menjadi perhatian investor. UBS memperkirakan perubahan klasifikasi MSCI dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar US$ 4 miliar dari Indonesia.

Baca Juga: IHSG Anjlok 2,05%, Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Jadi Beban

Sementara itu, JPMorgan memperkirakan dana investasi pasif yang keluar dari pasar Indonesia bisa mencapai US$ 4,8 miliar.

UBS juga memperkirakan Turki berpotensi mengalami arus keluar dana pasif sebesar US$ 3,7 miliar. Jika memperhitungkan mandat investasi aktif, total arus keluar dari kedua negara tersebut berpotensi bertambah hingga US$ 15 miliar.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi ancaman penurunan status dari MSCI. Pasar saham Turki juga merosot setelah lembaga tersebut memperingatkan kemungkinan penurunan klasifikasi dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier apabila tidak ada kemajuan yang memadai hingga pertengahan 2027.

Indeks saham Turki turun 3,3% ke level terendah sejak Januari dan berpotensi mencatatkan penurunan mingguan kelima berturut-turut. MSCI turut membekukan sejumlah perubahan pada indeks saham Turki karena persoalan transparansi dan praktik perdagangan.
Zin Bekkali, CEO perusahaan pengelola aset Silk Invest, mengatakan sentimen pasar Turki akan sulit pulih sebelum persoalan yang diidentifikasi MSCI ditangani.

Di tengah tekanan tersebut, saham-saham negara berkembang secara keseluruhan masih bergerak positif pada Jumat. Indeks saham pasar berkembang MSCI naik 0,7%, meskipun berpotensi mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak Maret akibat tekanan saham Korea Selatan dan Taiwan di tengah kekhawatiran terkait pembiayaan utang dan persaingan industri kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Jelang Evaluasi MSCI November 2026, Ini Rekomendasi Analis untuk Para Investor Ritel

Bagi Indonesia, usulan MSCI menjadi risiko tambahan bagi pasar saham yang telah mengalami tekanan tajam. Ketidakpastian mengenai status indeks dan potensi keluarnya dana asing kini menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×