Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Dari sisi global, salah satu faktor penekan berasal dari memanasnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Greenland, serta ancaman pengenaan tarif impor terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencana tersebut.
Kendati begitu, sentimen ini dinilai sudah mulai mereda saat ini.
“Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, investor cenderung bersikap wait and see dan mengalihkan dana ke aset berisiko rendah, seperti emas. Ini turut mendorong harga emas dunia menguat hingga mencetak rekor tertinggi baru (all time high),” kata Herditya kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Baca Juga: IHSG Anjlok: Waspada, Investor Asing Catat Net Sell Rp1,9 Triliun!
Selain itu, sentimen negatif juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan pada rupiah dipicu kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal Indonesia yang mendekati 3%.
Di sisi lain, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) masih menjadi perhatian investor, terutama terkait arah pelonggaran kebijakan ke depan serta rencana pergantian Gubernur The Fed.
Tak kalah penting, koreksi pada saham-saham konglomerasi juga turut membebani IHSG. Koreksi ini dipicu oleh antisipasi perubahan metodologi MSCI yang dikhawatirkan dapat memicu arus keluar dana asing atau outflow dari pasar saham domestik.
Selanjutnya: Likuiditas Meningkat Dpicu Faktor Musiman, Uang Beredar Desember 2025 Tumbuh Tinggi
Menarik Dibaca: 6 Jenis Vitamin dan Suplemen yang Bagus Dikonsumsi untuk Kesehatan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













