Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah kondisi pasar yang rentan terhadap gejolak, indeks saham sektor barang material (IDX Basic Materials) masih mampu mencatat kinerja positif.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektor barang material mencatat pertumbuhan 4,75% sejak awal tahun atau year to date (ytd) ke level 2.155,925 hingga Kamis (9/4/2026).
Praktis, IDX Basic Materials menjadi satu-satunya indeks sektoral yang mencatat kinerja positif sejak awal tahun.
Investment Analyst Infovesta, Utama Ekky Topan, mengatakan, kinerja indeks barang material cukup tahan banting dibandingkan sektor lain lantaran sentimen yang menekan pasar akhir-akhir ini, terutama terkait konflik geopolitik Timur Tengah, justru cenderung menguntungkan saham-saham barang material.
Baca Juga: IDX Basic Materials Melonjak di Awal 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Hal yang terlihat jelas adalah komoditas emas yang kembali dicari sebagai aset safe haven, meski belakangan ini harganya cenderung koreksi.
Tak hanya emas, komoditas bahan baku lain seperti nikel dan timah juga ikut diuntungkan oleh konflik geopolitik, baik karena faktor harga komoditas, pengetatan pasokan, maupun karena banyaknya emiten di sektor yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS sehingga relatif lebih kuat saat pasar sedang tertekan.
"Sektor ini outperform bukan semata teknikal, tetapi memang karena sektor barang material masih punya katalis komoditas yang lebih jelas dibanding sektor lain," ujar dia, Kamis (9/4/2026).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kinerja positif IDX Basic Materials ditopang oleh tiga faktor.
Pertama, lonjakan harga emas yang sempat menembus level US$ 5.000 per ons troi mampu mendorong performa saham emiten terkait emas seperti ANTM, ARCI, dan BRMS sebelum harga komoditas tersebut balik ke kisaran US$ 4.700 per ons troi.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Kamis (5/2)
Kedua, kenaikan harga nikel ke kisaran US$ 18.000 per ton juga menjadi katalis bagi saham-saham terkait nikel penghuni IDX Basic Materials. Kenaikan tersebut menandakan permintaan baterai kendaraan listrik yang tetap kuat.
"Selain komoditas logam, minat beli asing yang masih terjaga di saham berbasis komoditas turut menjadi penopang penting di tengah keluarnya dana asing dari sektor lain," kata dia.
Ketiga, sektor barang material juga diuntungkan oleh sifat defensif sebagai aset safe haven di tengah gejolak geopolitik, di mana emas dan logam mulia menjadi pilihan utama investor yang menghindari risiko.
Menurut Abida, IDX Basic Materials berpotensi tetap menjadi indeks sektoral unggulan selama harga komoditas global bertahan di level menguntungkan dan kebijakan hilirisasi mineral terus berjalan.
Namun, sebagian saham di sektor ini sudah mengalami ekspansi multiple sehingga risiko koreksi teknikal perlu diwaspadai.
Selain itu, potensi rotasi sektoral masih bisa terjadi jika gencatan senjata AS-Iran berlanjut dan harga minyak turun lebih dalam, sehingga akan menggeser minat investor ke sektor yang lebih sensitif siklus ekonomi.
"Katalis tambahan bagi sektor ini adalah pelemahan dolar AS dan stimulus ekonomi China yang mendorong permintaan logam industri," tutur dia.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, Cermati Saham Rekomendasi Analis untuk Selasa (3/2)
Ekky memperkirakan, dalam jangka pendek indeks barang material masih punya peluang pertumbuhan yang relatif kuat, meski kemungkinan tidak akan sekencang seperti awal tahun.
Selama pasar masih menantikan arah geopolitik, harga energi, dan pergerakan dolar AS, saham-saham barang material dipercaya masih berpotensi menjadi tempat parkir dana karena punya katalis komoditas yang lebih jelas dibanding banyak sektor lain.
Sebaliknya, untuk jangka menengah, sektor barang material akan sangat dipengaruhi oleh rotasi sektoral.
Artinya, jika sentimen global membaik dan investor mulai kembali masuk ke sektor pertumbuhan (growth), penguatan indeks barang material bisa mulai lebih selektif.
"Menurut saya sektor ini masih menarik, tetapi driver ke depan akan lebih spesifik ke masing-masing komoditas dan emitennya," tukas Ekky.













