kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.938
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Hati-hati skema haram asing merambah Indonesia


Jumat, 06 Juni 2014 / 19:18 WIB


Jakarta. AMasyarakat Indonesia seolah tidak pernah kapok. Meski sudah banyak yang menjadi korbanmoney game, nyatanya skema haram ini masih tumbuh subur.

Pelaku utamanya bukan cuma bangsa sendiri. Tak sedikit yang didirikan warga negara asing dan dikendalikan dari luar negeri. Anda mungkin masih ingat Virgin Gold Mining Corporation (VGMC) yang menawarkan convertible preferred stocks (CPS) senilai US$ 3 miliar hingga US$ 5 miliar di Indonesia sejak tahun 2011. Atau, Eastcape Mining Corporation (ECMC) yang berkedok investasi saham perusahaan sebelum initial public offering (IPO).

Baik VGMC dan ECMC, yang dikendalikan dari luar negeri, sukses membawa lari triliunan rupiah dana masyarakat. Lantaran memang tak pernah ada tindakan hukum yang bisa mencegah, praktik haram seperti ini tumbuh subur. Bak pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Dua di antaranya yang kini sedang naik daun adalah Mavrodi Mondial Moneybox (MMM) yang dibikin dan dikendalikan warga negara Rusia, Sergey Mavrodi. Aktivitas MMM pernah membuat Mavrodi dipenjara di Rusia. Sementara, di India, MMM pernah hancur. “Di India, banyak partisipan yang curang,” kata Robertus Julyanto, Manajer MMM Indonesia, yang paling tinggi posisinya di piramida MMM.

Satu lagi Index Golden Bird yang berpusat di Singapura dan diotaki warga negara Singapura dan Malaysia. Berikut pemaparannya.

MMM

Di Indonesia, MMM pertama kali diperkenalkan oleh sejumlah warga negara Rusia sejak Juli 2012. Namun, mereka tidak banyak bergerak karena khawatir MMM akan dianggap menggalang dana dan menipu masyarakat. Selain itu, sistem MMM yang dijalankan dalam bahasa Rusia membuat skema ini pada awalnya tidak berkembang di Indonesia.

Pada Oktober 2012, Robertus Julyanto bertemu dengan Leader MMM Ukraina bernama Stanislav Boyko, yang fasih berbahasa Inggris. Singkat kata, November 2012, Robertus mulai bergerak mencari orang yang mau bergabung dengan MMM. Pada 26 Januari 2013, MMM Indonesia mulai beroperasi dengan 50 partisipan. “Saat ini jumlah partisipan MMM di bawah saya ada 685.000 akun,” kata Robertus, yang ditemui di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Senayan, Jakarta, 28 Mei 2014.

Selain Robertus, ada beberapa orang Indonesia lagi yang mengembangkan MMM dengan mencantel Leader MMM dari negara lain. Dengan jumlah kaki 685.000 akun, Robertus menjadi Manajer MMM yang paling besar. Pasalnya, di Indonesia, hanya ada kurang dari satu juta akun di MMM.

Angka 685.000 ini tidak menggambarkan jumlah orang Indonesia yang menjadi partisipan MMM. Sebab, siapa pun bisa memiliki lebih dari satu akun karena untuk bergabung ke MMM cukup menggunakan nomor ponsel, alamat e-mail, dan nomor rekening bank. “Tapi, kalau ketahuan ada yang punya lebih dari satu, akunnya kami blok,” ujar Robertus.

MMM, kata Robertus, bukan sebuah perusahaan tapi komunitas. Lelaki paruh baya yang pernah menjadi petinggi salah satu bank swasta yang dilikuidasi tahun 1998 itu bilang, MMM tidak mengumpulkan dana masyarakat. Uang partisipan tetap ada di rekening mereka masingmasing. MMM cuma membantu para partisipan tersebut untuk membantu partisipan lain yang membutuhkan uang.

Namun, agar menarik minat masyarakat, disertai dengan bonus yang cukup menggiurkan. Teknisnya, setelah melakukan pendaftaran di situs resmi MMM, partisipan harus menyodorkan bantuan uang senilai Rp 100.000 hingga maksimal Rp 10 juta. Di MMM, menyodorkan bantuan dana ini dikenal dengan istilah Provide Help (PH).

Setelah bantuan tersebut sukses dikirim kepada partisipan lain, dalam tempo sekitar sebulan atau 40 hari, partisipan tersebut bisa giliran minta dibantu oleh partisipan lain. Istilah yang digunakan untuk meminta giliran dibantu ini adalah Get Help (GH).

Nah, nilai GH yang bisa diminta sebesar nilai PH yang sebelumnya diberikan ditambah 30% dari nilai PH tersebut. “Untuk bisa Get Help, semua partisipan harus Provide Help lebih dulu,” kata Robertus.

Untuk memfasilitasi transaksi dana antar partisipan, Mavrodi membuat situs resmi yang hanya bisa diakses oleh orang yang sudah didaftarkan sebagai partisipan. Situs ini dikendalikan tim Mavrodi di Rusia. Mereka juga yang membuat sistem yang menyampaikan informasi kepada siapa partisipan yang sudah memasang status Provide Help bisa mengirimkan dananya lewat email atau SMS. Penerima dananya bisa siapa saja dan sebagian tidak dikenal oleh si pengirim dana. “Semua diatur sistem, tidak bisa secara manual,” kata Robertus.

Bagi partisipan yang berhasil merekrut orang lain untuk bergabung di MMM diberikan bonus referral 10% dari jumlah Provide Help yang diberikan oleh orang yang direkrut tersebut. Bonus referral ini bisa diperoleh maksimal empat kali. Jika ingin kembali mendapatkan bonus referral, orang yang direkrut tadi harus kembali melakukan Provide Help lebih besar dari sebelumnya.

Nah, jika orang yang direkrut tadi mengajak orang lain untuk bergabung di MMM maka ia juga bisa mendapatkan bonus referral 10%. Orang yang ada di level atas juga akan menikmati bonus referral dengan besaran beragam, mulai dari 5% per Provide Help hingga 0,1% per Provide Help. Semakin tinggi level seseorang dalam piramida MMM, makin kecil persentase bonus referral yang diterima, yakni hingga minimal 0,1%.

MMM memiliki level berjenjang, mulai dari partisipan, Manajer 10 (bonus referral 5% dari nilai Provide Help kaki di bawahnya), Manajer 100 (3%), Manajer 1.000 (1%), Manajer 100.000 (0,25%), Manajer 100.000, hingga Manajer 1 juta.
Di Indonesia, puncak tertinggi MMM baru mencapai level Manajer 100.000. Artinya, kaki yang dimiliki antara 100.000 sampai di bawah 1 juta. Orang yang menjadi Manajer 1 juta di MMM, ya, pendirinya, Sergey Mavrodi.

MMM, seperti pengakuan Robertus, bukanlah perusahaan investasi. Tidak pula menjual produk yang menghasilkan keuntungan. “Sumber dana bonus berasal dari PH partisipan lain. Jadi jika seseorang mengajukan GH nantinya yang akan memberikan PH tidak hanya 1 orang saja. Bisa dari 2 PH atau lebih,” jelas Robertus.

Lukas Setia Atmaja, pengajar di Prasetiya Mulya Business School, yakin praktik yang dilakukan MMM adalah money game dan menggunakan skema piramida. “Kalau untuk sosial, ngasih Rp 1 juta, ikhlaskan saja. Tidak perlu mengharapkan pamrih,” tandas dia.

Index Golden Bird

Index Golden Bird disebut sebagai unit bisnis Golden Bird Group yang berpusat di Singapura. Aktivitas bisnis Index Golden Bird adalah mencari dana untuk modal usaha induk usahanya. Caranya, dengan menawarkan saham pra-IPO Golden Bird Groupkepada investor dari berbagai negara, seperti Singapura, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Taiwan.

Berdasarkan keterangan investor dan situs resmi Golden Bird Group, kelompok usaha ini memiliki berbagai jenis usaha. Beberapa di antaranya, lewat GB Gold Pte Ltd, mereka mengaku berbisnis emas batangan antarnegara. Melalui GoldenBIRD Pte Ltd, mereka mengaku bermain di bisnis sarang burung walet dari hulu hingga hilir. Sementara, melalui GG Ideas Marketing Sdn Bhd, perusahaan ini mengklaim memiliki proyek bernama KT.60, bisnis hiburan dan ecopark di Kota Tinggi Johor, Malaysia.

Duit yang dikumpulkan dari para investor ini lantas digunakan sebagai modal usaha unit-unit bisnis ini. “Index Golden Bird sebagai bagian dari Golden Bird Group menawarkan saham perusahaan untuk membiayai proyek-proyek perusahaan,” kata Awang, tim Marketing Index Golden Bird yang beroperasi di Surabaya.

Yang ditawarkan kepada investor adalah saham pra-IPO sebanyak 200 juta saham. Pada saat mulai ditawarkan 1 Februari 2012, setiap unit saham pra-IPO Golden Bird ditawarkan US$ 0,5. Setiap enam hari sekali dilakukan penyesuaian harga. Terakhir, untuk periode 26 Mei 2014–1 Juni 2014, satu saham pra-IPO Golden Bird dijajakan US$ 0,97.

Agar memikat, Golden Bird mengklaim, pada saat IPO dilangsungkan tahun 2017, atau lima tahun setelah saham pra-IPO ditawarkan, nilai per lembar sahamnya berpotensi menjadi US$ 5. Agar meyakinkan, Golden Bird dan para marketingnya menyebut, valuasi tersebut didasarkan pada hasil perhitungan yang dilakukan Ernst & Young.

Anehnya, hingga saat ini, IGB belum menentukan akan listing di bursa mana. Alasannya, mereka masih memperhitungkan bursa yang paling menguntungkan. “Yang jelas kami menargetkan akan IPO di China,” kata Awang Iming-imingnya tak cukup sampai di situ. Investor pembeli saham pra-IPO juga dirayu dengan dividen yang dibagikan saban bulan. Nilainya naik turun, antara US$ 3 sen per saham hingga US$ 5 sen per saham. Untuk Mei 2014, dividen yang dibagikan US$ 3,4 sen per saham.

Cukup? Ternyata tidak. Agar lebih masif, Golden Bird menggunakan skema member get member. Bagi investor yang dapat menjaring investor baru, bakal mendapat upah 10% dari total investasi yang ditanamkan investor baru. Tak heran jika banyak investor yang beralih menjadi marketing lalu mendirikan kantor pemasaran di berbagai kota, seperti Surabaya dan Makassar.

Berdasarkan informasi di situs Golden Bird, kantor perwakilan mereka di Indonesia berlokasi di APL Tower, Central Park, Jakarta Barat. Nama perusahaan yang menjadi perwakilan resmi mereka adalah PT Burung Mas Indonesia.

Namun, ruang kantor di unit 8 lantai 23 APL Tower itu kini sepi tak berpenghuni. Dari luar, lewat dinding kaca yang transparan, samar-samar masih terlihat meja resepsionis dan ruang pertemuan yang masih dilengkapi meja dan kursi. “Sudah sekitar sebulan pindah, enggak tahu ke mana,” kata seorang karyawan perusahaan lain yang juga berkantor di lantai 23.

Beberapa karyawan perusahaan lain yang berkantor di lantai tersebut mengaku tidak tahu persis bisnis yang dilakoni perusahaan tersebut. “Kantornya enggak kayak kantor lain. Kadang hari ini buka, besoknya tutup. Kadang pagi tutup, bukanya baru siang,” kata salah seorang karyawan perusahaan lain yang dijumpai KONTAN 28 Mei 2014.

Nyatanya, beberapa investor Golden Bird juga mengaku tidak tahu siapa saja yang menjadi manajemen di Burung Mas. Selama ini mereka berhubungan dengan leader yang ada di Indonesia. Para leader ini pun bertindak sebagai marketing tidak resmi yang tidak mengetahui persis soal Burung Mas Indonesia.

Lukas menyarankan masyarakat agar ekstra hati-hati dalam menyikapi tawaran Golden Bird. Identitas dan bisnis yang dijalankan perusahaan harus benar-benar teruji dan bisa dibuktikan. “Tidak ada model pra-IPO sampai lima tahun. Kalau di Indonesia, proses IPO setelah ada izin dari OJK tidak lebih dari 6 bulan–12 bulan,” kata dia.

Kejanggalan berikutnya, sama seperti MMM, yakni skema member get member dengan iming-iming bonus sekian persen dari total dana investor yang masuk. Sumber dana bonus yang dibagikan, ya, dari duit yang disetorkan investor sendiri.

Satgas Waspada Investasi sudah menerima laporan tentang investasi IGB, paling tidak sejak Juli tahun lalu. Namun nyatanya, sampai saat ini, Satgas yang beranggotakan berbagai instansi terkait lebih memilih menjadi penonton dan menunggu laporan dari masyarakat yang dirugikan.

***Sumber : KONTAN MINGGUAN 36 - XVIII, 2014 Laporan Utama


Reporter: Tedy Gumilar, Agung Jatmiko, Surtan PH Siahaan, Petrus Dabu
Editor: Imanuel Alexander
Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0010 || diagnostic_api_kanan = 0.1055 || diagnostic_web = 0.5267

Close [X]
×