Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik bersenjata di Timur Tengah berdampak signifikan bagi kelangsungan usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Hal ini tercermin dari pergerakan harga saham emiten produsen petrokimia tersebut pada perdagangan Rabu (4/3/2026).
Mengutip RTI, harga saham TPIA terpantau anjlok 6,87% ke level Rp 5.425 per saham pada Rabu (4/3) pukul 10.44 WIB.
Pada saat yang sama, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 0,24% ke level US$ 74,74 per barel. Dalam sepekan terakhir, harga minyak WTI telah melesat 15,53%.
Baca Juga: Cek Prospek TPIA Usai Danantara & INA Jadi Investor Strategis di Proyek CA-EDC
Sebelumnya, TPIA menyatakan force majeure atau keadaan kahar atas seluruh kontraknya menyusul gangguan pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.
Dilansir dari Reuters pada 3 Maret 2026, TPIA menyebut situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz telah mengganggu aktivitas transportasi laut secara signifikan, sehingga berdampak material terhadap pengiriman dan penerimaan pasokan feedstock.
"Hal ini terutama disebabkan oleh situasi keamanan di dan sekitar Selat Hormuz yang telah mengakibatkan gangguan signifikan terhadap aktivitas transportasi maritim dan secara material mengganggu pengiriman pasokan bahan baku kami,” demikian pernyataan perusahaan.
Baca Juga: Proyek Pabrik CA-EDC Chandra Asri Pacific (TPIA) Telah Mencapai Progres 50%
Asal tahu saja, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan di kawasan tersebut berisiko memicu keterlambatan pasokan nafta dan bahan baku petrokimia lainnya yang menjadi komponen utama produksi
Deklarasi force majeure umumnya dilakukan perusahaan ketika terjadi kondisi di luar kendali yang menghambat pemenuhan kewajiban kontraktual. Langkah ini memungkinkan perusahaan menunda atau membatalkan pengiriman tanpa dikenakan penalti sesuai ketentuan kontrak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













