Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga logam mulia, khususnya perak, mengalami tekanan dalam sepekan terakhir di tengah tensi geopolitik global yang belum mereda.
Melansir Trading Economics pada Jumat (20/3/2026) pukul 11.45 WIB harga perak berada di level US$ 73,76 per ons troi atau terkoreksi hingga 8,36% dalam sepekan.
Kondisi ini memicu pertanyaan pelaku pasar terkait arah pergerakan selanjutnya.
Analis komoditas dan founder Traderindo Wahyu Laksono menjelaskan, pelemahan harga perak dalam jangka pendek lebih disebabkan oleh faktor teknikal, seperti aksi ambil untung (profit taking), setelah sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.
Di balik koreksi tersebut, Wahyu menilai fundamental perak masih cukup kuat. Salah satu pendorong utamanya adalah kondisi defisit pasokan struktural yang telah berlangsung selama lima tahun berturut-turut. Persediaan fisik perak di bursa utama seperti COMEX bahkan dilaporkan telah menyusut lebih dari 70% sejak 2020.
Baca Juga: Pendapatan Raharja Energi Cepu (RATU) Turun 14,6% Sepanjang 2025
“Ini menciptakan kondisi kelangkaan fisik yang nyata di pasar," ujarnya kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).
Selain itu, permintaan dari sektor industri juga menjadi katalis penting. Penggunaan perak dalam industri energi hijau seperti panel surya (fotovoltaik), kendaraan listrik, hingga infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terus meningkat dan memberikan dukungan fundamental yang tidak dimiliki emas dalam skala yang sama.
Dari sisi makro, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat serta kekhawatiran inflasi jangka panjang akibat tingginya harga energi, dengan harga minyak yang masih bertahan di atas US$ 100 per barel, turut mendorong minat investor terhadap aset safe haven, termasuk logam mulia.
Wahyu menilai meski tren harga perak sedang bearish, reli harga logam mulia yang sempat didorong oleh konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, belum sepenuhnya berakhir.
Ia menegaskan bahwa tren kenaikan perak lebih mencerminkan siklus bullish jangka panjang, bukan sekadar lonjakan sesaat.
“Perak baru saja menembus zona resistensi psikologis penting, yang biasanya membuka peluang terjadinya price discovery atau pencarian level harga tinggi baru,” jelasnya.
Meski demikian, Wahyu mengingatkan bahwa volatilitas harga masih akan tinggi. Isu geopolitik, khususnya terkait Iran, berpotensi memicu koreksi jangka pendek sewaktu-waktu.
Untuk prospek ke depan, pada semester I 2026 Wahyu memperkirakan harga emas akan bergerak lebih dinamis dengan kisaran US$ 60 hingga US$ 100 per ons troi, terutama jika ketegangan geopolitik Iran masih berlanjut.
Namun, jika terjadi de-eskalasi konflik, peluang penguatan harga perak justru semakin terbuka, bahkan berpotensi menguji rekor baru di level US$ 120 hingga US$ 130 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas Spot Anjlok Lebih dari 4%, Tren Penurunan Masih Akan Berlanjut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













