kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Harga Nikel Melemah, Simak Rekomendasi Saham Trimegah Bangun Persada (NCKL)


Selasa, 19 Agustus 2025 / 17:10 WIB
Diperbarui Selasa, 19 Agustus 2025 / 17:13 WIB
Harga Nikel Melemah, Simak Rekomendasi Saham Trimegah Bangun Persada (NCKL)
ILUSTRASI. Fasilitas pengolahan nikel milik Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatatkan pendapatan Rp 14,10 triliun pada semester I-2025, tumbuh 10,16%.


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

Bersama dengan konsesi tambang Gane Tambang Sentosa (GTS) yang ditargetkan mulai berproduksi akhir tahun ini, NCKL akan memasuki fase pergeseran dari fokus konstruksi ke realisasi nilai berbasis volume dalam 12–18 bulan ke depan.

Untuk semester II-2025, analis OCBC Sekuritas, Devi Praharsa, memperkirakan kinerja NCKL akan terbantu oleh share of net profit dari anak usaha dan joint venture, serta efisiensi biaya produksi. Namun, tantangan yang dihadapi tetap terkait kondisi oversupply.

“Untuk semester II-2025, yang dicermati yakni supply/demand juga raw materials seperti sulfur untuk MHP,” kata Devi kepada Kontan, Selasa (19/8).

Baca Juga: Prospek Trimegah Bangun Persada (NCKL) Kinclong, Analis Pasang Rekomendasi Beli

Samuel Sekuritas memproyeksikan pendapatan dan laba bersih Harita Nickel sepanjang 2025 masing-masing Rp 27,44 triliun dan Rp 7,34 triliun. Baik Juan, Wafi, maupun Devi kompak merekomendasikan beli saham NCKL dengan target harga Rp 1.300, Rp 1.150, dan Rp 1.250 per saham.

Rekomendasi ini didukung oleh strategi NCKL dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi skala, kendali biaya, dan disiplin operasi. Meski volatilitas harga nikel dan tekanan biaya input masih menjadi risiko utama, inisiatif efisiensi berkelanjutan, operasi terintegrasi, serta bauran produk strategis dipandang mampu menjadi penyangga kuat.

Risiko lain yang tetap perlu diantisipasi adalah harga nikel yang lebih lemah dari perkiraan akibat melemahnya permintaan dari Tiongkok maupun potensi perubahan regulasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×