Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis bullion banking semakin menjadi penopang kinerja PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). Kontribusi dari Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) telah menjadi bagian besar dari pendapatan HRTA pada kuartal II-2026.
Pada kuartal II-2026, HRTA membukukan pendapatan Rp 13,6 triliun, tumbuh 65,2% secara tahunan. Laba bersih mencapai Rp 267 miliar atau meningkat 33,9% YoY.
Pertumbuhan terutama berasal dari segmen wholesale yang mencatatkan pendapatan Rp 11,9 triliun, melonjak 82,5% YoY. Sementara itu, pendapatan segmen retail mencapai Rp 1,6 triliun atau turun 2,1% YoY.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Meroket, Analis Ungkap Risikonya bagi Indonesia
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan kontribusi Pegadaian dan BSI yang masing-masing mencapai Rp8,4 triliun dan Rp3,3 triliun pada kuartal II-2026 menunjukkan bahwa bullion banking sudah menjadi sumber pendapatan yang material bagi HRTA.
"Ini bukan lagi sekadar narasi, tetapi sudah menjadi sumber pendapatan yang material bagi HRTA," kata Wafi kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Menurut Wafi, perubahan struktur bisnis tersebut menjadi sentimen positif bagi HRTA karena bullion banking memberikan saluran permintaan yang lebih berulang dan relatif lebih terprediksi dibandingkan bisnis perhiasan ritel yang cenderung bersifat musiman.
"Peralihan ini positif karena bullion banking memberikan kanal permintaan yang lebih berulang dan lebih dapat diprediksi dibandingkan bisnis perhiasan ritel yang cenderung musiman," ujar Wafi.
Analis Ajaib Sekuritas Asia, Alvin Timothy Murthi menyebut kemitraan dengan Pegadaian dan BSI menjadi faktor penting dalam pertumbuhan bisnis HRTA. Permintaan emas BSI juga tetap kuat setelah bisnis emasnya diperluas.
Namun, pertumbuhan tersebut mulai dibayangi normalisasi harga emas. Alvin mencatat rata-rata harga emas pada kuartal II-2026 sebesar US$ 4.543 per ons troi, turun dari US$ 4.938 per ons troi pada kuartal I-2026.
"Normalisasi harga emas pada 2026 berpotensi membuat pertumbuhan pendapatan HRTA lebih moderat, mengingat model bisnis HRTA berada di sektor midstream," ujar Alvin dalam risetnya (12/8/2026).
Normalisasi harga juga diikuti penurunan volume penjualan. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, volume penjualan emas HRTA turun menjadi 5,17 ton pada kuartal II-2026 dari 7,83 ton pada kuartal I-2026.
Permintaan emas nasional juga turun menjadi 17 ton pada kuartal II-2026 dari 27 ton pada kuartal I-2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Christy Halim menyebut normalisasi permintaan emas pada kuartal II-2026 turut tercermin pada penurunan volume penjualan HRTA.
"Permintaan emas pada kuartal II-2026 mulai mengalami normalisasi," ujar Christy dalam risetnya (11/8/2026).
Baca Juga: Pergantian Menkeu Jadi Perhatian Market, IHSG Ditutup Melemah Tipis
Meski begitu, Christy melihat bisnis bullion banking masih memiliki ruang pertumbuhan.
"Anggota bullion bank baru dari bank konvensional berpotensi masuk pada akhir 2026, dengan kontribusi yang lebih signifikan diperkirakan mulai terlihat pada tahun depan," tulis Christy.
Sekitar 80% pendapatan wholesale HRTA saat ini berasal dari bisnis bullion banking, terutama melalui Pegadaian dan BSI. Porsi wholesale sendiri mencapai sekitar 89% dari total pendapatan HRTA pada semester I-2026.
Namun, meningkatnya kontribusi bullion banking juga membawa konsekuensi terhadap margin. Christy memperkirakan margin HRTA masih tertekan pada 2026 karena bisnis bullion banking memiliki margin yang lebih rendah. Margin diperkirakan mulai mengalami pemulihan pada 2027.
Manajemen HRTA sendiri menargetkan volume penjualan emas sebesar 25-28 ton pada 2026, dengan pertumbuhan pendapatan 40%-60% dan margin bersih sekitar 2%. Target pertumbuhan pendapatan tersebut turun dari sebelumnya 60%-80%.
Dari sisi permintaan jangka panjang, Alvin mengatakan prospek emas masih didukung akumulasi oleh bank sentral. Berdasarkan survei World Gold Council, sebanyak 89% pengelola cadangan devisa memperkirakan kepemilikan emas bank sentral akan meningkat dalam 12 bulan ke depan.
"Koreksi harga emas tidak mengubah tesis investasi jangka panjang terhadap emas secara fundamental, terutama karena akumulasi bank sentral masih menjadi penopang permintaan," ujar Alvin.
Meski begitu, pergerakan harga emas tetap menjadi salah satu risiko bagi HRTA. Harga emas yang bergerak sideways atau turun dalam waktu lama dapat memperlambat pertumbuhan pendapatan serta permintaan yang didorong oleh investasi.
Wafi juga mengingatkan risiko konsentrasi karena kontribusi HRTA saat ini banyak berasal dari Pegadaian dan BSI. Perubahan kebijakan maupun strategi kedua mitra tersebut dapat berdampak terhadap kinerja perusahaan.
"Risiko utamanya adalah konsentrasi terhadap dua mitra besar. Perubahan kebijakan atau strategi Pegadaian dan BSI bisa memberikan dampak yang material terhadap HRTA," ujar Wafi.
Di sisi lain, Wafi melihat perkembangan ekosistem bullion banking Indonesia masih memberikan peluang bagi HRTA. Masuknya bank baru serta harga emas yang tetap tinggi dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan bisnis perusahaan.
"Ekosistem bullion banking di Indonesia masih berada pada tahap awal. Masuknya mitra baru dan harga emas yang tetap tinggi dapat menjadi katalis positif bagi HRTA," ujar Wafi.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pendapatan HRTA pada 2026 mencapai Rp 66,872 triliun, tumbuh sekitar 50,1% YoY dibandingkan pendapatan 2025 sebesar Rp 44,548 triliun. Sementara itu, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 1,368 triliun, meningkat sekitar 39,8% YoY dari Rp 978 miliar pada 2025.
Rekomendasi Saham
Untuk rekomendasi saham, Christy Halim mempertahankan rekomendasi BUY untuk HRTA dengan target harga Rp 3.200 per saham.
Sementara itu, Alvin Timothy Murthi juga mempertahankan rekomendasi BUY untuk HRTA dengan target harga Rp 3.100 per saham.
Muhammad Wafi dari KISI Sekuritas turut memberikan rekomendasi BUY untuk HRTA dengan target harga Rp 3.200 per saham.
Risiko utama yang perlu diperhatikan antara lain pelemahan permintaan emas, penurunan harga emas, perkembangan regulasi bullion banking, serta keterlambatan masuknya anggota bullion bank baru. Sebaliknya, ekspansi ekosistem bullion banking dan bertambahnya mitra perbankan dapat membuka ruang pertumbuhan bagi HRTA ke depan.
Baca Juga: Jelang FOMC, Rupiah Masih Dibayangi Harga Minyak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














