kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Harga Minyak Naik Imbas Trump Ancam Kenakan Sanksi Bagi Mitra Dagang Iran


Sabtu, 22 Agustus 2026 / 07:30 WIB
Harga Minyak Naik Imbas Trump Ancam Kenakan Sanksi Bagi Mitra Dagang Iran
ILUSTRASI. Harga minyak mentah naik pada Jumat (21/8/2026) setelah Presiden Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap mitra dagang Iran. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah berjangka internasional dan AS naik pada Jumat (21/8/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap mitra dagang Iran, sehingga memicu ekspektasi pasokan yang lebih ketat dalam beberapa minggu mendatang. 

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent (patokan internasional) ditutup pada harga US$ 94,39 per barel, naik 61 sen atau 0,65%. 

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada harga US$ 87,06 per barel, naik 23 sen atau 0,26%. Patokan Brent telah naik 6,39% sementara WTI naik 5,66% minggu ini, dengan keduanya sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada sesi sebelumnya.

Baca Juga: Wall Street Naik pada Jumat Tapi Turun Dalam Sepekan, Yield US Treasury Jadi Fokus

"Sanksi adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Iran tunduk," kata John Kilduff, mitra di Again Capital. 

Iran pada hari Jumat menyatakan bahwa responsnya terhadap ancaman baru AS akan bersifat "menghancurkan" setelah Washington berjanji untuk menjatuhkan hukuman finansial terberat dalam sejarah dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.

"Dampak langsung terhadap pasokan mungkin terbatas karena ekspor Iran sudah sangat terhambat oleh blokade angkatan laut AS," kata Crispus Nyaga, analis riset di Empire FX.

"Namun, peningkatan insiden pelayaran dan tindakan balasan terhadap sanksi ekonomi dapat memperburuk situasi saat ini, di tengah kondisi lalu lintas melalui Selat Hormuz yang masih jauh di bawah tingkat normal." Namun, solusi alternatif dan sumber pasokan lain sedang ditemukan sementara akses di Selat Hormuz masih terbatas, kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

Baca Juga: TPIA Akuisisi Cycle & Carriage US$ 207 Juta, Cermati Rekomendasi Analis

"Hormuz masih menjadi masalah, tetapi bukan lagi satu-satunya isu utama," ujar Flynn dalam catatan pagi. "Jalur pipa, kapal pengangkut (shuttle), minyak serpih (shale) AS, Venezuela yang mulai pulih (meski terkendala hambatan logistik), serta UEA yang tidak terkendala—semuanya turut menambah volume pasokan."

Harga minyak naik akibat kekhawatiran mengenai berlanjutnya pembatasan pasokan dari produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Kesepakatan damai sebelumnya antara AS dan Iran berakhir pekan ini tanpa adanya upaya dari kedua belah pihak untuk memulai kembali perundingan. Penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di Tiongkok telah menurun dan harga melonjak pekan ini karena blokade AS memangkas pengiriman dari Iran, menurut sumber perdagangan, di tengah ancaman sanksi tambahan dari Washington.

Gangguan Pasokan Berlanjut

Tujuh kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis—jumlah yang hanya separuh dari angka hari sebelumnya—berdasarkan data dari layanan pelacakan kapal Kpler.

Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Saat perang mendekati bulan keenam, gangguan terhadap arus energi melalui jalur perairan tersebut masih terus terjadi.

Di tempat lain, militer Ukraina menyerang kilang minyak Rusia di kota Perm pada malam hari—lokasi yang berjarak lebih dari 1.600 km (1.000 mil) dari perbatasan Ukraina—kata Presiden Volodymyr Zelenskiy pada hari Jumat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×