CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Harga Minyak Mentah Kembali Tergelincir, Ini Penyebabnya


Kamis, 08 September 2022 / 16:00 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak mentah kembali melemah


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah di pasar dunia kembali melemah. Merujuk data Bloomberg pada pukul 15.28 WIB, harga minyak mentah WTI kontrak Oktober 2022 sebesar US$ 81,43 per barel atau turun 0,62% dari penutupan hari sebelumnya.

Sejalan, harga minyak Brent kontrak pengiriman November 2022 juga melemah 0,7% ke level US$ 87,38 per barel.

Analis DCFX Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan minyak terjadi karena produksi OPEC+ mulai normal. Di satu sisi demand dan supply sudah seimbang di kuartal III-2022.

"Tahun ini harga WTI masih berfluktuasi, setelah mencapai puncak US$ 130-an, kemudian turun ke kisaran US$ 95 dan mulai naik lagi sejak April hingga US$ 120 dan mulai turun sejak itu," kata Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (8/9).

Sementara untuk jumlah produksi minyak sudah mulai naik sejak tahun lalu. Kenaikan produksi saat ini telah menutupi semua pemangkasan 10 juta bph yang dilakukan pada April 2020.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Rebound Hampir US$ 1 Per Barel Selepas Tengah Hari Ini (8/9)

Lukman menjelaskan harga minyak yang kembali turun juga di pengaruhi oleh kekhawatiran pasar akan resesi, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan permintaan lemah dari China karena lockdown.

"Saya melihat harga minyak akan mulai berkosonsolidasi di US$ 75-US$ 85 per barel. Penurunan lebih lanjut akan di counter oleh pemangkasan produksi OPEC+," kata dia.

Tanpa intervensi dari OPEC+ dengan pemangkasan produksi yang signifikan, harga minyak masih akan terus menurun menuju kisaran US$ 75.

Menurut data IEA, permintaan minyak dunia sekarang diperkirakan sebesar 99,7 juta barel per hari pada tahun 2022 dan 101,8 juta barel per hari pada tahun 2023.

Saat ini pasokan minyak dunia mencapai titik tertinggi pasca pandemi sebesar 100,5 juta barel per hari pada bulan Juli.

"Jadi saat ini sebenarnya saat ini supply sudah lebih tinggi dari demand. Supply di Juli sudah melewati perkiraan demand rata-rata di tahun 2022," imbuhnya.

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir Jelang Pidato Powell dan Keputusan Suku Bunga ECB

Lukman mengatakan, pergerakan harga ketiga komoditas energi seperti batubara, gas alam dan minyak berkolerasi cukup basar, namun tidak sepenuhnya paralel.

"Masalah pasokan gas akan berdampak ke harga gas dan ke energi alternatif batubara hanya secara ekspetasi kenaikan, bukan demand. sedangkan pergerakan harga minyak mentah dari kebijakan kartel OPEC+," ujarnya.

Penurun harga minyak dipengaruhi oleh suplai global yang tinggi dan melebihi permintaan, ancaman resesi dan permintaan China yang masih lemah oleh lockdown.

Sementara yang mendukung kenaikan harga minyak dari krisis energi di Eropa, OPEC+ yang dapat bertindak kapan saja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×