kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.371   -228,56   -3,46%
  • KOMPAS100 843   -31,00   -3,55%
  • LQ45 635   -16,26   -2,50%
  • ISSI 228   -10,12   -4,25%
  • IDX30 361   -7,63   -2,07%
  • IDXHIDIV20 447   -8,36   -1,83%
  • IDX80 97   -3,13   -3,13%
  • IDXV30 125   -3,42   -2,67%
  • IDXQ30 117   -1,94   -1,63%

Harga Minyak Global Turun di Tengah Kemajuan Negosiasi AS-Iran


Rabu, 20 Mei 2026 / 05:09 WIB
Harga Minyak Global Turun di Tengah Kemajuan Negosiasi AS-Iran
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Pavel Mikheyev)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026), setelah pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance memunculkan harapan baru atas kemajuan negosiasi antara AS dan Iran. 

Meski turun, harga minyak masih bertahan di level tinggi karena pasar tetap dibayangi risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Vance mengatakan Washington dan Teheran telah mencapai banyak kemajuan dalam pembicaraan yang berlangsung belakangan ini. Menurut dia, kedua negara sama-sama tidak menginginkan konflik militer kembali pecah.

"Kami pikir kami telah membuat banyak kemajuan. Kami pikir Iran ingin mencapai kesepakatan," ujar Vance dalam pengarahan di Gedung Putih.

Sinyal meredanya tensi geopolitik juga datang dari Presiden AS Donald Trump. Sehari sebelumnya, Trump menyatakan telah menunda rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung Selasa. 

Baca Juga: Harga Minyak Tembus Level Tertinggi Dua Pekan Dipicu Perang Iran

Namun, ia menegaskan opsi serangan tetap terbuka jika kesepakatan gagal dicapai.

Merespons perkembangan tersebut, harga minyak Brent kontrak Juli ditutup turun 82 sen atau 0,73% ke level US$ 111,28 per barel. 

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak Juni yang berakhir Selasa turun 89 sen atau 0,82% menjadi US$107,77 per barel. Adapun kontrak WTI Juli yang lebih aktif diperdagangkan melemah 23 sen ke US$ 104,15 per barel.

Walau terkoreksi, harga minyak masih berada di dekat level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Pada Senin lalu, Brent sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 5 Mei, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 30 April.

Pelaku pasar masih mencermati risiko besar terhadap pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, praktis tertutup akibat konflik tersebut. 

Kondisi ini disebut Badan Energi Internasional (IEA) sebagai gangguan pasokan minyak terbesar di dunia saat ini.

Baca Juga: Nasdaq Terkoreksi, Saham Teknologi Tertekan Imbal Hasil dan Kenaikan Harga Minyak

Analis Again Capital John Kilduff mengatakan pasar kini berada dalam situasi yang sangat sensitif karena menunggu hasil negosiasi atau kemungkinan pecahnya kembali aksi militer.

"Kami hanya bisa menahan napas sampai ada kesepakatan atau justru serangan kembali terjadi," katanya.

Di tengah upaya diplomasi, media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah mengajukan proposal perdamaian baru kepada AS. 

Proposal itu mencakup penghentian permusuhan di seluruh kawasan termasuk Lebanon, penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Namun di sisi lain, Washington tetap memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Pemerintah AS menjatuhkan sanksi baru terhadap sebuah perusahaan penukaran valuta asing Iran dan sejumlah perusahaan yang dituding membantu transaksi perbankan Iran. 

AS juga memblokir 19 kapal yang disebut terlibat dalam pengiriman minyak dan produk petrokimia Iran ke luar negeri.

Ketidakpastian pasokan juga mulai memukul aktivitas kilang di China. Sejumlah analis dan sumber pasar menyebut kilang minyak milik negara di China memangkas kapasitas pengolahan lebih dari 1 juta barel per hari sejak perang Iran pecah. Gangguan pasokan dan lemahnya margin pengolahan menjadi penyebab utama.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Bursa Asia Melemah Dibayangi Konflik Timur Tengah

Konsultan Energy Aspects mencatat kilang China saat ini mengolah sekitar 8,4 juta barel minyak per hari pada Mei, turun dibandingkan 9,5 juta barel per hari pada Maret sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran terjadi pada akhir Februari.

Dari sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperpanjang izin pengecualian sanksi selama 30 hari agar negara-negara yang rentan energi tetap dapat membeli minyak Rusia melalui jalur laut.

Sementara itu, kilang minyak Ryazan di Rusia yang menyumbang hampir 5% kapasitas pengolahan nasional dilaporkan menghentikan operasional setelah terkena serangan drone Ukraina pekan lalu.

Di Amerika Serikat sendiri, cadangan minyak strategis terus menyusut. Data Departemen Energi AS menunjukkan sebanyak 9,9 juta barel minyak ditarik dari cadangan strategis pekan lalu, sehingga stok tersisa sekitar 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024.

Pasar kini menanti data resmi persediaan minyak mingguan AS yang akan dirilis Rabu. Analis memperkirakan stok minyak mentah AS turun sekitar 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 15 Mei.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×