Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga minyak mentah dunia masih dibayangi sentimen geopolitik dan perkembangan pasokan global. Pasar kini mencermati peluang dibukanya kembali Selat Hormuz yang berpotensi memperlancar arus perdagangan minyak dan menekan harga komoditas energi tersebut.
Mengutip Trading Economics, Kamis (13/8/2026) pukul 11.00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 82,60 per barel, turun 0,80% secara harian.
Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf mengatakan, pelemahan tersebut terjadi ketika pasar mulai menilai kembali kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak global.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki “total control” atas jalur tersebut, sementara hubungan Washington dan Teheran semakin tegang dan proses negosiasi masih menemui jalan buntu.
Baca Juga: Bayar Sebagian Utang, MBMA Bakal Terbitkan Obligasi Senilai Rp 2,34 Triliun
“Situasi tersebut membuat pasar harus menyeimbangkan risiko gangguan pasokan akibat konflik dengan kemungkinan membaiknya arus perdagangan apabila kesepakatan dapat tercapai,” ucap Alwi dalam risetnya pada Kamis (13/8/2026).
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari peningkatan pasokan minyak mentah Amerika Serikat. Alwi menyebut, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 17,4 juta barel pada pekan lalu.
Kenaikan tersebut menjadi pertumbuhan stok mingguan terbesar sejak awal 2023. Lonjakan persediaan memberikan sinyal bearish bagi pasar karena mencerminkan kondisi pasokan domestik AS yang relatif melimpah dan berpotensi membatasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Terkoreksi, Investor Perlu Cermati Area Support Ini
Perkembangan persediaan minyak AS tersebut juga menjadi perhatian pasar setelah harga minyak sebelumnya mencatat reli selama lima hari berturut-turut.
Dengan mempertimbangkan perkembangan geopolitik dan kondisi pasokan tersebut, Alwi memperkirakan pergerakan harga minyak mentah WTI masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek.
Dalam jangka pendek, Alwi memproyeksikan support harga minyak mentah WTI di level US$ 81,24 per barel dan resistance di level US$ 84,40 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
