Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026), setelah pelaku pasar melihat peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah. Harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kompak terkoreksi lebih dari 2% seiring berkurangnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Mengacu data Bloomberg, harga minyak Brent turun 2,04% menjadi US$ 86,77 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI melemah 2,25% ke US$ 80,51 per barel pada Rabu (26/8/2026) pukul 14.09 WIB.
Founder Traderindo Wahyu Laksono mengatakan, penurunan harga minyak tersebut tidak terlepas dari perubahan ekspektasi pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah.
"Koreksi serentak pada harga minyak mentah yang menekan WTI Brent mencerminkan deflasi premi risiko perang (war-risk premium deflation) secara mendadak setelah munculnya serangkaian sinyal de-eskalasi diplomatik di Timur Tengah," kata Wahyu, Rabu (26/8/2026).
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pembentukan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz. Koridor tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan lalu lintas komersial di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Baca Juga: BEI Evaluasi Indeks Papan Utama, Pengembangan & Akselerasi, Cermati Efeknya ke Emiten
Harapan terhadap penyelesaian konflik juga diperkuat oleh upaya diplomasi regional yang melibatkan Pakistan dan Qatar. Perkembangan tersebut membuat kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah mulai mereda.
Wahyu menambahkan, perubahan sentimen pasar turut memicu aksi ambil untung setelah harga minyak menguat dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar memanfaatkan perkembangan diplomatik tersebut untuk mengurangi posisi beli spekulatif, sehingga tekanan jual terhadap minyak semakin besar.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai, meredanya risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir.
"Pasar sedang membuang premi ketakutan perang yang sempat membuat harga melonjak tajam," ujar Sutopo.
Menurut Sutopo, dialog Iran dan Oman mengenai koridor maritim sementara di Selat Hormuz telah mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan. Kunjungan Panglima Militer Pakistan ke Teheran serta mediasi Qatar juga memberikan sinyal positif bahwa jalur negosiasi masih berlangsung.
Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) Tunda Bayar Bunga & Restrukturisasi Jadwal Obligasi Tahun 2024
Di luar faktor geopolitik, perhatian pelaku pasar mulai kembali tertuju pada fundamental pasar minyak setelah tekanan akibat risiko perang mereda. Dengan proses normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz yang masih berlangsung, pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan pemulihan pasokan.
Sutopo mengatakan, apabila ketegangan terus menurun dan persediaan minyak mulai kembali pulih, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut. Namun, kondisi berbeda dapat terjadi apabila konflik kembali meningkat atau proses normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz mengalami gangguan.
Dalam kondisi tersebut, premi risiko geopolitik berpeluang kembali masuk ke dalam harga minyak dan mendorong kenaikan harga.
Dengan demikian, perkembangan diplomasi di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga minyak dunia dalam beberapa waktu mendatang. Pasar akan mencermati apakah koreksi harga saat ini hanya merupakan penyesuaian sementara atau menjadi awal dari pelemahan yang lebih panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














